Ramadhan Terakhir Tanpa Perisai

Wahai Allah pemilik kekuasaan, jadikanlah Ramadhan ini menjadi Ramadhan terakhir tanpa junnah (perisai) bagi kami…”


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Ramadhan kini berada di penghujung. Dalam hitungan beberapa hari ke depan, ketika langit senja berangsur menjadi gelap di hari terakhir Ramadhan, lantunan takbir akan menggema, syawal hadir menyapa. Namun siapa sangka, betapa Ramadhan ini menjadi Ramadhan yang tidak mudah bagi umat Muhammad SAW.

Pada Ramadhan ini sekitar 615 ribu kaum Muslimin di Somalia meninggalkan rumah untuk mencari tempat tinggal yang berdekatan dengan sumber makanan. Negeri yang terletak di Tanduk Afrika ini dilanda krisis pangan.

Lebih dari enam juta orang atau separuh populasi Somalia hidup dalam kondisi rawan pangan akut hingga tahap “darurat”. Lebih dari 363 ribu anak mengalami malnutrisi, dan 71 ribu diantaranya menderita gizi buruk parah. Sejak 2011 Somalia telah menjadi negara yang terancam risiko kelaparan ekstrem. Kekeringan dan invasi militer AS menjadi penyebabnya. Kini kondisi muslim Somalia sungguh sengsara, mereka hanya bisa makan ketika ada bantuan makanan. Meski setiap hari didera kelaparan, mereka tetap berpuasa Ramadan. Bahkan, anak-anak juga belajar puasa (muslimahnews.com 4/5/2021).

Hal yang sama dialami oleh saudara Muslim di Yaman. Ramadhan demikian sulit bagi seluruh keluarga Yaman, sebab mereka masih saja terhimpit dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Selama enam tahun setelah serangkaian konflik, Yaman mengalami keruntuhan ekonomi hingga saat ini. Yaman semakin terpuruk ketika gelombang Covid-19 menyapu mereka. Terdapat 80 persen populasi termasuk 12,4 juta anak-anak yang membutuhkan bantuan kemanusiaan (republika.co.id 24/4/2021).

Separuh dari semua anak Yaman yang berusia di bawah 5 tahun sejumlah 2,3 juta jiwa kemungkinan besar akan menderita malnutrisi akut di sepanjang 2021. Sementara 400 ribu masyarakat beresiko meninggal dunia jika mereka tidak segera menerima perawatan.

Tidak jauh dari tanah Yaman, di bumi Syam yang diberkahi, terdapat ratusan ribu warga Suriah terlantar, yang tinggal di provinsi Idlib barat laut memulai bulan suci Ramadhan dalam kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan. Hal ini karena perang saudara selama satu dekade telah meninggalkan banyak dari mereka tanpa rumah dan pekerjaan yang layak.

Meskipun gencatan senjata di Idlib diumumkan pada Maret tahun lalu oleh Turki dan Rusia yang memperkenalkan keamanan bagi warga Suriah yang tinggal di sana, mereka masih mengalami kondisi kemiskinan dan kesengsaraan di tengah pengangguran yang meluas yang disebabkan oleh pertempuran bertahun-tahun.

Situasi ini telah memperburuk kondisi bagi keluarga Suriah pada umumnya selama bulan Ramadhan, terutama keluarga terlantar yang tinggal di Idlib, yang tidak memiliki sumber penghasilan untuk mempersiapkan bulan puasa. Mengutip dari liputan6.com dari Daily Sabah 17/4/2021, Seorang Ibu Suriah bernama Um Khader berujar, “Anak-anak saya sudah tiga tahun tidak makan daging. Aku tak bisa berkata-kata. Kami tidak melakukan persiapan untuk Ramadhan kecuali doa-doa kami“.

Sementara di tanah Al-Aqsa, sepanjang Ramadhan ini bentrokan warga Palestina dengan polisi Israel membara. Sepanjang 3 bulan Israel telah menahan sejumlah 230 anak Palestina. Warga di jalur Gaza menjalankan ibadah puasa Ramadhan di bawah bayang-bayang kesulitan ekonomi yang disebabkan blokade Israel dan pandemi.

Menurut data PBB, tingkat pengangguran di Jalur Gaza, dengan populasi hampir 2,1 juta, hampir mencapai 50% karena blokade darat, laut dan udara yang diberlakukan oleh Israel selama 15 tahun. Kasus virus Corona mengkonfirmasi kurang dari 200 infeksi setiap hari pada awal Maret 2021. Menurut Kementerian Kesehatan wilayah Palestina telah melaporkan 81.000 kasus positif, termasuk 677 kematian hingga saat ini.

Di India, Ramadhan menjadi masa yang melelahkan bagi sejumlah Muslim penggali kubur di Mumbai. Mereka bekerja nyaris tanpa henti, dari pagi hingga malam, memenuhi tingginya permintaan kuburan, menyusul melonjaknya kasus virus corona di negara itu. Karena kewalahan, mereka pun mengabaikan protokol kesehatan. Di masa pandemi Covid-19, protokol kesehatan boleh jadi merupakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan, setidaknya di banyak negara maju di dunia. Namun, tidak demikian halnya di India, khususnya di pekuburan Muslim di Mumbai. Banyak penggali kubur di kota itu tidak lagi mengenakan alat pelindung diri (APD) saat menjalankan pekerjaan mereka. Menggali tanah tanpa APD mungkin masih bisa dipahami, tapi mengusung jenazah dan kemudian menguburkannya tanpa APD, sungguh di luar kebiasaan.

Banyak Muslim di India bersikeras bahwa jasad keluarga atau kerabat mereka yang meninggal akibat Covid-19 harus ditangani sesuai ajaran Islam dan dikuburkan. Mereka umumnya menolak mengkremasi jenazah, sebagaimana dilakukan banyak penganut ajaran Hindu. Sesuai ajaran Islam, mereka juga menuntut agar jenazah dikuburkan sesegera mungkin. Karena melonjaknya jumlah kasus dan jumlah kematian yang mengiringinya, permintaan akan kuburan juga meningkat. Tak heran, banyak di antara para penggali kubur yang bekerja nonstop siang dan malam. Tak jarang shift kerja mereka hampir sehari penuh.

Kamruddin, seorang penggali kubur yang mengaku sebagai Muslim yang taat, terpaksa tidak berpuasa selama Ramadhan. “Ini Ramadhan, saya tidak bisa berpuasa. Ini musim panas dan pekerjaan saya sangat berat, dan kami bekerja 24 jam setiap hari. Bagaimana saya bisa berpuasa dalam cuaca yang begitu panas? Saya merasa haus. Saya perlu menggali kuburan, Saya perlu menutupinya dengan lumpur, perlu mengusung mayat. Dengan semua pekerjaan ini, bagaimana saya bisa berpuasa?” Jelasnya dikutip dari VOA Indonesia. India sedang menghadapi gelombang kedua infeksi virus corona. Setiap hari selama seminggu terakhir setidaknya 300.000 orang dinyatakan positif, dan jumlah kematian akibat Covid-19 meningkat melebihi 18 juta.

Namun betapapun beratnya penderitaan saudara Muslim di berbagai belahan dunia, mereka masih dapat menjemput berkah Ramadhan. Sesuatu yang sangat menakutkan untuk dilakukan oleh saudara Muslim di Xinjiang. Laman republika.co.id pada 20/4/2021 menurunkan laporan tentang Muslim Xinjiang yang belum berani berpuasa Ramadhan. Meski aturan yang membatasi umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa selama Ramadhan di wilayah otonomi etnis Uighur di Xinjiang, China telah dikurangi dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, menurut pihak berwenang banyak warga yang masih menahan diri untuk melakukannya, menunjukkan adanya kekhawatir mereka akan dinilai sebagai ekstremis dan ditangkap. Selama bertahun-tahun, warga Uighur dan Muslim Turki lainnya di Xinjiang (XUAR) telah dilarang menjalankan puasa selama Ramadhan karena pembatasan agama yang diberlakukan Pemerintah China. Banyak pegawai negeri, siswa, ataupun guru Muslim yang harus dilarang melaksanakan ibadah selama bulan suci tersebut.

Di daerah tertentu di XUAR, pihak berwenang membatasi akses ke masjid. Restoran diperintahkan tetap buka dan warga yang berusia lanjut sering dipaksa menunjukkan bahwa mereka tidak melaksanakan puasa maupun ibadah lainnya selama Ramadhan, sebagai contoh untuk komunitas Uighur secara menyeluruh.

Dilkutip dari RFA, pada Ramadhan tahun lalu, di prefektur Kashgar, sebuah wilayah dengan 83 persen populasi Uighur, penduduk dapat menghadapi hukuman karena berpuasa. Salah satu hukumannya adalah mereka akan dikirim ke kamp interniran XUAR, di mana pihak berwenang China diyakini telah menahan hingga 1,8 juta warga etnis minoritas Muslim sejak April 2017.

Namun, dalam laporan terbaru, seorang petugas polisi di Toqquzaq, salah satu bagian XUAR, mengatakan bahwa pembatasan puasa telah dikurangi di wilayah itu sejak 2020 setelah dilarang keras selama tiga tahun berturut-turut. Namun, pertemuan publik untuk menyampaikan apa såja yang harus mereka lakukan selama Ramadhan masih digelar.

Di antara pembahasan dalam pertemuan itu adalah agar warga Muslim menjauh dari ekstremisme agama. Mereka juga diminta untuk tidak memercayai rumor, tetapi meyakini partai dan pemerintah yang berkuasa di China. Warga di XUAR telah diberi tahu bahwa mereka dapat melaksanakan puasa jika mau. Sementara, mereka yang memilih untuk tidak memiliki tanggung jawab agama masing-masing.

Sebelumnya, terdapat insiden yang diduga terpengaruh ekstremis religius, di mana restoran di seluruh wilayah XUAR ditutup sepenuhnya selama bulan suci tersebut, dan hampir 100 persen orang berpuasa, yang bagi Pemerintah China dinilai sebagai ancaman besar bagi keamanan nasional. Namun, terlepas dari klaimnya bahwa pembatasan telah berkurang mulai 2020, petugas polisi yang sama mencatat bahwa belum melihat siapa pun yang berpuasa di wilayahnya sejak itu. Hal ini menunjukkan bahwa warga Uighur masih terus hidup dalam ketakutan beribadah.

Lain lagi permasalahan di negara ini, kaum Muslimin telah diperangkap dalam wacana larangan mudik dalam rangka menyikapi pandemi yang mulai kembali mengganas. Akhirnya larangan mudik menjadi pilihan. Namun mirisnya kebijakan ini setiap saat berubah dan berganti. Rakyat dibuat dilematis dan dipaksa melupakan tradisi menyambung kekerabatan di hari kemenangan.

Sementara disisi lain penguasa membuka pintu selebar-lebarnya untuk perjalanan wisata, bahkan maskapai Lion Air membawa penumpang TKA China dari Wuhan dengan pesawat charter yang telah mendapat izin Kemenhub dan menjalani prokes. Inilah diskriminasi yang menimbulkan sakit di tubuh umat yang mengindera sebuah ketidakadilan.

Untuk itu, di penghujung Ramadhan yang mulia ini, di malam-malam penuh berkah, di antara penantian Lailatul Qadar, umat ini, di seluruh penjuru dunia menadahkan tangan, dengan berurai air mata penuh pengharapan memohon kepada Rabb-nya. “Wahai Allah pemilik kekuasaan, jadikanlah Ramadhan ini menjadi Ramadhan terakhir tanpa junnah (perisai) bagi kami…” Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *