Rapuhnya Keutuhan Keluarga

Rapuhnya Keutuhan Keluarga

Oleh : Indriani Mulyanti Amd Keb

WWW.POJOKOPINI.COM — Ketika seseorang menikah, pasti berkeinginan agar pernikahannya langeng, harmonis, dan selalu dipenuhi cinta sampai akhir hayat. Tidak ada satu pernikahan pun yang mau berujung dengan perceraian. Karena perceraian adalah hal yang dibenci oleh Allah SWT walaupun hukumnya boleh.

Setiap pasangan yang berumahtangga pasti mengalami berbagai masalah dan goncangan. Jarang sekali ada pernikahan yang mulus tanpa menghadapi terjalnya masalah kehidupan. Perlu tenaga ekstra untuk mempertahankan keutuhan rumahtangga di zaman kapitalis yang memiliki permasalahan kehidupan yang sangat kompleks.

Keluarga unit terkecil dari sebuah peradaban. Tempat mencurahkan kasih sayang, lembaga pendidikan pertama (madrasatul ula) dalam membentuk karakter (character building) setiap orang, dan untuk mempersiapkan generasi yang menentukan masa depan suatu bangsa. Keharmonisan keluarga sangat berpengaruh terhadap mental dan psikis anak. Kematangan emosional anak akan lebih stabil jika ia dirawat dengan keluarga yang penuh cinta, kasih sayang dan harmonis.
Meroketnya kasus perceraian yang terjadi di Indonesia membuktikan bahwa bagian unit terkecil dari negeri ini (keluarga) sedang tidak sehat. Dari tahun ke tahun kasus angka perceraian meningkat tajam. Bersumber dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, dilansir dari databoks (20/2/2020) perceraian pada tahun 2015 sebanyak 353.843 kasus, 2016 sebanyak 365.654 kasus, 2017 sebanyak 374.516 kasus, 2018 sebanyak 408.202 kasus.

Berdasarkan Laporan Tahunan Mahkamah Agung (MA) 2019 yang dikutip detikcom, Jumat (28/2/2020) perceraian tersebar di dua pengadilan yaitu Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. Pengadilan Agama untuk menceraikan pasangan muslim, sedangkan Pengadilan Negeri menceraikan pasangan nonmuslim.Dari data Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia, hakim telah memutus perceraian sebanyak 16.947 pasangan. Adapun di Pengadilan Agama sebanyak 347.234 perceraian berawal dari gugatan istri. Sedangkan 121.042 perceraian di Pengadilan Agama dilakukan atas permohonan talak suami. Sehingga total di seluruh Indonesia sebanyak 485.223 pasangan. Penyebab perceraian terbanyak karena perselisihan dan faktor ekonomi. Sementara masalah lainnya adalah suami/istri pergi (17,55%), KDRT (2,15%), dan mabuk (0,85%).
Kasus perceraian akan memberikan dampak pada semua pihak, terutama kepada anak. Anak yang mengalami broken home akan lebih rentan mengalami trauma, merasa kesepian, bahkan jika tidak diarahkan bisa menyebabkan perilaku buruk yang bisa mengarah pada kenakalan remaja.

Upaya Pemerintah Menekan Angka Perceraian

Pemerintah menempuh berbagai upaya untuk menurunkan angka perceraian yang tinggi di Indonesia, diantaranya :

  1. Revisi UU Perkawinan
    Salah satu poin penting dari RUU Perkawinan tersebut ialah disepakatinya batas usia perempuan dan laki-laki minimal 19 tahun untuk bisa melangsungkan pernikahan. Batasan usia dimaksudkan untuk menghilangkan diskriminasi, memberikan pendidikan dan informasi yang baik, menyiapkan alat-alat reproduksi yang sehat, dan menghindari perceraian.
  2. Kursus Calon Pengantin (SusCaTin) atau Sertifikasi Nikah
    Kegiatan SusCaTin ini bertujuan agar calon pengantin paham kewajiban dan hak suami istri, bagaimana pola asuh anak, untuk menekan angka perceraian dan menjadikan keluarga sakinah mawadah dan rahmah
  3. Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian (BP4)
    Tugas BP4 untuk menekan angka perceraian di Indonesia melalui pembinaan yang bersifat preventif. Badan ini memiliki bidang garap yang cukup banyak mulai dari pra nikah sampai dengan perkawinan, perceraian dan masa purna perceraian dengan bentuk penasehatan antara lain; penasehat individual, penasehat keliling, dan penasehatan melalui media cetak dan media massa.
  4. Mewajibkan pasutri yang akan bercerai untuk menyumbang 100 pohon di KUA.
    Ide Kreatif ini di cetuskan oleh gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Dilansir vice.com (19/12/2019) Ide itu muncul karena pemprov Jawa Barat ingin mereboisasi lahan gundul di Kawasan Bandung Utara (KBU) dan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
    Sayangnya upaya-upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang sesuai harapan, angka perceraian terus meroket tak terkendali. Lalu bagaimana Islam mengatasi permasalahan ini??

Solusi Islam Dalam Menjaga Keutuhan Keluarga

Islam mengatur secara rinci dan jelas tentang pernikahan. Keutuhan keluarga menjadi perhatian utama, bahkan menjadi tanggungjawab negara. Tidak ada sistem dan aturan yang selengkap dan sesempurna Islam, sangat rinci mengatur urusan keluarga, mulai dari performa suami – istri, komitmen mereka dalam menjalankan kewajiban dan memenuhi hak pasangan, visi-misi mendidik keturunan, dan sebagainya.
Termasuk merinci tanggungjawab masyarakat dalam memenuhi dan mendukung fungsi keluarga dan sebagai anggota masyarakat. Bahwa wajib ada kepedulian terhadap problem sesama, entah problem ekonomi, pergaulan, adab, dsb. Dan Islam mengamanahkan negara untuk menjalankan hukum-hukum yang terkait dengan penjagaan dan perlindungan keluarga berikut tugas dan fungsinya.
Islam memberikan kewajiban untuk mencari nafkah pada kaum pria, bukan perempuan. Islam juga memberikan kewajiban bagi kerabat dekat untuk membantu saudaranya yang kekurangan. Jika kerabat dekatnya juga tidak mampu untuk membantu, maka negara berkewajiban untuk membantu rakyat miskin dengan memberikan zakat. Islam pun mewajibkan semua kaum muslim untuk membantu orang-orang miskin.

Islam secara sempurna mengatur peran ayah sebagai pemimpin/kepala rumah tangga yang berkewajiban memenuhi nafkah keluarga dan menjadi imam yang baik bagi istri dan anak-anaknya, menanamkan nilai-nilai Islam agar selamat dari api neraka. Peran istri tak kalah penting sebagai ummu warabbatul bait dan madrasah pertama bagi anak-anak serta memberi rasa tenteram dalam rumah. Hubungan suami istri dalam Islam bukan sekedar pemenuhan nafsu dan materi namun hubungan persahabatan saling menyayangi dan menjaga ketaatan kepada Allah agar menjadi pasangan dunia-akhirat.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (TQS. Ar Rum: 21)

Syariat Islam telah teruji bisa meminimalisir angka perceraian. Dan hanya Islam saja yang bisa memberikan solusi secara rinci dan jelas untuk tiap pemasalahan kehidupan termasuk menyelesaikan konflik rumahtangga. Maka mari terapkan syariat Islam secara kaffah agar bisa mewujudkan keutuhan keluarga yang bisa melahirkan generasi yang gemilang. Wallahu’alam bishshawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *