Quo Vadis, Baitul Maqdis?

Itulah bagaimana perjanjian internasional kemudian mengondisikan wilayah-wilayah sekitar Syam menjadi negara penyokong eksistensi Yahudi. Israel adalah proksi Amerika di Timur Tengah, dan keberadaannya akan selalu dijaga melalui rantai-rantai perjanjian internasional yang ada. Itu yang juga hari ini terjadi, saat AS memblokir keputusan Dewan Keamanan PBB dan mementahkan semua pendapat PBB atas Baitul Maqdis.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu)

POJOKOPINI.COM — Sesak dada melihat apa yang terjadi di Baitul Maqdis. Serangan masif zionis yang berulang sejak pendudukan adalah fakta berulang juga tentang ketidakberdayaan kita. Akuilah saat ini seperti ada lubang besar dalam keimanan kita tersebab ketidakberdayaan itu. Akuilah dada yang sesak menyaksikan darah mengalir yang membasahi tangan-tangan lalim teroris Israel. Akuilah ketidakberdayaan itu.

Saat roket menghantam gedung-gedung dan rumah-rumah umat ini, menjadikan syahid keluarga-keluarga syurga itu, kita di sini tengah menikmati kebersamaan. Saat gedung pers diluluhlantakkan rata dengan tanah, kita di sini masih ada yang menaruh harap pada kesaktian palsu HAM. Saat Masjidil Aqsa yang merupakan harga diri kita diinjak-injak di depan milyaran pasang mata, kita masih menggantung harap pada PBB yang lemah.

Lebih sesak lagi dada ini rasanya saat menyaksikan dagelan kaum pendengki di negeri ini yang entah mereka ini hatinya masih hidup atau sudah mati. Alih-alih mendoakan dan men-support saudaranya, dia malah mengalihkan fokus umat kepada sampah fitnah. Entah kemana perginya rasionalitas, seolah enggan melekat pada para pendengki yang tak pernah sukses melihat fakta seterang umat Islam yang ikhlas menundukkan perspektif berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Dengan apa kau melihat Baitul Maqdis hari ini? Dengan kaca mata siapa perspektifmu terbentuk? Media-media sekuler yang merabunkan mata jernih kita? Atau perspektif kapitalisme dengan prasangka yang selalu gagal paham? Pantas saja jika tak pernah terang penglihatan, sejak kau tak melihat kecuali dengan kedengkian. Padahal cukup sederhana untuk mendudukkan persoalan, cukup jadi manusia, maka kau akan melihat kezaliman besar dan sesaklah dadamu.

Pada 15 Maret 1948, sehari setelah negara Zionis Israel mendeklarasikan kemerdekaan, mereka memulai pembersihan etnis dan memaksa eksodus lebih dari 700.000 warga Palestina dari tanah air mereka. (Themuslimvibe.com)

Free your mind before you free Baitul Maqdis. Ya, bebaskan pikiranmu sebelum kau bebaskan Baitul Maqdis. Itu karena hari ini apa yang menyebabkan lubang besar dalam keimanan kita tentang Baitul Maqdis adalah buah dari penerapan kapitalisme sekuler. Sistem ini mengondisikan pemikiran dan hidup kita jauh dari kemurnian Islam, sehingga kita tak melihat Baitul Maqdis sebagaimana mestinya, sebagai hamba bagi Allah Rabb Penjaga Al-Qur’an yang kita hafal dan baca.

Allah menjamin Baitul Maqdis sebagai Tanah yang Diberkahi oleh-Nya, di tempat itu, kening mulia baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam pernah bersujud mengimami shalat seluruh Nabi dan Rasul. Di tempat itu pernah terwujud kecermerlangan kepemimpinan Islam melalui sahabat Umar bin Khaththab yang mencetuskan Al-Uhdah Al-Umariyah untuk menyatukan berbagai keberagaman Baitul Maqdis dalam kedamaian, kerukunan, jaminan keamanan, dan keadilan.

Hari itu (15 Maret 1948) ditandai sebagai Al-Nakba, yang diterjemahkan menjadi ‘Hari Bencana’. Diperkirakan pengusiran oleh pemukim Zionis telah menyebabkan 7 juta pengungsi di seluruh dunia, tinggal di negara-negara tetangga. (Themuslimvibe.com)

Sejak Islam runtuh dengan kehancuran Khilafah tahun 1924, Baitul Maqdis tak lagi punya perisai, keberagaman terkoyak, apa yang hari ini mereka sebut toleransi tak lebih dari kemunafikan. Terus berulang bombardir oleh Israel ke Baitul Maqdis sejak tanah-tanah kaum Muslimin di sana diduduki secara paksa, sampai hari ini, sampai detik tulisan ini dibuat. Kaum kuffar mendesain Sykes Picot, Deklarasi Balfour, dan dikuatkan dengan restu PBB atas pengesahan Israel sebagai sebuah negara. Inilah kepalsuan yang sistemik, ini terorisme sistemik.

Dan hari ini seluruh umat Islam terbenam dalam ketidakberdayaan, mereka tersekat-sekat batas imajiner yang sejatinya lemah dan menipu bernama nasionalisme. Seolah sedang berkata, “Saya pilih menjaga negara saya, di sini urusannya sudah pelik. Urusan Palestina, itu urusan negara orang lain.” Padahal pernyataan itu justru menampakkan ketidakpahaman terhadap sejarah, ahistoris dan apolitis. Karena sejatinya, umat Islam di negeri ini justru berutang budi terhadap Palestina sejak merekalah yang pertama mengakui kemerdekaan bangsa ini. Pun secara hukum Allah, dan ini tentu alasan yang paling kuat, tempat duduknya di atas segala alasan yang menjadi sebab kita harus peduli dengan Baitul Maqdis dan segera take action, adalah karena ini perintah Allah.

Apa yang Mencekik Kita?

Bangkit dan hancurnya peradaban bergantung pada pemikirannya. Pemikiran itulah yang menjadikannya mampu mengefektifkan semua potensi yang Allah berikan bagi diri, masyarakat, dan negaranya. Semua potensinya, mulai dari karakteristik individu sampai potensi keruangannya. Itu semua dikelola berdasarkan perspektifnya, pemikirannya. Itulah kenapa kita lazim hari ini menyaksikan diamnya umat Islam dunia atas apa yang dialami Baitul Maqdis. Mereka mencukupkan diri dengan doa dan donasi, membangun rumah sakit serta menyumbang ambulance. Apa kabar bombardir yang bisa kapan saja menghancurkan itu semua? Bangun lagi, hancur lagi, terus begitu. Apakah layak kita mencukupkan diri dengan doa dan donasi?

Umat Islam hari ini berada dalam kekuasaan politik kapitalisme yang tak pernah dan takkan hiraukan syariat Allah, mustahil merealisasikan ukhuwah dalam sistem ini. Hal itu karena sistem kapitalisme menjadikan sekularisme (memisah agama dari kehidupan) sebagai asasnya, sehingga ukhuwah dan syariat bukan hal penting bagi penguasa. Lantas apa yang dipikirkannya? Jawabannya adalah segala sesuatu yang identik dengan hawa nafsu manusia yang bebas dan rakus, yang enggan taat kepada syariat Allah. Sekularisme.

Sekularisme itulah yang menjadi problem akut umat ini, menjadi tsunami pemikiran yang merupakan bencana besar bagi umat ini. Sekularisme menjadikan syariat Allah harus menunggu persetujuan manusia untuk diterapkan, sistem ini memutilasi hak Allah sebagai pembuat hukum. إن الحكم إلا لله inil hukmu illa lillah, bahwasanya semata hak untuk menetapkan hukum itu adalah milik Allah, bukan makhluk.

Sekularisme juga menjadi tersangka utama terhalangnya umat ini dari pemahaman yang benar tentang agamanya, termasuk Baitul Maqdis. Tanah yang Diberkahi ini merupakan hal penting dan istimewa dalam perspektif akidah Islam, tapi tersebab penerapan kapitalisme sekuler, umat ini terhalang dari pemahaman yang benar itu. Jadi inilah yang disebut “perang pemikiran”. Memang kaum kuffar tak datang dengan membawa senjata untuk kemudian menembaki umat Islam (selain di wilayah terjajah secara fisik seperti di Palestina, Suriah, Xinjiang, Burma, Thailand, dll), tapi di sebagian besar negeri Muslim, mereka datang dengan wajah manis dan kata-kata membius yang khas ideologis. Sistem ini membelokkan pemahaman umat Islam, membuatnya condong kepada liberalisme dan menganggap segala sesuatu yang identik Islam sebagai bentuk ekstremisme dan radikalisme. Ini jelas penjajahan pemikiran.

Pun, sekat imaji bernama nasionalisme menjadi masalah yang memperberat jantung umat Islam, itulah yang juga hari ini menjadikan Baitul Maqdis terasa sangat jauh. Ukhuwah terganjal nasionalisme. Padahal Allah titahkan, اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” Ada hak Baitul Maqdis untuk dibela oleh kita saudara seakidahnya, bahkan Nabiyullah Muhammad mengibaratkan ukhuwah sebagai satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit maka sekujur tubuh merasakan sakit itu seperti demam. Allahu akbar.

Terakhir, perjanjian-perjanjian internasional yang mengikat tengkuk negeri-negeri kaum Muslimin, menjadikannya tunduk dan tak kuasa melawan opini umum global yang mengancam eksistensinya. Itulah yang juga menjadi sebab lahirnya Abraham Accords, perjanjian normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Uni Emirat Arab yang merupakan pengkhianatan terhadap Baitul Maqdis.

Menarik menilik aspek sejarah saat kaum kuffar berjuang membangun negara palsu bernama Israel di tanah kaum Muslimin Palestina, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menuliskan dalam kitab Mafahim Siyasi:

Ketika muncul masalah Yahudi di Palestina, AS berpendirian untuk mendirikan sebuah negara di Palestina. Hal itu dimaksudkan untuk menjadikan Israel sebagai alat untuk menjajah kawasan Timur Tengah. Saat itu Inggris tidak bersikap tegas dalam masalah pendirian sebuah negara Yahudi. Inggris ragu-ragu apakah Palestina akan menjadi sebuah negara yang diperintah Yahudi, atau menjadi sebuah negara Yahudi. Saat itu Inggris berkeinginan untuk mengoordinasikan masalah negara Yahudi itu dengan jajahannya di negeri-negeri Arab lainnya. Maka, tidak ada kepastian dalammasalah ini, sehingga diambil alih oleh PBB. Pada saat PBB -yang dipengaruhi oleh AS- mengeluarkan resolusi untuk membentuk negara Yahudi, Inggris diam saja dan berpendirian bahwa waktulah nanti yang akan menentukan. Yaitu apakah kawasan ini akan mampu menerima keberadaan negara Yahudi di antara kaum Muslim, ataukah negeri Islam ini akan menolaknya. Jadi, politik Inggris terhadap negara Yahudi didasarkan pada sikap menunggu apa yang akan diputuskan oleh waktu.

Sedangkan AS, ia terus melangkah untuk memperkokoh Israel dan menghilangkan apa saja yang menghambat pengokohan Israel. Inggris bersikap sebaliknya dalam masalah ini, namun tidak secara terang-terangan. Lahirlah kemudian konflik yang tajam antara Inggris dan AS seputar keberadaan negara Yahudi.

Itulah bagaimana perjanjian internasional kemudian mengondisikan wilayah-wilayah sekitar Syam menjadi negara penyokong eksistensi Yahudi. Israel adalah proksi Amerika di Timur Tengah, dan keberadaannya akan selalu dijaga melalui rantai-rantai perjanjian internasional yang ada. Itu yang juga hari ini terjadi, saat AS memblokir keputusan Dewan Keamanan PBB dan mementahkan semua pendapat PBB atas Baitul Maqdis. Semua dilakukan AS untuk memperkuat Israel yang merupakan anak haramnya. Jadi yang menjadi ‘musuh’ bagi kaum Muslimin untuk mengambil kembali Baitul Maqdis bukanlah semata Israel, tapi justru induk semangnya yaitu Amerika.

4D Solution

Apa yang paling bisa kita lakukan untuk membebaskan Baitul Maqdis? Penulis meringkasnya dengan 4D. Doa, ini adalah inti ibadah. Jangan sepelekan doa. Ada banyak kisah dalam Alqur’an yang menjelaskan tentang aktivitas doa yang dilakukan para Nabi dan Rasul Allah, doakan Baitul Maqdis, doakan agar hilang sesak dada ini dengan pertolongan Allah atas kita untuk mampu membebaskan Baitul Maqdis. Doakan kesabaran bagi mereka para Murabithun yang mewakili kita menjaga Bumi Ribath.

Donasi, jangan sepelekan yang ini, tapi jangan berhenti di sini. Pembantu Rasulullah, Maimunah, bertanya, “Wahai Nabi Allah, berikan kami fatwa tentang Baitul Maqdis.” Nabi menjawab, “Ia adalah bumi penebaran (mansyar) dan tempat berkumpul (mahsyar). Datanglah ke sana, lalu shalatlah di sana. Sungguh 1 shalat di sana seperti 1000 shalat di tempat lainnya.” Maimunah bertanya, “Andaikan aku tak mampu mendatanginya?” Nabi menjawab, “Berikan hadiah padanya minyak penerangan, sungguh siapa yang memberi hadiah padanya, seperti shalat di sana.”

Yang ketiga adalah dakwah, siramlah umat ini dengan tarbiyah tentang kemuliaan Baitul Maqdis dan keutamaan membelanya. Dakwah adalah wujud ukhuwah, selain ini merupakan syariat yang Allah wajibkan atas kita. Dari dakwah inilah kemudian kita melangkah kepada sikap yang dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid II yang mementahkan permintaan Theodore Herzl untuk membeli sebidang tanah bagi kaum Yahudi di Palestina. Khalifah mengirim surat kepada Herzl melalui perantaraan teman dekatnya, Neolanski. Di dalamnya disebutkan,

Nasihatilah sahabat dekatmu, Herzl, agar dia tidak mengambil langkah-langkah yang baru seputar tema ini. Sebab, saya sama sekali tidak bisa melepaskan satu jengkal tanah saja di antara tanah-tanah suci Palestina, karena negeri Palestina bukanlah milikku. Tetapi bumi Palestina adalah milik bangsaku. Nenek moyang saya telah melakukan peperangan untuk mendapatkan tanah ini, dan telah mengalirinya dengan darah-darah mereka. Hendaklah orang-orang Yahudi menggenggam jutaan uang mereka.

See the source image
Khalifah Abdul Hamid II

Khalifah menyatakan dengan tegas bahwa kepemilikan Baitul Maqdis merupakan hak umat Islam sehingga dia berdiri tegak menjadi tameng untuk menjaganya. Kemudian Khalifah sadar betul bahwa Khilafah yang dipimpinnya merupakan perisai satu-satunya yang melindungi Baitul Maqdis, dia menantang Herzl kemudian, dikatakannya:

Jika negaraku tercabik-cabik, maka bisa jadi mereka mendapatkan Palestina dengan tanpa ganti. Tetapi dia harus memulai terlebih dahulu untuk mencabik-cabik mayat kami. Namun, saya tidak akan menerima jasad saya dicabik-cabik, sedangkan saya masih hidup.” (Sultan Abdul Hamid II The Last Khalifa, hlm. 124-125)

Itulah sikap kepemimpinan Islam yang hari ini tergantikan oleh kepemimpinan kapitalisme sekuler. Alhasil dapat dipahami bahwa tegaknya institusi pemersatu umat Islam global bernama Daulah Khilafah Rasyidah ‘alaa Minhaajin Nubuwwah sebagaimana pernah tegak dan tercatat dalam tinta sejarah inilah yang terbukti pernah menjadi tameng kokoh bagi Baitul Maqdis. Umar bin Khaththab membebaskan Baitul Maqdis dengan kendaraan ini, pun begitu Shalahuddin al Ayyubi, dan penjagaannya kemudian dilanjutkan oleh para Khalifah yang selanjutnya.

Khalifah menolak upaya rayuan yang hari ini agaknya bisa diterjemah sebagai “normalisasi hubungan dengan Yahudi”. Sungguh berbeda dengan kepemimpinan kapitalisme yang hari ini menjadi duri dalam tubuh kaum Muslimin, sehingga sistem Islam itulah yang juga paling bisa kita harapkan untuk mampu membebaskan Baitul Maqdis, mewujudkan ukhuwah sampai memiliki bargaining dalam konstelasi dunia. Inilah negara kokoh yang menjadi tameng bagi ukhuwah, bagi toleransi dan keberagaman.

Ketika perisai itu hancur pada tahun 1924 atas siasat Inggris dan negeri-negeri kuffar lainnya, toleransi dan keberagaman di Baitul Maqdis kemudian terkoyak. Baitul Maqdis yang terbuka untuk banyak agama menjadi inklusif dan basis konflik. Inilah jika Baitul Maqdis tak berada dalam naungan Islam, sehingga tarbiyahlah diri kita untuk memahaminya dengan jernih. Pelajarilah syariat Islam, responslah Baitul Maqdis dengan respons yang juga dilakukan oleh Rasulullah, dilanjutkan oleh Abu Bakar, dituntaskan oleh Umar, dan dibebaskan lagi oleh Shalahuddin al Ayyubi, kemudian dilanjutkan penjagaannya oleh para Khalifah setelahnya.

Bangkitlah, Wahai Singa-singa Muhammad Saw. Bangkitlah, Wahai Umat Islam. Free your mind before you free Baitul Maqdis. Bebaskan, bersihkan pemikiran kita dari kapitalisme sekuler, liberalisme, dan segala hal yang menjadi sebab ketidakberdayaan kita hari ini dengan aktivitas dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam merumuskan tiga tahapan yaitu tatsqif (pembinaan/edukasi), membangun kekuatan politik umat Islam di Madinah, dan persiapan jihad (kekuatan militer). Ini bersumber dari Sirah Nabiyullah Muhammad tercinta, inilah petanya, ini caranya. Jaga wudhumu, karena sebentar lagi kita akan shalat berjamaah di Baitul Maqdis dalam kondisinya yang bebas merdeka dalam naungan Khilafah, Insya Allah.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *