Ramadan dan Rindu

Ramadan dan Rindu

Seluruh dunia sedang terjepit. Kesulitan hidup membelit, aksesibilitas pangan terhadap rakyat semakin sulit. Jika sudah begini siapa yang mau menjamin?

Oleh: Cut Putri Cory

POJOKOPINI.COM — Selangkah lagi. Saat langit terbuka untuk semua asa. Seluruh makhluk bebas dari belenggu setan dan keduniawian fana. Fokus. Semua akan fokus meraih begitu banyak berkah di dalamnya. Ampunan, kasih sayang, terbebas dari siksa, dan berharap berakhir syurga dan meraih ridha.

Ini bukan momentum biasa dalam hidup kita. Kita bersukacita, begitu antusias menyambut kedatangannya. Rindu menggelayut bersama asa, berharap-harap cemas, ingin sukses dapatkan keistimewaannya meski diri merasa tak kuasa dalam ujian yang ada. Dia pasti mampir, meski hanya di bulan ini. Dia memiliki kemuliaan malam seribu bulan, segalanya dilipat gandakan, pahala diobral seperti kasih sayang tak terputus langit kepada bumi yang menurunkan hujan. Inilah Ramadan.

Ramadan memupuk asa. Dia adalah sumbu rindu. Beredar di sekelilingnya keberkahan yang banyak dalam malam-malam yang indah dengan qiyam, dahaga dan lapar yang ditangguhkan untuk dibalas dengan segala yang tak pernah terbayangkan oleh akal pikir manusia. “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung,” Allah memotivasi dalam sebuah hadits Qudsi riwayat Imam Bukhari. Bagaimana kita tak merasa bahagia? Ibarat hujan dalam terik yang membakar, Ramadan datang menjadi poros rindu kelegaan dan impian.

Kita rindu, kita pasti sepakat. Kita rindu menghidupkan mesjid-mesjid Allah. Rindu berbuka puasa bersama keluarga besar. Rindu kedua orang tua. Rindu saudara seperjuangan. Rindu menenggelamkan diri dalam majelis-majelis ilmu yang begitu banyak di bulan Ramadan.

Kita menangis memohon ampun untuk segala kepayahan hari ini. Kita terjepit dalam kejadian yang tak kuasa untuk ditolak, namun ada rindu yang lebih besar dari kepayahan itu. Rindu untuk dibasuh dengan air kesejukan Ramadan. Rindu menghidupkan Ramadan dengan aktivitas dakwah menjejak langkah Nabiyullah Muhammad tercinta.

Penulis membayangkan, hujjah apa kelak yang mau kita sampaikan saat Nabi bertanya tentang pembelaan. Saat kita ditagih hak-hak ukhuwah yang kita abaikan. Adakah terdengar oleh telinga kita jeritan panjang umat ini yang sedang dalam penderitaan?

Adalah Yulie Nuramelia. Seorang ibu yang meninggal dunia setelah mengalami pahitnya hidup dalam kemiskinan. Dia sempat menyicip kejadian pilu, dua hari mengganjal perutnya hanya dengan air, tak ada sebutir beras masuk ke dalam perutnya. Agus Jakaria, Ketua RT 03 RW 07, Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten, mengaku pernah membawa berkas keluarga almarhum Yulie Nuramelia ke pemerintah untuk mendapatkan bantuan sosial (bansos). Namun data keluarga itu ditolak, lantaran tertulis bekerja sebagai petugas kebersihan yang dikira mendapatkan gaji setiap bulan. (Liputan6.com, 21/4/2020)

Lebih dari dua juta orang terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia, virus ini
mengambil semua perhatian dan fokus manusia. Hampir tak ada sudut bumi yang tak disinggahi si kecil mungil tak kasat mata ini.

Perekonomian pun ikut terpapar. Tsunami PHK massal mendera belahan dunia. Jutaan orang kini tak lagi berpenghasilan, sementara mereka tetap membutuhkan uang untuk biaya hidup.

Seluruh dunia sedang terjepit. Kesulitan hidup membelit, aksesibilitas pangan terhadap rakyat semakin sulit. Jika sudah begini siapa yang mau menjamin? Lihat, harga barang tak stabil, kita pun masih dihantui kelangkaan komoditas akibat kerakusan para kapitalis. Meski barang ada, tapi jika uang tak ada, maka tetap tak terbeli.

Banyak orang di perkotaan berteriak ingin pulang kampung, tak kuat dengan biaya hidup tinggi standar perkotaan. Mudik pun menjadi pilihan, biarlah sementara menumpang makan di tempat orang tua. Sebagian besar yang mudik adalah pekerja muda yang berpenghasilan rendah. (Katadata.com, 21/4/2020)

Saat mudik dilarang, namun di sisi lain tak ada jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar mereka sebagai manusia, mana mungkin titah penguasa didengar. Sembako yang diberikan apakah bisa mengenyangkan mereka sampai lebaran? Apakah tempat tinggal mereka tak perlu bayar bulanan? Siapa yang mau menanggungnya?

Belum lagi sengkarut data yang diragukan validitasnya. Padahal data adalah kehidupan. Bagaimana mampu menyejahterakan rakyat tanpa data yang valid? Misalnya, saat pembagian dana bantuan langsung tunai (BLT) kepada para pengemudi taksi di Pelabuhan Telaga Punggur, Kota Batam, diwarnai aksi protes. Mereka menuding para pengurus sengaja tak memasukkan nama mereka untuk mendapatkan bantuan itu. Para pengemudi mengaku kecewa karena dari 135 anggota aktif, hanya ada 89 pengemudi yang mendapatkan BLT tersebut. Sementara, 46 orang lainnya tidak mendapatkan bantuan lantaran tidak terdaftar sebagai penerima BLT.(Batamtoday.com, 21/4/2020)

Inilah masanya kita semua berebut receh, padahal kita sangat paham bahwa yang diberikan tak segaris dengan kebutuhan. Tak cukup untuk hidup berbulan-bulan dalam krisis yang ada. Sementara di sisi lain kita tak lagi bisa bekerja seperti sebelumnya.

Kalau sudah begini, tak ada yang bisa menolong kecuali Allah. Akui saja bahwa kita memang kalah. Buang pongah yang selama ini mengerat hidayah, menjadi tembok besar penghalang Islam solutif untuk kesejahteraan hidup dunia dan akhirat kita. Kita sudah terlalu jauh dalam dampak rusak tata kelola manusia oleh sistem kapitalisme yang hari ini dipakai untuk mengatur kita. Kita harus kembali on track, melihat peta hidup Nabi dan merealisasikan itu.

Kita rindu Rasulullah. Rindu hidup sejahtera dalam naungan negara yang dicontohkan Nabi dan para Khalifah setelahnya dalam Khilafah. Inilah wujud penjagaan Allah atas manusia, Khilafah. Bersabarlah menapaki kepayahan hari ini dengan tetap berjuang demi kemuliaan Islam dalam dakwah. Kelak kita akan keluar dari musibah ini dengan dua kemenangan, terbebas dari penderitaan dan hidup dalam naungan Khilafah yang dijanjikan. Tak lama lagi rindu ini ‘kan berbalas, insya Allah.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *