Pilu Sang Pahlawan Medis: Perang Melawan Covid-19 dan Jenazah Ditolak

Pilu Sang Pahlawan Medis: Perang Melawan Covid-19 dan Jenazah Ditolak

Rakyat dibiarkan berjuang sendiri melawan pandemi demi bertahan hidup hingga mereka dipaksa mematikan rasa kemanusiaan untuk tetap bertahan hidup.


Oleh: Chusnul Septiani, A.Md (Pengajar STP Khoiru Ummah Semarang)

POJOKOPINI.COM — Humas Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan mengatakan, bahwa satu pasien sedianya bakal dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Siwarak, lingkungan Sewakul, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang sesuai dengan permintaan pihak keluarga. Namun proses pemakaman harus dialihkan karena ada penolakan dari sekelompok warga setempat, sebelum jenazah tiba di TPU Siwarak (AyoSemarang—jaringan Suara.com, 10/4/2020).

Ironi ketika mereka masih sehat seluruh potensi mereka dituntut untuk melakukan pelayanan namun ketika mereka menjadi korban terinfeksi, masyarakat menolak jenazahnya sekalipun. Lalu dimana rasa berterimakasih, rasa kemanusiaan yang ditanamkan para pancasialis sejak dulu?

Pandemi yang terus meluas sehingga meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi terus bertambah dan membuat tenaga medis harus bertaruh nyawa dalam melaksanakan tugasnya di garda terdepan melawan pandemi, tanpa memandang siapa saja yang terjangkit karena sebagai bentuk tanggung jawab profesi. Hingga rumah sakit pun kini menjadi medan perang bagi mereka.

Agaknya saat ini tenaga medis sudah mengalami kelelahan karena jumlah pasien lebih banyak dari kapasitas rumah sakit. Kesediaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan sangat minim. Mereka harus bertarung digarda terdepan tanpa perlindungan yang memadai. Karena itu mereka juga rawan terpapar oleh Covid-19.

Pada akhirnya satu persatu, tenaga medis ikut terinfeksi dan jatuh berguguran menjadi korban keganasan Covid-19. Setidaknya per 8/4/2020 terdapat 25 orang dokter telah berpulang belum lagi sejumlah tenaga kesehatan lainnya. Jelas, ini bukan sekadar pengabaian terhadap tenaga medis tetapi sudah termasuk kejahatan terhadap rakyat.

Penolakan jenazah tenaga medis di tengah perjuangan mereka melawan pandemi merupakan sebuah bukti, ironinya negeri kapitalisme yang telah merasuki sendi-sendi kekuasaan para pemimpin. Sehingga mereka lebih mementingkan kekuasaaan dan material ekonomi daripada nyawa rakyatnya. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri melawan pandemi demi bertahan hidup hingga mereka dipaksa mematikan rasa kemanusiaan untuk teteap bertahan hidup.

Karena itu, wabah Covid-19 ini makin menyadarkan kita bahwa kita butuh pemimpin Muslim yang bertakwa. Tentu yang menerapkan syariah Islam. Pemimpin yang senantiasa memperhatikan urusan dan kemashlahatan rakyatnya. Sebab, dia takut kelak pada hari kiamat rakyatnya menuntut dirinya di hadapan Allah SWT atas kemashlahatan rakyat yang terabaikan. Pemimpin pun sadar harus bertanggung jawab atas semua urusan rakyatnya termasuk urusan menjaga kesehatan masyarakat.

Rasulllah SAW bersabda :
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Jadi dalam Islam, pemimpin wajib mengurus rakyat, termasuk pemeliharaan urusan kesehjatan mereka. Bahkan Islam mewajibkan negara menjamin pelayanan kesehatan untuk seluruh rakayat secara gratis.
Pemimpin juga harus menyediakan semua alat kesehatan yang dibutuhkan secara memadai, termasuk APD yang sangat dibutuhkan oleh paramedis.
Pemimpin juga wajib menjamin birokrasi, protokol dan prosedur yang diperlukan berjalan. Serta mewujudkan suasana yang nyaman dan aman bagi tenaga medis sehingga mereka dapat menjalankan tugas keperawatan dan pengobatan sebaik mungkin.

Dan yang terpenting adalah, seorang pemimpin juga harus mengedukasi masyarakat tentang protokol pemakaman jenazah sehingga tidak terulang kembali adanya penolakan jenazah karena kekhawatiran masyarakat akan terinfeksi virus Covid-19 ini.

Inilah saatnya kita dan seluruh rakyat menyadari kebobrokan sistem kapitalisme dan para penguasanya yang zalim. Inilah saatnya kita seluruh rakyat kembali ke sistem Islam yang berasal dari Zat Yang Mahakuasa, Allah SWT yakni dengan menerapkan syari’ah Islam secara Kaffah.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *