Qadhiyyah Mashiriyyah Dan Corona Virus

Qadhiyyah Mashiriyyah Dan Corona Virus

Oleh : @LisanZamroni

WWW.POJOKOPINI.COM — Main Issue, atau isu utama, atau masalah utama.
Dalam bahasa Arab Al Qadhiyyatul Mashiiriyyah
القضية المصيرية
atau Al Qadhiyyatur Ra’iisiyyah
القضية الرئيسية.

Kita sebut saja Qadhiyyah Mashiiriyyah.

Qadhiyyah Mashiiriyyah bagi umat Islam adalah i’aadatul hukmi bimaa anzalallah
إعادة الحكم بما أنزل الله
“mengembalikan hukum sesuai dengan yang Allah turunkan”.

Mengapa? Karena, ini berkaitan dengan Kehormatan umat Islam. Dan kalau sudah menyangkut kehormatan, maka ini merupakan Perkara Besar alias Qadhiyyah Mashiiriyyah bagi umat Islam.

  • Nyawa manusia adalah kehormatan
  • Al Quds adalah kehormatan
  • Imamah adalah kehormatan
  • Alquran adalah kehormatan
  • Nabi adalah kehormatan
  • Masjid adalah kehormatan

Telah lama, kehormatan umat Islam direnggut, dinodai, dihancurkan. Dan sekian lama itu pula mereka sabar.
Sedikit saja bangkit melakukan perlawanan, stigma teroris, radikalis, dilayangkan.

  • Nyawa muslim di Palestina, Xinjiang, Myanmar, India, murah sekali rasanya. Bahkan wanita dan anak-anaknya disiksa secara tak manusiawi.
  • Alquds tempat Mi’raj Nabi, dan penduduk di negeri yang diberkahi itu, sudah ribuan kali dijagal Zionis.
  • Masjid, tempat orang menghamba, diganggu, bahkan jamaahnya dibunuhi. New Zealand, India, adalah kasus teranyar.
  • Alquran dibakar dan celupkan ke toilet.
  • Nabi dihina dan dinista.
  • Gagasan menghadirkan kembali Imamah atau Khilafah sebagai payung pemersatu sekaligus Junnah / perisai pelindung, malah dihadang di mana-mana.

Maka, satu-satunya, untuk selesai masalah itu adalah
إعادة الحكم بما أنزل الله.

Selama ini, hanya umat Islam yang merasakan getirnya hidup dalam menghadapi Qadhiyyah Mashiiriyyah. Umat lain, bangsa lain belum rasakan. Atau tak sesering yang umat Islam rasakan.

Mungkin ada yang belum terima kalau dikatakan bahwa Coronavirus adalah pembalasan dan hukuman dari Allah. Jadi kita tidak akan sebut begitu di sini.

Tapi, bahwa kepanikan, kegetiran, pemberlakuan lockdown, yang terjadi di berbagai negara, dalam menghadapi Coronavirus adalah bentuk Qadhiyyah Mashiiriyyah bagi mereka.
Lihat, betapa mengerikannya kematian bagi mereka. Betapa takutnya mereka pada kematian. Pendeknya, betapa berharganya nyawa bagi mereka.

Treatment disinfektan yang dilakukan sudah sampai batas yang menunjukkan betapa khawatirnya mereka akan Coronavirus ini.
Semua benda yang ada dirumah harus dicuci bersih, diberi disinfektan. Khawatir menyisakan virus setelah kedatangan tamu.

Telah lama umat Islam bergelut sendiri dalam duka terselesaikannya Qadhiyyah Mashiiriyyah-nya.

Coronavirus, hadir untuk memberitahukan satu pesan:
“Begitulah rasanya hidup dalam derita menanti selesainya Masalah Utama, Main Issue, Qadhiyyah Mashiiriyyah. Begitulah rasanya derita mereka yang terusir, terisolir, diblokade. Begitulah rasanya jika di hadapan engkau ratusan hingga ribuan nyawa melayang dalam waktu singkat karena dibasmi. Begitulah rasanya jika engkau menjerit-jerit berteriak meminta bantuan pada dunia untuk segera mengusir tentara penjajah dan aparat keamanan tirani”.

Ya, Coronavirus adalah bak pasukan perang.
Satu kali saja Panglima Tertingginya berkata : “Hentikan Serangan!”, pasukan itu akan berhenti, letakkan senjata dan tak menyerang lagi.

Dan sehebat-hebat panglima tertinggi pasukan virus itu, tetaplah ada dalam genggaman Allah ‘azza wa jalla.

Orang beriman, hendaklah biasa saja menghadapi wabah ini.

Bahkan, kalau perlu ia akan semakin tingkatkan wirid-wirid dan zikir pengampun dosa.
Agar jika ia terkena virus atau musibah apapun yang hantarkan ia pada kematian, ia sudah siap dipanggil Allah dalam keadaan bersih dari dosa.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( من قال سبحان الله وبحمده في يوم مائة مرة حطت خطاياه وإن كانت مثل زبد البحر ) متفق عليه
Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda “barangsiapa mengucapkan SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH dalam sehari 100 kali, niscaya terhapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan”. Hadits Muttafaq ‘Alaih.

Dalam kitab Lubabul Hadits susunan Imam As Suyuthi, beliau kutip hadits:

إِذَا حَدَثَ عَلَى عَبْدٍ فِي بَدَنِهِ أَوْ مَالِهِ أَوْ وَلَدِهِ فَاسْتَقْبَلَ ذَلِكَ بِصَبْرٍ جَمِيلٍ اسْتَحْيَا اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْصِبَ لَهُ مِيزَانًا أَوْ يَنْشُرَ لَهُ دِيوَانًا

“Apabila terjadi pada seorang hamba musibah yang menimpa badannya, hartanya, atau anaknya, lalu ia menghadapinya dengan kesabaran yang indah, maka Allah malu jika di hari kiamat memasang timbangan untuknya atau memperlihatkan catatan amalnya”.
Maksudnya, Allah tidak perlu lagi menimbang amal dan membukakan catatan amalnya, saking besar ganjaran atas kesabarannya menghadapi musibah. Wallahu a’lam bish shawab.

Semoga setelah wabah Coronavirus mereda, seluruh dunia mau ambil pelajaran, untuk tidak mudah melukai, menista, menzhalimi dan menyakiti entitas manapun. Apalagi umat kesayangan Allah dan kesayangan Rasulullah.
Sebelum Allah turunkan kembali bala tentaranya untuk memberi teguran lebih keras lagi. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *