PPDB Kisruh lagi? Bukti Kegagalan Sistem Kapitalisme dalam Pendidikan

PPDB Kisruh lagi? Bukti Kegagalan Sistem Kapitalisme dalam Pendidikan

Birokrasi sistem Islam berpegang kepada tiga prinsip: kesederhanaan aturan, kecepatan pelayanan dan profesionalitas orang yang mengurusi. Dengan prinsip ini kerumitan mendaftar sekolah sangat bisa diminimalisasi. 


Oleh: Haura Az Zahra

POJOKOPINI.COM — Lagi-lagi, proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi persoalan di tengah masyarakat. Kali ini sistem zonasi yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan menuai banyak penolakan. Salah satunya adalah protes dari orangtua siswa yang diketahui bernama Hotmar Sinaga. Hotmar marah karena anaknya yang berusia 14 tahun gagal masuk ke SMA, karena usianya terlalu muda. Hotmar menilai sistem zonasi yang diterapkan tidak sesuai dengan aturan soal jarak domisili ke sekolah yang dituju, karena lebih mementingkan kriteria usia (kompas.tv, 27/6/20).

Selain itu dikutip dari vivanews.com (28/6/20) Komisi Nasional Perlindungan Anak meminta Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta tahun ini perlu dibatalkan atau diulang. Alasannya, kebijakan batas usia yang diterapkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dinilai bertentangan dengan Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019. 

Kritik juga disampaikan oleh salah seorang anggota LBH (Lembaga Bantuan Hukum) bernama Nelson yang menyebutkan bahwa persebaran sekolah yang tidak merata dan infrastruktur yang tidak memadai juga menjadi salah satu faktor munculnya problem dalam penerapan sistem zonasi. Untuk itu, Nelson juga berharap pemerintah harus memastikan ada pemerataan kuantitas, kualitas, sarana dan prasarana hingga tenaga pengajar di sekolah-sekolah (detiknews.com, 28/6/20).

Melihat fakta ini, jelas terlihat bahwa penguasa hari ini masih menerapkan ideologi Kapitalisme yang tidak bisa menjamin kebutuhan pendidikan dalam pengurusannya. Apalagi dimasa pandemi saat ini, pelaksanaan PPDB dilakukan secara online.

Kisruh persoalan PPDB tak hanya terjadi di DKI Jakarta, tapi juga terjadi di daerah lain yang mengeluhkan banyaknya kendala. Seperti kendala teknis, kesulitan jaringan internet, persoalan akun yang tak kunjung mendapatkan verifikasi dari sekolah, maupun terkait aturan zonasi. 

Persoalan PPDB tahun ini sangat meresahkan banyak pihak terutama bagi orang tua murid,  ditambah lagi angka kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia per 4 Juli 2020, sudah mencapai 62 ribu kasus. Kondisi ini menuai banyak pertanyaan, mengapa negara seolah tak mampu memberikan pelayanan pendidikan, fasilitas mencukupi agar semua anak usia sekolah dapat merasakan sekolah yang berkualitas? Padahal pendidikan merupakan hak yang mendasar bagi individu dan masyarakat.

Berbeda dengan sistem Kapitalis. Dalam sistem Islam, negara hadir sebagai pelaksana dalam pelayanan pendidikan. Negara bertanggung jawab untuk memberikan sarana prasarana, baik gedung sekolah beserta seluruh kelengkapannya, guru kompeten, kurikulum sahih, konsep tata kelola sekolah, serta memastikan setiap warga negara dapat memenuhi kebutuhan pendidikan secara mudah dan gratis.

Dalam hal ini, birokrasi sistem Islam berpegang kepada tiga prinsip: kesederhanaan aturan, kecepatan pelayanan dan profesionalitas orang yang mengurusi. Dengan prinsip ini kerumitan mendaftar sekolah sangat bisa diminimalisasi. 

Demikianlah, sejatinya betapa mudah bersekolah dalam sistem Islam. Capaian pendidikan akan benar-benar optimal untuk membangun peradaban. Sementara, rumitnya PPDB hari ini hanya menorehkan luka karena hak pendidikan berkualitas benar-benar telah terenggut.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *