Program Sertifikasi Da’i Berubah Nama, Apa Bedanya?

Program Sertifikasi Da’i Berubah Nama, Apa Bedanya?

Proxy war / ‘nabok nyilih tangan’ (memukul umat Islam dengan meminjam tangan umat Islam) sebagai strategi AS menghancurkan Islam tentu kian dalam. Terhadap hal ini tentu umat Islam tidak akan pernah diam.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Meskipun ditentang berbagai kalangan, Kementerian Agama bersikukuh menyelenggarakan program penceramah bersertifikat. Program ini dinamai Penguatan Kompetensi Penceramah Agama dan diikuti oleh 53 ormas keagamaan dan bersifat sukarela (Republika.co.id, 18/9/2020).

Nama program tersebut diganti setelah Kemenag menerima masukan dari berbagai pihak. “Kami ingin meluruskan atau mengklarifikasi bahwa nama program ini adalah Penguatan Kompetensi Penceramah Agama,” kata Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi dalam keterangan tertulis di situs Kemenag, Jumat (18/9/2020).

Mencermati program penceramah bersertifikat yang kemudian berganti nama menjadi program penguatan kompetensi penceramah agama dapat diperhatikan hal berkut:

Pertama, perubahan nama program dari penceramah bersertifikat menjadi penguatan kompetensi penceramah, nampaknya
tetap tak dapat dipisahkan dari tujuan program ini dibuat, yaitu dimaksudkan untuk mencegah penyebaran paham radikalisme. Sebagaimana dikatakan Menteri Agama Fachrul Razi (Cnnindonesia.com, 3/9/2020).

Sedangkan radikalisme adalah istilah yang digunakan Barat untuk menunjuk Islam yang berseberangan dengan nilai-nilai Barat. Sehingga Barat membuat strategi menghadang dakwah dengan nama deradikalisasi. Deradikalisasi ini pada dasarnya adalah de-Islamisasi. Yaitu sebuah upaya menghilangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan muslim. Sehingga kaum muslimin meninggalkan Islam dan berpegang pada nilai-nilai Barat. Sebuah kehidupan yang dibangun atas pondasi sekularisme, demokrasi.

Muslim yang taat berpegang teguh pada Islam disebut radikal. Muslim yang mengemban dakwah Islam kaffah menyampaikan khilafah sebagai ajaran Islam disebut radikal.

Wajar MUI, ulama dari berbagai daerah bahkan masyarakat luas banyak yang menolak program ini. Selayaknya jangan hanya sekadar berganti nama program. Rakyat agaknya sudah jengah dengan cara seperti ini. Sertifikat bisa saja menjadi penghalang dakwah menyerukan Islam secara kaffah. Hal ini nampak dari berbagai upaya menstigma khilafah berbahaya dan mengancam. Padahal khilafah adalah ajaran Islam sebagaimana ajaran tentang shalat, puasa, muamalah, zakat dan sebagainya.

Terlebih lagi sebelumnya Menag telah mengeluarkan pernyataan tendensius yang sangat menyakiti hati umat Islam. Menag menuduh radikalisme dapat muncul dari pemuda good looking, pandai bahasa Arab dan hafidz Quran. Hingga Guru Besar UIN Sunan Ampel Prof. Dr. K.H. Ahmad Zahro, M.A. menanggapi, “Stigmatisasi radikal untuk hafiz Al-Qur’an, para penghafal Al-Qur’an itu jelas kezaliman luar biasa,” tutur beliau dalam Diskusi Online Media Umat Narasi Radikalisme Makin Ngawur, Ahad (20/9/ 2020) di kanal Youtube Media Umat.

Semua ujung pernyataan dan program Menag agaknya tak dapat dilepaskan dari program deradikalisasi. Dari semua fakta yang menunjukkan tak berlebihan jika ada yang berasumsi bahwa deradikalisasi sejatinya adalah deislamisasi. Sebuah program global untuk menghadang kebangkitan Islam. Strategi AS sebagai pengendali dunia dengan ideologi sekularisme kapitalisme global. Rezim sebagai pelaksana dan ulama, da’i/ penceramah menjadi sasaran programnya.

Kedua, rezim melaksanakan program deradikalisasi, sejatinya hanyalah kedok menutupi borok. Menutup kegagalan menyelesaikan berbagai persoalan termasuk pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi dengan menunjuk radikalisme sebagai biangnya. Sungguh penguasa ruwaibidhah cepat atau lambat pasti jatuh.

Umat Islam yang mengemban dakwah dan menyebar kebaikan justru dihadang dengan sertifikat. Padahal yang dilakukan adalah memperbaiki kerusakan dari akarnya. Mengokohkan akidah umat dengan dakwah Islam kaffah dan mengajarkan berbagai ajaran Islam sebagai solusi tuntas setiap persoalan.

Islam tak pernah menyebabkan kerusakan. Tak pernah mengajarkan korupsi, membegal, merampok, membunuh, berbohong dan berkhianat pada umat. Justru Islam mengajarkan menjadi Muslim yang tunduk dan taat pada syariat. Semuanya pasti membawa maslahat.

Tak dapat dipungkiri aura kebangkitan umat memang kian menguat. Banyak komunitas hijrah termasuk para artis. Banyak Muslim yang semakin rindu dan cinta Al-Qur’an. Gerakan membaca Al-Qur’an telah membebaskan umat buta huruf Al-Qur’an. Bukankah cinta membaca, memahami dan dorongan mengamalkan Al-Qur’an sangat menggembirakan? Karena itu semua menjadikan SDM yang mumpuni dengan pondasi aqidah Islam.

Muslim yang kuat adalah Muslim yang taat. Taat syariah pasti membawa berkah. Namun mengapa geliat kebangkitan umat ini membuat sebagian orang resah? Hingga membuat program untuk menghadang kebangkitan umat ini dengan sertifikat penceramah?

Ketiga, dalam berdakwah da’i dan penceramah tak butuh sertifikat dari penguasa. Sertifikat buatan penguasa berpotensi dimanfaatkan untuk mengendalikan da’i / penceramah. Laiknya sebuah serifikat yang dikeluarkan lembaga, tentu agar mengikuti standar lembaga itu. Seruan dakwahpun bisa jadi tak lagi utuh menyeru Islam kaffah. Karena selera penguasa menjadi tolok ukur.

Keempat, da’i /penceramah sejatinya sudah mendapatkan serifikat istimewa dari Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah QS Fussilat (41) : 33

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?

Berkenaan dengan ayat ini Imam Hasan Bashri menjelaskan orang yang menyeru manusia ke jalan Allah adalah kekasih Allah, wali Allah dan pilihan Allah subhanahu wata’ala. Pengemban dakwah adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala karena dakwah yang diserukan. Bahkan seluruh penduduk bumi termasuk ikan-ikan di dasar lautan mendoakan para mengemban dakwah. Bukankah ini istimewa? Lebih dari segalanya dan tak ada seujung kuku dibanding sertifikat dari penguasa.

Sungguh kemuliaan luar biasa berikutnya adalah mendapat predikat Ummat terbaik. Sebagaimana QS Al Imran : 110.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Demikianlah da’i dan penceramah tak butuh sertifikat. Apalagi bertujuan untuk menangkal radikalisme yang notabene program AS menghadang kebangkitan Islam. Sertifikat semacam ini lebih berfungsi sebagai pengendali. Agar da’i dalam berdahwah mengikuti arahan penguasa. Adanya sertifikat penceramah ini juga berpotensi ditunggangi kepentingan politik. Sehingga dakwah tak lagi menyeru kepada Islam kaffah, tetapi Islam moderat arahan penjajah.

Kelima, jangan sampai program penceramah bersertifikat ini hanya berganti nama. Hendaknya Menag memahami filosofi penolakan terhadap program ini. Jika hanya berganti nama, tentu hakikatnya sama. Penceramah jadi terbelah. Da’i/penceramah bersertifikat diangkat, da’i tak bersertifikat di injak. Seperti politik AS membelah umat Islam. Proxy war / ‘nabok nyilih tangan’ (memukul umat Islam dengan meminjam tangan umat Islam) sebagai strategi AS menghancurkan Islam tentu kian dalam. Terhadap hal ini tentu umat Islam tidak akan pernah diam. Umat akan terus bergerak menolak berbagai upaya memecahbelah umat dan memperkokoh persatuan umat. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *