Resek

Resek

Kepedulian berbeda dengan keingintahuan. Peduli itu atas izin empunya, dia memberi ruang untuk kita memasuki lingkar dirinya, dia membuka pintu. Namun keingintahuan yang dahaga itu mendobrak segala yang membentengi. Dan ini sungguh adab yang buruk dan layak dijauhi.


Oleh: Ummu Farhan

POJOKOPINI.COM — Ada kalanya masalah orang lain sangat penting bagi kita, kejadian hidupnya membuat kita begitu tertarik, sehingga kita tak mampu membendung kekepoan yang mendalam untuk mengorek-ngorek segala tentangnya. Demi memuaskan nafsu kekepoan itu.

Ada kalanya mata mencari-cari siapa tersalah. Menilai-nilai seolah diri paling-paling, si dia itu paling buruk. Lalu kekejian pun berlanjut mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lain untuk memperkuat persepsi tersalah. Pokoknya di posisi ini, diri paling-paling.

Kita tak ada urusan dengan hikmah dan solusi untuk meringankan beban di pundaknya, hanya ingin memuaskan syahwat kekepoan yang mendalam. Seolah diri ini tak sanggup menahan kekepoan itu, menelaah, mengorek, mendetili problem pribadi orang lain yang tak ada udzur syar’i bagi kita untuk mengetahuinya.

Meski ada kalanya mendengarkan tak berniat, maka baik jika lisan bisa tertahan, mungkin ada hikmah dari apa yang didengar dan dilihat. Namun bisa kacau jika lisan tak terjaga dari keceplosan. Allah na’udzubillah. Ini resek, namanya. Memang posisi amannya adalah tak mengetahui detil masalah orang lain, karena ada kalanya informasi itu justru kutukan. Cukup tahu untuk berempati dan mendoakan, bukan mencampuri padahal tak punya kapasitas. Janganlah menjadi jembatan aib itu melebar, terus membesar dan menggelinding.

Tipe peresek ada di mana-mana, mereka sering disebut biang gosip. Julukan yang sungguh menyeramkan. Semoga Allah ampuni kita semuanya. Aamiin.

Tak ada kita yang tanpa aib. Kita semua punya hal yang kita tutupi. Kita melakukan framing atas diri kita, menutupi yang tak kita inginkan untuk diketahui orang lain, dan menonjolkan hal-hal yang kita izinkan untuk ditengok. Ini framing. Ini lazim dan biasa terjadi pada setiap orang. Tak segalanya kita buka, ada yang kita simpan hanya untuk kita dan Allah, misalnya.

Itulah kenapa aib orang lain tak selayaknya lebih menarik dari aib diri. Sungguh diri ini terkadang memang sangat keterlaluan, dia menjauh dari yang dititah Tuhan. Diri ini mengira bahwa dia sempurna, padahal orang lain punya peluang yang sama untuk membongkar aibnya, hanya saja orang lain dan dirinya berbeda dalam taqwa.

Apa yang kau cari, Wahai Diri? Kenapa kau sangat dahaga untuk mengetahui informasi tentang kehidupan pribadi orang lain? Kau resek sekali, Diri. Semoga Allah ampuni. Jangan amal rontok karena kekepoan yang tidak pada tempatnya, jangan pilih kasih dengan kekepoan yang tak adil kau hilangkan dalam aktivitas menuntut ilmu, jangan makan bangkai saudaramu!

Kepedulian berbeda dengan keingintahuan. Peduli itu atas izin empunya, dia memberi ruang untuk kita memasuki lingkar dirinya, dia membuka pintu. Namun keingintahuan yang dahaga itu mendobrak segala yang membentengi. Dan ini sungguh adab yang buruk dan layak dijauhi. Semoga Allah berikan kita hikmah untuk mendudukkan kepedulian terhadap sesama di tempat indah bernama ukhuwah, dan menjadikan keingintahuan berlebih atas kehidupan orang lain itu sebagai warning untuk kita jaga batas diri ini.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *