Rapid Tes Upaya Solutif Putus Covid-19?

Rapid Tes Upaya Solutif Putus Covid-19?

Kondisi sulit seperti apapun negara berbasis syariat akan berupaya maksimal memenuhi kepentingan umat, dan sikap ini hanya ditemukan dalam sistem Islam karena arahannya syara’ bukan hawa nafsu manusia . Maka, jelaslah bahwa Islam adalah solusi yang terbaik untuk menangani wabah yang terjadi saat ini.


Oleh: Ummu Risyafiq (Pendidik Generasi)

POJOKOPINI.COM — Dibanding menerapkan sistem lockdown seperti beberapa negara lain, tes massal menjadi pilihan penguasa dalam menangani infeksi virus Corona yang kini jumlah pasiennya semakin meningkat.

Dilansir dari pikiranrakyat.com, diberitakan bahwa Jawa Barat ikuti model Korea Selatan dalam menangani virus Covid-19 dan sesuai arahan dari pemerintah pusat. Hal tersebut disampaikan oleh Ridwan Kamil melalui Instagram pribadinya. Menurutnya, tes masif Covid-19 tidak pakai kata massal. Tes masif, jumlahnya banyak tapi terbatas kepada yang prioritas, mencakup empat tujuan penting yaitu, pemetaan, memutus mata rantai, mencari peta persebaran dari mereka-mereka yang dicurigai, radius dimana mereka, dan terakhir adanya tindakan medis yang dilakukan.

Berdasarkan berita yang beredar, Jawa Barat merupakan daerah yang memiliki kasus penyebaran virus Covid-19 terbanyak setelah Jakarta, termasuk Bandung raya adalah kawasan yang paling banyak ditemukan kasus Covid-19. Untuk itu perlu segera melakukan tindakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut dengan mengadakan tes masif di daerah-daerah terkategori ‘zona merah.’

Ridwan Kamil menambahkan dalam keterangannya, ada beberapa kriteria yang dapat mengikuti tes masif Covid-19. Di antaranya adalah orang dalam pemantauan (ODP) seperti orang yang baru datang dari daerah yang terdampak virus, keluarga, warga masyarakat yang berada di sekitar dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang beresiko paling tinggi.

Berbeda halnya menurut pakar kesehatan Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan Dr Erlina Burhan. Kebijakan apapun yang diambil oleh pemerintah, haruslah bisa memutus mata rantai penularan. Pemeriksaan yang diharapkan adalah pemeriksaan yang cepat dan akurat, adapun upaya untuk mengambil kebijakan tes massal dengan rapid test antibodi, tujuannya menyasar antibodi yang dimiliki pasien, sedangkan seseorang dalam masa inkubasi atau belum timbul gejala akan memberikan hasil negatif sebab antibodinya belum bisa terdeteksi saat tes itu dilakukan. Tetapi orang itu tetap bisa membawa virus dan menularkan kepada orang lain.

Tes yang tepat atau akurat untuk menyasar adanya virus Corona, SARS-CoV-2 di tubuh pasien adalah tes PCR sebagai golden standar pendeteksi Covid-19. Sedangkan fasilitas PCR di laboratorium Indonesia sangat sedikit. Oleh sebab itu Erlina menyarankan kepada pemerintah untuk meningkatkan fasilitas rapid PCR, karena tes PCR dianggap lebih tepat untuk menentukan pasien tersebut positif atau negatif dari Covid-19, dan supaya hasil pemeriksaan bisa didapatkan lebih cepat lagi. (Dikutip dari Kompas.com, 31/3/2020)

Dari penjelasan pakar kesehatan di atas seharusnya penguasa mempertimbangkan kebijakan yang akan dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 ini untuk melindungi masyarakatnya, akan tetapi justru bersikap lamban dan mencukupkan dengan mengadakan tes massal untuk menanganinya.

Beginilah buruknya sistem kapitalis yang berlaku saat ini, kebijakannya pun bersifat parsial hingga tidak akan memberikan solusi menyeluruh dalam penanganan wabah yang melanda negeri.

Berbeda dengan sistem Islam. Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu menunjukkan sikap sebagai peradaban modern membangun ide karantina dan social distancing untuk mengatasi wabah penyakit menular.

Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:
Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.”(HR al-Bukhari)

Pada masa kekhalifahan Umar bin al-Kaththab pun pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari)

Apa yang dicontohkan Rasululullah saw. bersama sahabatnya merupakan bukti riil tentang upaya pemimpin menyikapi wabah. Sikap tegas dan tanggap melakukan karantina wilayah serta social distancing segera diberlakukan. Tidak perlu menunggu tes apalagi mencari dana kesana kemari dengan buka rekening donasi sementara korban terus berjatuhan.

Kondisi sulit seperti apapun negara berbasis syariat akan berupaya maksimal memenuhi kepentingan umat, dan sikap ini hanya ditemukan dalam sistem Islam karena arahannya syara’ bukan hawa nafsu manusia . Maka, jelaslah bahwa Islam adalah solusi yang terbaik untuk menangani wabah yang terjadi saat ini.

Adapun solusi yang dilakukan pemerintah saat ini tidak akan memberikan kemaslahatan dan kenyamanan maksimal kecuali pemerintah dan kaum Muslimin mau mengambil solusi Islam dengan menerapkan syariat Islam dalam bingkai Khilafah Rasyidah dengan segala kesempurnaannya karena bersumber dari Zat Yang Maha Sempurna. Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *