Positif Covid19 dan Kesadaran tentang Keberadaan dalam Pusaran Cinta

Kesadaran tertinggi kita sebagai hamba, apapun itu cobaan kita, yakinlah kita berada dalam genggaman Allah, lihatlah dengan kaca mata iman agar semua terlihat baik. Maka sibuklah bersyukur sampai lupa cara mengeluh, jangan sibuk mengeluh sampai lupa cara bersyukur.


Oleh: Nettyhera

POJOKOPINI.COM — Menerima kenyataan hasil swab positif covid19 memang cukup menakutkan apalagi memang beberapa hari sebelumnya aku memang menderita sesak nafas berat, bayangan virus ini sebagai momok mematikan dan ternyata bersembunyi di dalam tubuhku telah membuat bergidik..

Namun aku harus segera mengatur kendali kontrol semua kesadaran dan pemikiranku berdasarkan pemahaman islam bahwasanya ini tidak terjadi kebetulan. Allah telah menjadikan covid19 ini duta yang mendatangiku dengan pesan penting… “Aku dipilih Allah untuk menerima pesan cinta dari Allah melalui covid19 ini….”

Istighfar tak henti membasahi lisanku, “Ya Rabb jangan jadikan ini terjadi pada kami karena kemurkaanMu, Ridai kami Ya Rahman, selama Engkau ridho maka akan kujalani semua ujian ini… Mudahkanlah dan kuatkan kami menjalani ya Allah, jadikan penggugur dosa kami, pengingat hati kami yang lalai dan peningkat ketaqwaan kami. Engkau lah pemilik alam ini termasuk pemilik kami dan Engkau berhak mengatur apapun sekehendakMu kepada makhlukMu….

Suamiku dengan kondisi kesehatannya yang juga sedang diuji, ketika kusampaikan berita ini ternyata langsung bereaksi karena belum siap, langsung takut, badannya lemas dan langsung sesak nafas. Dalam salatnya bersama anak-anak mereka menangis bersama, kondisi yang jarang tampak.

Aku memutuskan segera menghubungi Posko Covid19 Kota Bogor untuk isolasi, karena di rumah tidak kondusif untuk melakukannya, terbatas untuk kontak dan khawatir meluaskan penularan kepada keluarga. Tim Dinkes cukup sigap dan menawarkan apakah mau dirujuk ke RSUD atau mau isolasi di Lido. Aku tanyakan apakah di Lido juga ada tim medis yang menangani? Jawabnya ada… Langsung aku minta isolasi saja karena membayangkan di RS hanya bisa tiduran di bangsal, tapi kalo di tempat isolasi cukup lega untuk beraktivitas… Intinya ada pengawasan dan penanganan tim medis.

Sedih berpisah dengan anak-anak serta meninggalkan suami yang butuh perawatan, tapi keinginan kuat bisa segera pulih agar bisa juga segera berkumpul kembali dengan mereka dalam keadaan sehat mengalahkan kesedihan itu.

Keyakinan kuat Allah siapkan ujian dan siapkan pula solusi terbaik untuk menjalaninya. Yakin akan banyak kejutan-kejutan cinta yang disiapkan Allah bagi kami. Karena kami sedang berada dalam pusaran cinta Allah. Bismillah.

Kejutan pertama yang ditunjukkan Allah adalah titik kesadaran akan rasa syukur yang mendalam atas banyaknya nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kami, namun ternyata belum sempat kami sebut dalam lisan kami, yaitu nikmat sehat menarik nafas. Kapan terakhir kita sadar bahwa ini adalah nikmat besar? Lah akupun baru sadar ketika Allah menahannya sebentar dengan sesak nafas ini, bukankah selama puluhan tahun dengan cintaNya aku diberikan kebebasan bernafas tanpa terhalang apapun. “Ya Allah pesan cintaMu begitu indah… Ampuni hamba tak merasakan pesan cinta selama ini….

Ketika sampai di tempat isolasi, kami mendapat sapaan dan perlakuan baik dari tenaga kesehatan di sini, dengan perlengkapan APDnya mereka sangat ramah dan bersahabat… Alhamdulillah menjadikan hati tenang, ini pun nikmat Allah dalam pusaran cinta…

Kejutan selanjutnya Allah pun dengan caraNya, mempertemukan aku dengan orang-orang hebat di sini, manusia langitan karena kesabaran mereka yang sungguh mungkin aku belum miliki. Pada ujian yang sama, cobaan mereka jauh lebih berat dari apa yang kuhadapi dan subhanallah mereka ikhlas menerimanya sebagai ketetapan terbaik dari Allah. Karena ada yang suaminya sedang anfal di RS sedangkan dirinya harus isolasi di sini, ada juga teman sekamar yang baru datang setelah kami, tampak lemas dan sesak nafas, ketika kami bercerita apakah ada anggota keluarganya yang juga positif, dengan suara lemah menjawab bahwa suaminya baru meninggal pada hari yang sama saat dia dikirim isolasi ke sini.

Aku juga sempat dialog dengan ibu yang diisolasi bersama gadis kecilnya yang selalu ceria, beliau bercerita awalnya bersama suami dan anaknya yang masih berusia 4 tahun diisolasi di sini, bermakna 2 hari suaminya mengalami sesak berat dan dirujuk, namun tidak tertolong. “Ya Allah Ya Rabb… Maha suci Engkau dengan seluruh ketetapanMu…. Sungguh ujian padaku belum seberat mereka…”

Begitu Mahabaiknya Allah, ketika ujian ini diberikan, Allah siapkan pula jalannya. Allah gerakan begitu banyak hati dan pikiran orang untuk membantu, mulai dari memberi doa kesembuhan dan support tulus, memberi jalan sehingga bisa segera mendapat pertolongan mulai dari koordinasi dengan tim kota maupun kabupaten, kesiagaan dalam pemantauan kondisi keluarga, bahkan memberikan bantuan langsung berupa kebutuhan harian di rumah untuk suami dan anak-anak… Alhamdulillah, biizdnillah semua terlihat indah.

Kutanya kepada anakku… “Nak terakhir kapan kita dikasih/diantarin orang makanan ya?

Pas puasa kali, Mi.. Kan banyak yang cari pahala memberi makan orang berbuka puasa…. Eh pas ada yang selametan kayaknya, Mi,” jawab mereka sambil mikir mungkin ada yang terbaru.

Nah sekarang, justru saat kita diisolasi, umi ngga di rumah dan kalian ngga bisa keluar sama sekali, bahkan ketika tetangga juga sampe takut dekat ke rumah kita, secara perhitungan logika koq kalian di rumah banyak yang kirim keperluan? Tercukupi kebutuhan kalian? Mulai dari beras, kebutuhan dapur, kebutuhan obat-obatan, makanan sehari-hari sampe buah-bahan dan cemilan kalian? Siapa yang menggerakkan itu semua? ” Tanyaku.

Allah..,” jawab mereka tegas

Atau biar umi isolasi aja ya ngga usah pulang, gimana? Kan kalian enak banyak makanan?” Aku iseng memancing respons anakku.

Jangaaaan, Miiii.. Umi cepat pulang dan sehat… Kami kangen umi….” Teriak mereka serempak.

Ya inilah keajaiban yang disiapkan Allah ketika kita ikhlas menjalani ketetapannya dengan keimanan. Apapun ujian Allah, kita tetap berada dalam pusaran cintaNya. Teringat doa terbaik masyarakat Syam ketika mereka ditimpa musibah dengan doa,

( ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺯﻗﻨﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﺮﺯﻕ ﺍﻟﺒﻐﺎﺙ )

“Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats.”

Kisah yang sangat bagus pernah kuceritakan kepada anakku untuk menguatkan keimanan kepada Allah. Bughats adalah anak burung gagak yang baru. menetas. Ketika sudah besar dia menjadi gagak atau disebut ghurab.

Bughats ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih.

Nah di saat induknya melihat anaknya, induknya tidak menerima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang. Lalu bagaimana ia bisa makan dan minum untuk memenuhi kebutuhannya?

Bughats berada dalam pusaran cinta Allah Sang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya. Allah menciptakan aroma tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak yang dapat mengundang datangnya serangga atau ulat ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak, lalu ia pun memakannya. Masya Allah.

Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh. Ketika itu barulah gagak mengetahui itu anaknya dan ia pun mau memberi makannya hingga tumbuh dewasa dan bisa terbang mencari makan sendiri. Secara otomatis aroma yg keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga-serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Kondisi bughats ini sama banget dengan kondisiku saat ini, Allah jadikan aku ibu bughats yang tidak bisa mengurus keluarganya, hanya dapat memantau dari jauh selama masa isolasi, namun Allah telah memenuhi kebutuhan “bughats-ku” dengan caraNya sendiri, subhanallah.

Dia-lah Allah, Ar Raziq, Yang Maha Penjamin Rezeki… Rezekimu akan mendatangimu di mana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah maka apapun yang terjadi pada diri kita niscaya adalah rencana terbaik Allah untuk kita…

Jika sehelai daun yang jatuh saja Allah mengetahui, niscaya apa yang terjadi pada kita, sungguh Allah sangat mengetahui…

۞ وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. (QS Al An’am :59)

Kesadaran tertinggi kita sebagai hamba, apapun itu cobaan kita, yakinlah kita berada dalam genggaman Allah, lihatlah dengan kaca mata iman agar semua terlihat baik. Maka sibuklah bersyukur sampai lupa cara mengeluh, jangan sibuk mengeluh sampai lupa cara bersyukur.[] Lido, 5 Desember 2020

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *