Potensi yang Hilang di Selat Malaka

Dibutuhkan perangkat dan infrastruktur yang cukup, lebih dari itu, harus ada sistem yang mampu mewujudkan bargaining power Indonesia sebagai wilayah strategis dunia dengan keberadaan Selat Malaka semata untuk kepentingan Islam dan masyarakat. Dan hal itu hanya akan terwujud dalam sistem Islam, inilah sistem yang memiliki pengaturan khas, unik dalam pengaturan selat dan mampu mewujudkan daulat negara.


Oleh : Eli Ermawati

POJOKOPINI.COM — Selat Malaka adalah sebuah selat yang terletak di antara Semenanjung Malaysia dan Pulau Sumatra, Indonesia. Selat Malaka terletak di antara 95°BT-103°BT. Dari segi ekonomi dan strategis, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez atau Terusan Panama.

Keberadaan Selat Malaka sebagai salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia tidak bisa dilepaskan dari berbagai kepentingan. Dari segi kepentingan ekonomi dan militer, Selat Malaka merupakan choke points yang sangat strategis bagi proyeksi armada angkatan laut negara-negara yang memiliki kepentingan di Kawasan Asia Pasifik. Bahkan, Selat Malaka juga dapat menjadi “alat” dalam rangka forward presence ke seluruh penjuru dunia.

Sebanyak 50.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap tahunnya, mengangkut antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia.

Selat Malaka mulai berkembang pesat sebagai salah satu urat nadi pelayaran sejak akhir abad ke-15, yaitu saat berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Peranan yang sangat menonjol dari Selat Malaka adalah sebagai tempat bertemunya berbagai saudagar yang berasal dari Persia, Arab, India, Tiongkok, dan daerah sekitar.

Jalur Penyebaran Agama

Kerajaan Malaka memiliki peranan yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Lewat jalur perdagangan, Islam disebarkan ke berbagai wilayah. Hadirnya Islam merupakan dampak positif dari ramainya transaksi dagang di Selat Malaka. Namun Islam lebih dahulu dikenal di Samudra Pasai, Aceh, sebelum sampai ke Malaka. Keberadaan Islam di Samudra Pasai merupakan dampak perkembangan penyebaran Islam dari Kerajaan Perlak. Bermula dari Kerajaan Perlak, penyebaran Islam mengalami perkembangan pesat, termasuk di Malaka.

Peranan Penting bagi Negara Kawasan

Peranan Indonesia, Malaysia dan Singapura sangat penting sebagai littoral state atas Selat Malaka dan memiliki tanggung jawab penuh atas keamanan juga pengamanannya. Meningkatnya arus perdagangan melalui jalur laut yang ternyata dibarengi dengan peningkatan kejahatan di laut, terutama piracy, menimbulkan kekhawatiran diantara negara-negara pengguna selat tersebut, yang kemudian merasa berkepentingan untuk mengamankan jalur perdagangan laut utama di dunia ini. Internasionalisasi Selat Malaka kemudian menjadi isu yang mencuat. Namun, Indonesia dan Malaysia menolak rencana tersebut karena mengganggap keamanan dan pengamanan Selat Malaka adalah tanggung jawab mereka sesuai dengan UNCLOS 1982. Akan tetapi Singapura justru bersifat lebih terbuka yaitu menerima negara lain yang berkepentingan untuk ikut serta dalam pengamanan Selat Malaka.

Selat Malaka menjadi posisi strategis bagi China, Jepang, AS dan India sangat terkait dengan kepentingan ekonomi, terutama menyangkut keamanan suplai energi ke negara-negara tersebut, yang tentu saja secara langsung berhubungan dengan kelangsungan ekonominya. 

Untuk mengembangkan proyek ini, Malaysia menggandeng Cina, namun ditentang oleh Indonesia yang memegang teguh prinsip non-intervensi dari ASEAN. Amerika Serikat juga disinyalir memiliki andil dalam konflik ini, karena dibawah Presiden Obama, Amerika berusaha melakukan pencegahan Cina yang terlihat kembali melakukan take over wilayah Asia Tenggara.

Meski memiliki sebagian besar atas wilayah Selat Malaka, namun Indonesia kehilangan potensi pendapatan puluhan triliun rupiah setiap tahunnya dari potensi ekonomi selat tersebut yang menjadi jalur pelayaran tersibuk di dunia. Hal ini disebabkan ketidakmampuan negara mendirikan usaha jasa pandu kapal, baru di tahun 2008 Indonesia mengelola bisnis tersebut, kendati demikian kapal asing lebih memilih jasa pemandu dari Singapura dan Malaysia. Pasalnya, pemandu Indonesia belum banyak yang memiliki sertifikat IMO (International Maritime Organization) sehingga diragukan keahliannya dalam memandu kapal.

Kurang dari 90 ribu kapal berbagai ukuran melintas di Selat Malaka tanpa pemanduan dari petugas Indonesia. Akibatnya, potensi pemanduan kapal diambil alih tenaga dan kapal pandu dari Singapura dan Malaysia secara illegal karena mereka memandu kapal-kapal itu melewati wilayah perairan Indonesia sehingga potensi pendapatan negara menjadi hilang.

Sudah saatnya Indonesia bersikap tegas atas aksi illegal pemandu asing di perairan Indonesia dan negara ini juga harus siap mengambil alih potensi maritim Selat Malaka yang selama ini dinikmati kapitalis global. Untuk itu, dibutuhkan perangkat dan infrastruktur yang cukup, lebih dari itu, harus ada sistem yang mampu mewujudkan bargaining power Indonesia sebagai wilayah strategis dunia dengan keberadaan Selat Malaka semata untuk kepentingan Islam dan masyarakat. Dan hal itu hanya akan terwujud dalam sistem Islam, inilah sistem yang memiliki pengaturan khas, unik dalam pengaturan selat dan mampu mewujudkan daulat negara.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *