Remaja Bertaqwa Hanya dengan Islam

Remaja Bertaqwa Hanya dengan Islam

Krisis identitas yang melanda kaum remaja saat ini, membuat mereka mencari arti jati dirinya. Termasuk di dalamnya adalah hakikat mengenai dri mereka sendiri.

Oleh : Mulyaningsih, S.Pt
Pemerhati keluarga, anak dan remaja
Member Akademi Menulis Kreatif

WWW.POJOKOPINI.COM — Eksis, terkenal, populer dan hebat adalah deretan kata yang menunjukkan wajib adanya dikalangan remaja. Segala macam cara tentunya mereka lakukan demi mewujudkannya. Mulai dari belajar yang tekun dan sungguh-sungguh, mengikuti lomba dalam berbagai ilmu serta hal-hal lainnya. Ironisnya, mereka menghalalkan segala macam cara untuk mewujudkan keinginannya, tentunya agar eksis dapat mereka kantongi. Aktivitas remaja yang kelewat batas dan sering berulang kejadiannya adalah mereka dekat dengan aktivitas yang notabenenya tak sesuai dengan gelar yang diharapkan. Aktivitas tersebut adalah mereka dekat dengan barang-barang haram (narkoba), pergaulan bebas (pacaran, LGBT, kumpul kebutuhan), tauran antar remaja (pelajar), membunuh (orang terdekat atau bahkan gurunya sendiri) dan masih banyak yang lainnya. Astagfirullah, ini adalah langkah yang sudah di luar tracknya alias kebablasan.

Seluruh aktivitas di atas sengaja mereka lakukan agar kata eksis melekat erat pada diri. Wajarlah jika yang mereka lakukan amat jauh dari kata kemajuan dalam sisi pikiran dan perbuatan. Lantas inilah yang mengakibatkan identitas mereka akhirnya sirna bagai di telan bumi. Tak tau lagi halal-haram, terpuji dan tercelanya suatu aktivitas. Semua dianggap baik di mata mereka.

Krisis identitas yang melanda kaum remaja saat ini, membuat mereka mencari arti jati dirinya. Termasuk di dalamnya adalah hakikat mengenai dri mereka sendiri. Hakikat tersebut muncul dari beberapa pertanyaan mendasar, yaitu siapa saya sebenarnya? Hidup didunia untuk apa? Harus berbuat seperti apa? Oleh karenanya, remaja senang sekali berkumpul membentuk sebuah kelompok-kelompok yang memiliki tujuan serta visi misi yang sama satu dengan yang lainnya. Tidak lain dengan tujuan mengeksiskan diri mereka. Yang tampak oleh kita mereka sering berkumpul membentuk genk motor salah satunya. Ini yang sangat familiar ditelinga kita.


Perwujudan aktivitas yang mereka lakukan adalah salah kaprah dan jauh dari nuansa anak sekolah. Seperti melakukan tawuran antar remaja, kebut-kebutan di jalan raya atau bahkan memalak teman sebaya mereka, agar mampu membeli barang yang mereka incar. Yang lebih parahnya adalah mereka mampu melakukan tindakan kriminal kepada orang yang seharusnya dia hormati, sayangi dan sanjung. Sebut saja, mereka mampu melakukan pemukulan terhadap sang guru sampai meninggal dunia. Ini sudah di luar akal kita, kenapa mereka berani dan tega melakukannya? Pada kenyatannya korban adalah guru mereka sendiri. Kejadian ini tidak sekali dua kali saja, bahkan terus berulang setiap tahunnya. Hanya alasan ditegur karena asik main game online saat pelajaran berlangsung, guru mendapatkan pukulan dari murid yang ditegur tadi. Bukannya meminta maaf, si murid malah memukuli guru tersebut dengan kursi. Nauzdubillah, mungkin itulah kata-kata yang pantas untuk diutaran kepada kaum remaja saat ini.

Belum lagi fakta tindakan asusila yang kerap kali di lakukan oleh remaja. Entahlah itu aktivitas pacaran terhadap lawan jenis yang sampai melakukan hubungan intim layaknya seperti pasangan suami istri. Kemudian LGBT yang kerapkali menjadi racun candu bagi remaja. Ataukah mengedarkan serta memakai narkoba menjadi ajang yang biasa dikalangan mereka. Lantas kemudian timbullah pertanyaan dalam benak kita, inikah yang kita inginkan pada generasi remaja sekarang? Akankah masa depan gemilang dan kejayaan akan kembali diraih, melihat kondisi remaja yang sangat memprihatinkan seperti gambaran di atas?

Itu semua adalah potret buram dunia pendidikan sekarang. Generasi remaja sekarang hanya mementingkan permasalahan dunia semata tanpa mau berpikir untuk hari kemudian. Berbagai permasalahan di atas terjadi karena adanya pemahaman pemisahan antara Islam dengan masalah dunia (sekulerisme). Jangan bawa-bawa agama pada ranah kehidupan, itulah ungkapan mungkin yang sering kita dengar. Walhasil, fakta membuktikan bahwa sekulerisme makin subur dan mengakar kuat di dunia pendidikan sekarang bahkan hampir di seluruh negeri muslim.

Penanaman ide sekulerisme pada setiap sekolah membuat para pelajar akhirnya jauh dari Al Qur’an. Dari situ akhirnya tercerabutlah ilmu dari pola pikir manusia yang berdampak pada menyingkirkan wahyu Allah sebagai dasar utama pendidikan. Jika pemikiran manusia jauh dari wahyu maka sangat berpengaruh kepada pola sikap dan kepribadiannya secara keseluruhan. Sekulerisasi pada ilmu pengetahuan akan memfasilitasi mudahnya pemikiran-pemikiran asing masuk di benak kaum terpelajar. Pemikiran-pemikiran asing yang muncul akan menjadi bahan bakar utama kemunafikan. Sehingga terjadilah ditengah-tengah umat kemunculan kaum munafik, yang pikirannya bertentangan dengan syariat Islam.

Fakta sejarah menyebutkan bahwa Islam pernah berjaya selama 13 abad lamanya. Saat itu semuanya maju, termasuk dunia pendidikanny Banyak dari kaum muslim yang berhasil menemukan karya-karya terbaik mereka dan dapat dimanfaatkan oleh manusia secara umum. Semua itu tak lepas dari adanya tiga dukungan yang kemudian juga menjadi perisai umat. Ketiga dukungan tadi adalah adanya sistem, pemimpin dan negara yang mampu menjalankan Islam secara sempurna dan menyeluruh.

Dari sisi negara yang mampu menerapkan sistem Islam secara sempurna dan menyeluruh, kemudian ditambah dengan pemimpin yang mau menjalankannya maka dengan mudah kejayaan di capai. Dari sisi dunia pendidikan, maka akan berbasis (dasar) pada aqidah Islam. Hal tersebut yang akhirnya mengantarkan semua insan muslim untuk menuntut ilmu tanpa mengenal batas usia, suku dan asal. Mereka dipacu untuk bisa melahirkan karya-karya yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ditambah juga dengan peran utuh negara yang menyediakan lengkap sarana dan prasarana. Seperti penyediaan gedung sekolah yang mempuni, guru yang berkualitas, laboratorium serta perpustakaan yang mutakhir. Semua itu dilakukan agar mencetak generasi yang berkualitas dari sisi keimanan dan ilmu pengetahuannya.

Tokoh-tokoh muslim juga banyak yang menjadi penemu tersohor. Contohnya adalah Al kawarizmi beliau menemukan angka nol, Al Haysam penemu konsep optik. Dalam Islam, orang-orang yang berilmu pastilah dia juga akan menjadi seorang ulama yang mempunyai tingkat ketaqwaan yang sungguh luar biasa. Sebagai contoh adalah sosok Imam al-Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Hanafi al-Ghazali, Ibnu taymiyah dan masih banyak yang lainnya. Mereka semua adalah sosok ulama yang dikagumi oleh umat dan menjadi teladan.

Dari contoh diatas sudah seharusnya kita dapat mengembalikan kejayaan Islam, tentunya harus merubah sistem yang ada sekarang. Menerapkan dan melaksanakan sistem yang berasal dari pencipta kita yaitu Alah Swt. agar semua cemerlang dan bersinar. Begitu juga dari sisi para pemudanya. Mereka benar-benar menjadi tonggak penerus peradaban sebuah negeri. Mari kita sama-sama mewujudkan kembali masa keemasan yang telah Rasulullah contohkan. Sekaligus sebagai bukti memenuhi panggilan aqidah kita, maka wajib-lah untuk berjuang bersama, menempa diri bersama dengan cara mengkaji ilmu-ilmu Islam agar kejayaan Islam dapat kembali mewarnai dunia ini.[ ]


Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *