Potret Buram Dunia Pendidikan

Dalam negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalistik neoliberal, hal seperti ini memang sangat niscaya.


Oleh: Siti (Ibu Peduli Generasi)

POJOKOPINI.COM — Potret buram dunia pendidikan kembali terekspos setelah kisah Riska, mahasiswa UNY yang wafat viral. Banyak pihak yang terhenyak, seakan baru sadar bahwa ada persoalan besar di balik dunia pendidikan. Padahal kisah seperti Riska, nyatanya tidak hanya satu dua. Kemiskinan masih saja menjadi penghalang besar bagi sebagian kalangan untuk menjangkau pendidikan. Bahkan, hingga akhirnya harus memakan korban.

Biaya yang mahal memang menjadi salah satu problem besar dunia pendidikan. Akibatnya, tidak semua kelompok masyarakat bisa mengenyam pendidikan tinggi yang diidamkan. Atas dasar inilah pemerintah menerbitkan Permendikbud No. 55/2013 yang mengatur tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal ( UKT).

Pemerintah sendiri mengeklaim bahwa penetapan sistem UKT adalah bentuk keberpihakan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah untuk dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Dengan sistem biaya tunggal ini, mahasiswa hanya dikenai kewajiban membayar SPP yang besarannya disesuaikan dengan level kondisi ekonomi yang bersangkutan. Adapun kebutuhan biaya lainnya akan ditutup oleh pemerintah melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN).

Namun, implementasi kebijakan UKT tidak semanis teorinya. Bagi sebagian pihak, biaya kuliah tetap saja mahal. Ini karena di luar SPP, ternyata masih banyak biaya yang harus dibayarkan. Selain itu, banyak pula terjadi ketidaksesuaian antara nominal UKT yang ditetapkan dengan kondisi riil ekonomi keluarga yang dilaporkan.

Terlebih ketika dunia dilanda pandemi berkepanjangan. Kondisi perekonomian masyarakat benar-benar terpuruk hingga taraf yang mengenaskan. Saat itu, banyak mahasiswa yang mengeluh, karena UKT tetap harus mereka bayar, sedangkan perekonomian keluarga mereka dalam kondisi yang tidak aman.

Muncullah gelombang penolakan di berbagai perguruan tinggi. Sampai-sampai pemerintah merasa perlu mengganti Permen tersebut dengan Permendikbud No. 25/2020 yang mengatur Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun, alih-alih menghapus aturan UKT yang memberatkan, Permendikbud pengganti ini hanya memberikan beberapa kelonggaran dalam hal pembayaran. Misalnya, dengan skema cicilan, penundaan, penurunan, pemberian beasiswa melalui Kartu Indonesia Pintar, serta pemberian bantuan infrastruktur berupa biaya pulsa.

Itu pun tidak menyelesaikan persoalan karena banyak syarat dan ketentuan yang diberlakukan. Misalnya, untuk mendapatkan penurunan UKT, disyaratkan orang tua mahasiswa harus bangkrut atau meninggal. Sedangkan sisanya berlaku hanya jika mahasiswa sudah semester akhir, sedang mengerjakan skripsi, dan yudisium.

Alhasil krisis UKT terus terjadi hingga sekarang. Banding UKT yang digadang-gadang menjadi juru selamat bagi mahasiswa yang kesulitan ekonomi nyatanya tidak mudah untuk didapatkan. Hanya sedikit ajuan kelonggaran UKT yang dikabulkan. Padahal, mereka yang ditolak adalah mahasiswa yang benar-benar mengalami kesulitan.

Dalam negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalistik neoliberal, hal seperti ini memang sangat niscaya. Kemurahan penguasa selalu harus disertai syarat dan ketentuan. Rugi laba selalu menjadi pertimbangan karena keberadaan mereka bukan untuk mengurus rakyat, melainkan hanya sebagai regulator dan pedagang. []

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.