Rasa Takut Akan Jenazah Covid Menyebar Virus

Rasa Takut Akan Jenazah Covid Menyebar Virus

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — Belum usai perkara minimnya fasilitas kesehatan sehingga banyak suspect COVID-19 banyak ditelantarkan, kini muncul fenomena tak kalah genting. Ramai-ramai warga di beberapa daerah menolak jenazah pasien positif ataupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19. Salah satu yang disorot adalah penolakan jenazah di tempat pemakaman umum (TPU) di Makassar dan Gowa, Sulawesi Selatan. Ini berawal dari penolakan warga di sekitar TPU Baki Nipa-nipa, Kelurahan Antang, Manggala, Makassar pada Minggu (29/3/2020). Masih di Manggala, penolakan juga datang dari warga sekitar TPU Pannara pada Selasa (31/3/2020). (Tirto.id)

Di sejumlah daerah, pemakaman jenazah positif Corona COVID-19 mengalami penolakan dari warga setempat. Ketakutan dan kecemasan terkait penularan COVID-19 menggelayut di pikiran masyarakat. Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Darmawan menerangkan, kondisi tersebut memang tak bisa dihindari di lingkungan masyarakat. Tak heran, pemakaman jenazah positif COVID-19 akan mendapat penolakan. (Liputan6.com)

Pasien positif corona asal Kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas meninggal dunia di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto, Selasa (31/3/2020) pagi. Saat jenazah akan dimakamkan, masalah muncul. Pemakaman jenazah mendapat penolakan di empat kecamatan, yakni Kecamatan Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan, Kecamatan Patikraja dan Kecamatan Wangon. Akhirnya jenazah pasien dimakamkan Selasa malam di lahan milik pemkab di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. (Kompas.com)

Sejak Indonesia darurat covid-19, tak sedikit korban jiwa yang menurut data 400 orang sementara laporan nasional hanya 170 kasus. Kasus Virus Corona di Jakarta diperkirakan sampai 4.000 kasus. Jumlah ini jauh di atas data resmi nasional yang disampaikan Jubir Virus Corona sebanyak 1.790 kasus (KabarMakkah.com).

Kebingungan umat atas kabar ini semakin membuat cemas, apalagi bertambahnya korban setiap saat meningkat drastis. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah juga menjadi salah satunya dimana masyarakat juga merasa menjadi ODP dan PDP adalah sebuah aib. Mereka dikucilkan, dibuang juga jenazah korban covid juga ditolak dibeberapa wilayah. Padahal sangat jelas bahwa ketika korban meninggal, maka virus itu mengikutinya. Namun ketakutan masyarakat akan hal ini menyebabkan suasana semakin tidak mampu dikendalikan.

Penguasa yang abai terhadap kondisi umat dan hanya memikirkan bagaimana kondisi umat tanpa harus melock down pusat wabah untuk menghentikan virus menyebar secara meluas di 32 wilayah saat ini, bahkan membolehkan mudik meski dengan syarat tertentu. Seperti membiarkan saja korban semakin berjatuhan, bukan menghentikannya dengan segala daya dan upaya, sungguh amat menyedihkan sekali.

Sebenarnya sudah ada beberapa prosedur yang dilakukan oleh pihak RS dan telah ada fatwa dari MUI, dimana sudah sesuai SOP. Jadi bisa dipastikan jenazah itu aman dari virus karena sudah sesuai prosedur. Masalahnya ketika dikuburkan inilah yang membuat masyarakat kurang memahaminya, kurang sosialisasi dan kurang dari segi ilmu.

Islam menyakini bahwa air dapat menyucikan begitu juga tanah. Maksudnya adalah kedua media ini adalah ciptaan Allah untuk manusia pakai sebagai cara untuk menyucikan diri dan bisa menghilangkan bau tadi. Pada dasarnya semua makhluk yang mati akan menjadi bau kecuali tumbuhan, karena itu menguburkan adalah sesuatu yang diajarkan didalam Islam untuk meredam bau dan menghilangkan semua penyakit yang dibawanya. Inilah yang tidak dipahami masyarakat, malah membiarkan atau mengabaikan untuk menguburkan akan menimbulkan banyak penyakit.

Disini jelas kita bisa melihat bagaimana peran negara ketika mengatasi wabah penyakit, demikian pula kita melihat keberhasilan dari akidah kapitalis yang memisahkan agama dengan kehidupan. Dimana manusia hanya memikirkan dirinya sendiri sama seperti penguasa saat ini, mereka tidak akan bergerak selama merasa diri masih aman, social distancingkah, pshycal disctancingkah, selama belum lock down tidak akan berjalan sempurna. Jika Rasullullah telah mengambil langkah diikuti oleh umar, mengapa tidak kita ikuti hal tersebut? Lalu hukum siapa yang lebih baik dari hukum Allah yang maha mengasihi hambanya.

Keberhasilan dari akidah ini seolah membuat masyarakat buta bahwa ada hak orang lain yang harus dipenuhi yaitu setelah kehidupan adalah kematian. Jika mereka takut akan virus merebak alangkah baiknya menguburkan jenazah secepatnya tanpa harus mengalami penolakan. Ketekutan mereka memang wajar selama mereka tidak memahami peran penting agama untuk membentuk individu yang tawakal kepada Rabb-nya. Masyarakat paham kematian itu pasti akan datang kapan saja, tidak bisa ditolak, dihindari dan digeser. Namun masyarakat tidak paham ikhtiar apa yang harus mereka lakukan saat sedang wabah ini, kembali lagi kita semua adalah korban dari sistem jahat ini. Hingga kepanikan diseluruh dunia terjadi akibat kita tidak menerapkan hukum Islam secara kaffah. Maka peran negara sangant pentingsaat ini, yang justru mengabaikan dan membiarka korban berjatuhan disamping kurangnya medis.

Mati adalah sesuatu yang pasti akan dialami oleh semua makhluk hidup di dunia ini, namun faktanya saat ini hal itu sungguh memilukan. Diseluruh dunia kita melihat hari ini ada begitu banyak korban dari wabah ini, jika Cina memilih untuk mengkremasi semua jenazah itu. Maka berbeda halnya dengan Italia yang sekarang angka kematiannya lebih tinggi dari China, mengumpulkan semua korban dalam satu tempat yang sama dan mendorongnya kesebuah lubang terbuka berisi ribuan jenazah lainnya. Miris sekali rasanya melihat kumpulan korban itu seperti bangkai yang dibuang begitu saja, ini dapat dipahami karena mayoritas mereka bukan beragama Islam dan juga sudah merasa kewalahan dengan banyaknya korban.

Jangan sampai kemudian kita mengalami hal yang sama dengan negara lain, dimana tidak ada lagi tempat untuk menguburkan jenazah dan memilih untuk membakarnya karena takut virus menyebar, padahal wabah ini juga dulu pernah terjadi dimasa khalifah Umar Bin Khatab. Kita juga pernah mengalami Tsunami dahsyat di Aceh dengan bergelimpangan mayat dijalanan, dan memilih mengubur missal semuanya. Kita juga menyakini mereka yang meninggal karena wabah ini insyaallah syahid. Semoga wabah segera berlalu dan kemenangan segera tiba bagi kaum muslimin. Wallahu ‘alam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *