Ramadan Impian di Tengah Ujian

Ramadan Impian di Tengah Ujian

Dalam kepayahan, bingung, ketar-ketir menghadapi segala kemungkinan di masa depan, Allah menghibur kita dengan mendatangkan bulan mulia ini. Ini seolah momentum besar bagi manusia, seiring krisis demi krisis yang melanda, inilah tempat manusia mengaku kalah, menundukkan kepala di hadapan Allah, memohon perlindungan dan jalan keluar, sekaligus mempersiapkan peradaban baru yang sedang datang.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu dari Farhan, Uwais, dan Nusaibah)

POJOKOPINI.COM — Menghitung hari menuju bulan mulia, jantung berdegup senada perasaan bahagia. Mengasa berjumpa dia nan indah, saat pahala diobral, tempat terkabul banyak doa, dosa-dosa diluruh, malam-malamnya adalah lentera. Itulah Ramadan.

Meski hari ini kita tengah menghadapi dua tsunami yang menghantam dunia, reses ekonomi dan pandemi Covid-19. Amerika yang kuat hancur. Cina luluh lantak. Eropa bertekuk lutut. Tak ada yang selamat menghadapi makhluk Allah yang tak kasat mata itu, virus Corona menyapu hampir 95% planet bumi. Memunculkan tsunami PHK massal, beban hidup yang semakin bertambah, entah ke depannya kita akan bagaimana menafkahi keluarga. Memberi makan kepada perut anak-anak kita, dan membuat mereka tumbuh sehat kuat meski dalam ujian.

Tak cukup sampai di itu, kondisi diperparah dengan kegamangan penguasa yang tak paham skala prioritas, dia dengan terang menampakkan keberpihakannya bukan kepada rakyat. Tak ada tempat bersandar, padahal Islam tetapkan penguasa sebagai junnah (tameng) pelindung rakyat dari ketidakadilan, tak aman, bahkan ancaman kelaparan. Itu semua seolah melengkapi ujian. Berat.

Dalam kepayahan, bingung, ketar-ketir menghadapi segala kemungkinan di masa depan, Allah menghibur kita dengan mendatangkan bulan mulia ini. Ini seolah momentum besar bagi manusia, seiring krisis demi krisis yang melanda, inilah tempat manusia mengaku kalah, menundukkan kepala di hadapan Allah, memohon perlindungan dan jalan keluar, sekaligus mempersiapkan peradaban baru yang sedang datang.

Mentally, ini satu poin yang harus kita siapkan. Kita menjalani hidup dengan mentalitas. Kita memahami dan merespons dengannya. Mentalitas lahir dari kesadaran dan kekuatan iman. Takwa adalah sebaik-baik bekal. Di dalamnya terdapat keikhlasan yang murni, kita memupuk bahagia dan semangat menyambut bulan suci, bersemangat. Selanjutnya, jaga semangat itu agar tetap panas dengan tsaqafah Islam, karena tsaqafah adalah penguat mentalitas, mengokohkannya seperti baterai yang terus terisi.

Itulah kenapa kita lebih dulu dididik dan dilatih sejak Rajab dan Sya’ban. Sedikit demi sedikit memupuk kebiasaan beramal saleh, demi sukses berkah di bulan Ramadan. Islam memang begitu, dia mendidik kita untuk memiliki desain yang jelas tentang masa depan. Kita diminta untuk berpikir tentang tujuan dan target, lalu berpikir tentang tata cara merealisasi tujuan dan target itu. Kesuksesan Ramadan sangat bergantung dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang dipupuk sejak bulan-bulan sebelumnya. Sehingga lengkaplah kesiapan baik mental dan fisik.

Secara fisik (Phisically) kita perlukan tubuh yang sehat dan kuat. Pada bulan Ramadan, malam-malam ibarat siang. Penulis saat beriktikaf pada sepuluh malam terakhir di salah satu mesjid besar di Aceh, menyaksikan begitu indah Ramadan dalam malam-malamnya yang meriah. Bacaan Qur’an menggema di setiap sudut mesjid, terang lampu mesjid menyilaukan mata dan membuat rasa kantuk seolah lari terbirit-birit. Setiap orang bersemangat mengejar Lailatul Qadar, mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah. Itu tentu mustahil dilakukan oleh orang yang lemah fisiknya. Saat dia menjadi seperti Rahib di setiap malam-malam mulia bulan Ramadan.

Meski Ramadan kali ini mungkin takkan sama seperti Ramadan sebelumnya, saat kita merasakan nikmatnya berpindah-pindah dari satu mesjid ke mesjid lain untuk beriktikaf, melahap ilmu dalam forum-forum duduk melingkar, dan bersilaturahim sambil memotivasi dalam kebaikan. Itu semua harus kita lakukan dari rumah sampai Allah menetapkan kita semua keluar dari bencana Covid-19 ini dalam keadaan selamat dan menang menyambut peradaban baru.

Kita tetap menghidupkan malam dari rumah-rumah kita. Allah akan memberi cahaya di setiap rumah yang bersemangat memeriahkan Ramadan dengan qiyamullail, lantunan Qur’an dan dzikir, juga munajat yang banyak untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Yakinlah aktivitas itupun dibutuhkan kekuatan fisik yang cukup. Kita berikhtiar dengan rutin berolah raga, makan yang halal dan baik. Melatih badan dengan ibadah sejak sisa-sisa bulan Sya’ban ini.

Lebih dari itu, kita harus tetap menunjukkan kepedulian kita terhadap umat Muhammad Saw. Melakukan aktivitas dakwah dan menelaah kondisi umat ini. Mempersiapkan diri sendiri, keluarga, dan umat ini untuk menyambut sebuah peradaban besar yang sedang datang. Allahumma Ya Allah, sampaikan kami kepada bulan Ramadan, sukses kami mendapatkan ridaMu, dan jadikan ini Ramadan terakhir tanpa Khilafah. Aamiin.[]

Picture source: US News and World Report

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *