Politisasi Agama, Niscaya dalam Sistem Demokrasi

Mari kita cermati bersama, perbedaan dari politisasi agam dan Islam Politik. Politisasi agama merupakan manipulasi ajaran agama dengan tujuan meraih kekuasaan. Sedangkan Islam Politik merupakan pengaturan urusan umat di dalam maupun di luar negeri berdasarkan syariat Islam.


Oleh: Reni Adelina, A.Md (Aktivis Muslimah)

POJOKOPINI.COM — Pilkada 2020 serentak akan dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia pada Desember ini. Tentu saja, masing-masing parpol menjalankan strategi agar kandidatnya maju sebagai pemimpin di negeri demokrasi ini.

Negeri demokrasi memiliki pola dalam memilih pemimpin, yakni dengan memeroleh suara rakyat sebanyak-banyaknya. Jelas, untuk memikat suara rakyat dibutuhkan strategi yang disusun secara apik oleh parpol yang memeloporinya.

Masa kampanye adalah waktu yang tepat untuk mempromosikan calon kepala daerah. Tidak sedikit kandidat yang berjuang secara maksimal untuk meraih kursi jabatan. Tak heran mahar politik meraih angka fantastis bukan lagi rahasia. Sampai-sampai membawa nama agama untuk dijadikan politisasi untuk meraup suara rakyat sebanyak-banyaknya.

Kita katakan saja, seperti Joe Biden, Presiden Amerika Serikat (AS), yang tidak lama ini bertarung dalam pemilu dengan mengutip hadis Rasulullah yang di riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebuah hadis dari Nabi Muhammad memerintahkan. “Siapa pun di antara Anda melihat kesalahan, biarkan dia mengubahnya dengan tangannya,” kata Biden mengutip dalil tersebut. “Jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika dia tidak bisa, maka dengan hatinya,” lanjut kutipan hadis Nabi Muhammad yang disampaikan Biden (Sindonews.com).

Melihat kondisi ini, tentunya tidak heran lagi bahwa agama mayoritas selalu dikambinghitamkan untuk menarik suara rakyat. Bagi seorang Muslim yang cerdas akan mengerti akan tujuan Joe Biden. Menggunakan hadis Nabi sebagai alat untuk menarik simpati suara warga muslim di AS. Pada dasarnya AS adalah negara Kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Ucapan Joe Biden tidak bisa dijadikan angin segar. Sebab pada dasarnya banyak peraturan yang disahkannya yang melanggar aturan Islam. Katakan saja LGBT yang semakin memiliki panggung di negara AS.

Melihat kondisi perpolitikan di negeri Indonesia, tidak jauh berbeda ketika musim pilkada tiba, selalu ada oknum parpol yang bersikap lebih agamis agar terlihat lebih pro rakyat Muslim.

Fenomena politisasi agama saat pilkada menjadi sorotan bagi beberapa tokoh. Salah satunya Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, TGB Muhammad Zainul Majdi, mengingatkan bahwa politisasi agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik akan berdampak buruk dan berbahaya.

Menurut saya, politisasi agama bentuk paling buruk dalam hubungan agama dan politik. Sekelompok kekuatan politik menggunakan sentimen keagamaan untuk menarik simpati kemudian memenangkan kelompoknya. Menggunakan sentimen agama dengan membuat ketakutan pada khalayak ramai. Menggunakan simbol agama untuk mendapatkan simpati,” katanya, saat webinar Moya Institute bertema “Gaduh Politisasi Agama”, Kamis (19/11).

TGB memaknai politisasi agama merupakan pemanfaatan agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik, atau agama jadi instrumen untuk mendapatkan hasil politik (Republika.co.id).

Mari kita cermati bersama, perbedaan dari politisasi agam dan Islam Politik. Politisasi agama merupakan manipulasi ajaran agama dengan tujuan meraih kekuasaan. Sedangkan Islam Politik merupakan pengaturan urusan umat di dalam maupun di luar negeri berdasarkan syariat Islam. Jelas sekali bahwa skenario politisasi agama hanya terjadi dalam sistem demokrasi. Adapun beberapa cara demokrasi menjaga eksistensinya antara lain: agama boleh ada namun tidak boleh mendominasi negara, tidak boleh membawa argumentasi dan simbol agama dalam mengatur urusan pemerintahan, perubahan atau perbaikan akan tetap dijalankan jika hanya dalam kerangka demokrasi, wajib menyepakati standar sikap yang tunduk dengan batasan perundangan, yang terakhir tidak boleh off side atau keluar dari 4 batas pilar kebebasan.

Bahwa mustahil demokrasi akan bergandengan dengan agama. Maka dari itu untuk mewujudkan politik Islam, perlu adanya upaya yang maksimal dari setiap umat Muslim. Seperti yang Allah katakan dalam Q.S Ali.Imron ayat 104 yang berbunyi, “Hendaklah ada diantara kalian segolongan umat, yang menyuruh kepada Al Khair (Islam), menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung“. Aktivitas ini disebut dengan dakwah. Maka untuk merealisasikan Islam politik dan mencampakan politisasi agama adalah dengan berdakwah.

Tahapan dakwah untuk mengantarkan pada Islam politik di antaranya dengan tahap pembinaan kader dan masyarakat, tahap interaksi dan perjuangan politik,dan tahap penyerahan kekuasaan dari umat. Jelas sekali bahwa dalam sistem Islam, politik tidak hanya berbicara tentang kekuasaan dan kursi jabatan. Namun dalam Islam, semua urusan umat di atur dengan syariat Islam. Sudah saatnya kita sadar. Bahwa sistem Islam lebih baik dari sistem demokrasi. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *