Ratapan Dunia dalam Derita

Ratapan Dunia dalam Derita

Penerapan ideolagi kapitalisme sekuler menjadikan umat tak tahu tujuan hidupnya apa, sehingga banyak di antara mereka yang kalang kabut mengurusi dunianya. Membuat konsep kehidupan seperti yang diinginkan.


Oleh: Jumratul Sakdiah, S.Pd.

POJOKOPINI.COM — Tulisan ini tidak sedang meratapi keadaan. Tetapi tulisan ini adalah wasilah disampaikannya sebuah kebenaran. Bagaimana tidak, fakta nyata ada dalam penglihatan dan bahkan setiap hari muncul di pemberitaan. Tentunya ini semua takkan pernah lepas dari ingatan.

Sebelum pandemi, sesungguhnya umat manusia di seluruh dunia dalam keadaan derita. Ditambah dengan keadaan sekarang ini. Umat semakin terpenjara dalam penderitaan yang terus bertambah.

Penerapan ideolagi kapitalisme sekuler menjadikan umat tak tahu tujuan hidupnya apa, sehingga banyak di antara mereka yang kalang kabut mengurusi dunianya. Membuat konsep kehidupan seperti yang diinginkan.

Kehidupan semakin bebas tanpa batas, gaya hidup serba mewah karena mereka memandang bahwa uang dan materi adalah segalanya serta mereka memandang bahwa bebas melakukan apa saja asalkan memperoleh kebahagiaan. Imbasnya, akibat gaya hidup yang kebablasan, tidak sedikit diantara mereka yang menanggung akibatnya. Dipenuhi dengan kesempitan hidup atau tak memperoleh ketenangan sama sekali.

Menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang, hingga harus mencuri uang rakyatnya, haus kekuasaan sampai ketika berkuasa tak bisa mengatur masyarakatnya, hilang tanggung jawab kepemimpinan, jauh dari kata amanah.

Kebijakan yang hanya menguntungkan para pemodal sampai akhirnya kekayaan alam banyak terjual dan tentu hasilnya tak bisa dinikmati oleh segenap bangsa. Setelahnya yang terjadi adalah negeri miskin, pengangguran meroket, utang kian bertambah, APBN mengalami defisit dan semua berujung pada kesengsaraan rakyat dan bahkan merenggut nyawa. Pasalnya banyak di antara mereka yang meninggal karena kelaparan (mataram.tribunnews.com, 22/04/2020), fasilitas kesehatan yang kurang memadai sampai akhirnya pasien meninggal dunia (bantennews.co.id, 25/04/2020), pencemaran udara dari limbah perusahaan tambang milik swasta sampai kabut asap yang banyak memakan korban (m.merdeka.com, 16/09/2019) terjadi secara berulang. Akibat pengusaha leluasa melakukan perluasan lahan dengan membakar hutan dalam cakupan yang besar.

Karena dalam sistem ini, kapitalis semakin kaya dan rakyat jelata bertambah derita. Serta penguasa dan kroninya tak ada ketakutan terhadap hisab Sang Pencipta di akhirat kelak karena mereka tak mempercayainya.

Hidup serba bebas juga menjadikan manusia kehilangan jati diri dan kemuliaannya. Kebebasan seksual berujung kehamilan dan aborsi, munculnya penyakit menular HIV/AIDS, dan bermunculan seorang anak yang lahir tanpa asal usul keturunan yang jelas. Perselingkuhan yang mengalami peningkatan setiap tahunnya dan berbanding lurus dengan tingkat perceraiannya. Kejahatan seksual yang marak terjadi akibat atmosfer lingkungan yang mendukungnya. Melalui video porno yang sampai saat ini tidak ada kebijakan tegas untuk menghapus semua situs yang memfasilitasnya, tatanan pergaulan yang jauh dari penjagaan kehormatan manusia dan hilangnya kesadaran individu terhadap pemahaman Islam yang sedemikian rupa telah memuliakannya.

Pengendalian wabah misalnya, setelah mengetahui ada wabah dalam suatu negeri, seharusnya negara tersebut dikunci agar virus tak tersebar ke seluruh penjuru dunia. Islam telah mengatur hal itu. Namun yang terjadi adalah kelalaian negara mengendalikan virus corona menjadikan seluruh dunia harus menanggung deritanya. Makhluk Allah yang kecil itu telah menjadi malapetaka besar bagi dunia dan tatanan peradaban manusia secara keseluruhan.

Intinya segala masalah yang ada, penderitaan dan kesusahan yang dihadapi umat saat ini. Semua bercokol dari kepongahan manusia terhadap syariat Allah SWT. Sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah menjadikan akal manusia yang bersifat terbatas mengatur dirinya sendiri tanpa melibatkan penciptanya. Batasan yang ada dalam syariat tak dilihat dalam segala lini kehidupan. Islam hanya dipandang dari segi ritual biasa yang tak ada beda dengan agama lainnya yang tentu semua tahu bahwa agama selain Islam tidak mencakup pengaturan manusia secara keseluruhan.

Manusia punya nafsu dan keinginan dalam dirinya. Jika hal ini tak dibimbing dengan wahyu, maka dia bisa melakukan apa saja yang nantinya akan berakhir kepada penyesalan dan penderitaan. Maka dalam hal ini manusia butuh Allah, agar dia tak salah langkah dan salah memilih yang terbaik untuk hidupnya. Karena pada hakikatnya manusia tak mampu menerawang masa depan dan jauh dari kesempurnaan. Pastinya, bagaimana mungkin dia mampu mengatur manusia yang beragam karakter dan masalahnya.

1400 tahun yang lalu, Allah telah menurunkan risalah Islam yang sempurna dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Sebagimana dalam firman Allah yang berbunyi:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (TQS. Al-Anbiya: 107).

Kesempurnaan Islam juga disampaikan Allah dalam kitab suci yang berbunyi:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Artinya:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (TQS. Al-Maidah: 3).

Kehebatan Islam dalam mengatur manusia telah mercusuar dunia. Hal ini terbukti dari sepanjang sejarah kejayaan Islam. Islam pernah memimpin dunia selama 13 Abad. Menjadi negara adidaya yang tak bisa disaingi oleh negara manapun. Dan dunia saat itu mengakuinya. Rahmat dan keberkahan yang dihiasinya terpancar ke seluruh penjuru dunia.

Peradaban yang sangat manusiawi tidak pernah mendiskriminasi orang selain Islam. Justru dengan syariat Islam yang sempurna mampu memanusiakan manusia.

Dipimpin oleh seorang khalifah yang takut kepada Allah. Tidak berani berbuat salah dan peduli terhadap rakyatnya karena dia sadar bahwa kehidupan tidak berakhir sampai di dunia saja. Sehingga dia beramal di dunia tapi pandangannya nun jauh disana negeri akhirat. Pemimpin dimandat oleh rakyat untuk menjalankan Islam secara sempurna di semua aspek kehidupan.

Tak ada paksaan memeluk agama Islam bagi pemeluknya. Aturan Islam dalam negara akan melindungi segenap rakyat dan menjamin semua kebutuhannya. Sehingga tak heran, jika banyak orang yang ingin hidup dalam naungannya, bahkan banyak diantara mereka yang berbondong masuk Islam karena melihat indahnya Islam dalam penerapan individu sampai negara.

Sudah saatnya akhiri penderitaan karena semua derita yang dialami dunia saat ini adalah berawal dari ditinggalkannya Islam dari kehidupan. Islam sebagai ideologi dan pemecah segala masalah harus kembali diterapkan oleh institusi mulia yang dicontohkan nabi dan para sahabatnya yaitu khilafah ‘ala minhajinnubuwwah.[]

One thought on “Ratapan Dunia dalam Derita

  1. Paham kapitalisme itu tergantung dilihat dari sisi mananya, kalau dilihat dari sisi penulisnya sendiri memang agak jauh berbeda dari apa yg dipahami pembaca. Sejauh ini yg saya tahu sih begitu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *