Resolusi Umat Akhir Tahun: Representasi Toleransi Beragama dengan Menjaga Akidah Antar Agama

Islam secara konsepsi dan strategi mampu mewujudkan kehidupan sejahtera dan anti konflik berkepanjangan, Saatnya mengembalikan representasi toleransi antar umat beragama secara totalitas. Yaitu mewujudkan masyrakat penuh damai, hidup berdampingan dan harmonis sesuai dengan agama yang diyakininya masing-masing.


Oleh: Desi Wulan Sari, M. Si (Pengamat Publik dan Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Menyalahartikan sebuah toleransi beragama akan menjadi sebuah pemahaman yang hanya dilakukan sesuai dengan isi kepala masing-masing individu. Yang menurutnya benar maka akan ia lalukan, tetapi jika menurutnya tidak benar maka ia akan menolaknya dengan semena-mena.

Padahal, hubungan antar umat beragama sejak masa Rasulullah Saw telah dicontohkan dengan gamblang. Bagaimana jelasnya, kehiduan umat berbeda suku bangsa, agama dan bahasa. Layaknya Bhineka Tunggal Ika kini, saat itu Rasulullah Saw dengan Negara Daulah Islam nya mengatur segala bentuk hubungan antar umat agama sesuai dengan kehendak Allah Swt. Menjadi seorang pemimpin negara, bukan berarti membuat aturan sesuai kepentingan yang beliau mau, tetapi justru beliau membuat aturan yang tegas dan penuh perhatian kepada rakyat yang berbeda keyakinan, berada di bawah naungan Daulah Islam saat itu, mereka dilindungi dan diberi kebebasan menjalankan ibadahnya sesuai dengan akidahnya. Sedangkan, aturan hidup secara hukum dan kepatuhan, tunduk dan patruh pada aturan Negara Islam. Berpijak pada aturan yang disampikan oleh firman Allah Swt, melalui Rasulullah Saw sebagai sang pembawa risalah. Sesuai dengan surat Al kafirun sebagai berikut,

Lakum Diinukum Wa Liya diin
Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. Al Kafirun: 6).

Surat ini dalam tafsirnya menjelaskan, salah satu di antara prinsip akidah Islam yang harus dipegang dan dianut oleh setiap Muslim. Jika seorang Muslim memahami tentu ia akan menentang keras bentuk loyal dan mencampur aduk akidah Islam dengan akidah orang-orang nonmuslim atau akidah agama lainnya. Surat Al kafirun jelas ditujukan kepada umat bahwa Allah tidak menghendaki mencapuradukkan akidah Islam dengan yang lainnya.

Bukan tidak loyal, bukan pula tidak menghormati dengan tidak menghadiri perayaan mereka, tetapi justru dengan membiarkan mereka menjalankan ibadahnya adalah bentuk toleransi berupa penghormatan umat Muslim kepada umat beragama lain. Dalam surat Al Kafirun menegaskan, bahwa seorang Muslim dilarang untuk bertoleransi atau berkompromi dalam hal akidah, dan mencampuradukkan ajaran agama dengan akidah selainnya.

Jika hari ini, terpilihnya pejabat kementerian Agama yang baru, telah membuat berbagai statemen resmi tentang arti sebuah toleransi. Beliau menyebutkan Agama sebagai inpirasi bukan aspirasi. Ia juga menyebutkan dalam bahasa paling ekstrim, apapun yang berbeda keyakinan dianggap lawan, atau musuh. “Itu norma yang kemarin berkembang atau bahasa lainnya populisme Islam,” katanya. Ia tidak ingin populime Islam tersebut terus berkembang, karena dapat mengganggu kebhinekaan Indonesia (AntaraNews.com, 27/12/2020).

Jika sebuah negara, dijalankan dalam sebuah sistem yang sesuai dalam koridor syariat, tentu apa yang disampaikan pejabat negara dalam mengayomi umat Muslim, yang menjadi mayoritas sebuah negara akan menyayangkan dan merasakan hal tersebut sebagai solusi toleransi antar umat beragama.

Dalam sistem Islam, setiap permasalahan umat akan diselesaikan melalui ijtihad. Sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan sesuatu perkara yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Orang-orang tersebut disebut Mujtahid Mustaqil, yang berarti independen, karena mereka terbebas dari bertaqlid kepada mujtahid lain, baik dalam metode istinbat (ushul fiqih) maupun dalam furu’ (fiqih hasil ijtihad.

Jika agama dipisahkan antara makna dan fungsi, maka pemisahan inilah yang membatasi sebuah penerapan akidah secara kaffah bagi setiap umat dan antar umat beragama. Karena, setiap penerapan akidah berbeda dari agama yang satu dengan yang lainnya. Padahal, Islam sebagai inspirasi terbaik karena bersumber wahyu hingga mampu merespon dinamika persoalan sepanjang waktu.

Dan Islam sebagai aspirasi tidak mengancam keberagaman, justru memberi solusi atas tidak terwujudnya integrasi/keutuhan bangsa dalam sistem sekuler yang ada saat ini. Islam secara konsepsi dan strategi mampu mewujudkan kehidupan sejahtera dan anti konflik berkepanjangan, Saatnya mengembalikan representasi toleransi antar umat beragama secara totalitas. Yaitu mewujudkan masyrakat penuh damai, hidup berdampingan dan harmonis sesuai dengan agama yang diyakininya masing-masing. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *