Revisi Materi Khilafah dan Jihad, Upaya Penanaman Islamofobia di Tubuh Umat

Revisi Materi Khilafah dan Jihad, Upaya Penanaman Islamofobia di Tubuh Umat

Upaya yang dilakukan Kemenag ini jelas perlu dikuliti secara dalam. Pasalnya melalui pergantian kabinet ini, barulah mempersoalkan tentang khilafah dan jihad, sementara di tahun-tahun sebelumnya materi khilafah dan jihad sah-sah saja diajarkan baik dari perspeksif sejarah maupun ajarannya yang bersumber dari quran, sunnah dan pendapat ulama mu’tabar.

Oleh: Jumratul Sakdiah

WWW.POJOKOPINI.COM — Baru-baru ini publik kembali dikejutkan dengan kebijakan yang telah sah ditetapkan oleh kabinet rezim Jokowi jilid 2. Kementerian Agama (Kemenag) mencanangkan menggeser materi khilafah dan jihad di lingkup madrasah dari kajian fikih menjadi kajian sejarah. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan pembahasan khilafah dapat dilakukan secara fikih di level tertentu. (m.detik.com).

Upaya revisi 155 buku ajar di madrasah maupun sekolah dari tingkatan dasar sampai menengah pun akan dilakukan oleh Kemenag dan direncanakan akan launching di akhir tahun ini. Lebih dari itu upaya ini berlanjut saat Kemenag memanggil salah satu guru yang diduga membuat soal yang bernuansa khilafah.

Upaya yang dilakukan Kemenag ini jelas perlu dikuliti secara dalam. Pasalnya melalui pergantian kabinet ini, barulah mempersoalkan tentang khilafah dan jihad, sementara di tahun-tahun sebelumnya materi khilafah dan jihad sah-sah saja diajarkan baik dari perspeksif sejarah maupun ajarannya yang bersumber dari quran, sunnah dan pendapat ulama mu’tabar. Bukan hanya itu, pembentukan susunanan pemerintahan yang saat ini difokuskan untuk melakukan upaya deradikalisasi kepada umatpun dilakukan secara bersamaan. Tentu hal ini telah menampakkan korelasi yang jelas antara revisi materi khilafah dengan upaya deradikalisasi yang sejatinya adalah upaya modernisasi ajaran Islam.

Memang benar tidak menghapus materi khilafah dan jihad, hanya saja transisi dari ilmu fiqih menjadi sejarah jelas telah menodai ajaran Islam itu sendiri. Karena pada hakikatnya ajaran ini tidak bisa lepas dari hukum asalnya yang keduanya dijatuhkan hukum fardu kifayah, dan dalam hal ini tidak ada satupun pertentangan diantara ulama mu’tabar.

Mengajarkan khilafah dan jihad hanya dari sudut pandang sejarah. Jelas tidak mengindahkan ajaran Islam yang sempurna. Karena buku sejarah bisa ditulis oleh siapapun dan isinya akan dibuat berdasarkan sudut pandang penulis. Tentu hal ini akan mem – framing – wajah kelam penerapan Islam yang akan berdampak pada kesalahpemahaman terhadap ajaran Islam yang sebenarnya. Padahal telah diketahui, sejarah tidak bisa dijadikan sumber hukum, namun hanya sekedar pembuktian bahwa dulunya umat Islam pernah menjalankan sistem Islam dalam naungan negara khilafah.

Ketakutan Kemenag atas pemahaman Islam yang sebenar-benarnya diketahui oleh umat, telah terlihat nyata bahwa pemerintah anti Islam politik, karena disaat yang sama upaya modernisasi Islam terus dilakukan dengan menampilkan wajah Islam yang toleran, ramah dan memiliki wawasan kebangsaan yang tinggi. Tentu hal ini akan mendudukkan bahwa Islam cukup sampai di ranah individu saja. Padahal Islam telah sempurna dan dicontohkan oleh nabi bagaimana penerapannya. Terbukti melalui siroh perjalanan nabi dan khulafaurrasyidin bahwa khilafah dan jihad bagian dari kewajiban yang mereka jalankan dalam kehidupan bernegara.

Islam tidak bisa disamakan dengan agama lainnya, karena Islam adalah sebuah jalan hidup dan pandangan mendasar tentang kehidupan secara keseluruhan. Bagaimana mungkin khilafah dan jihad yang penerapannya harus ada dalam negara, dipelintir agar sesuai dengan keinginan manusia? Tentu ini adalah upaya mengkerdilkan Islam dan pembentukan Islamofobia ditengah-tengah masyarakat. Pastinya akan mengukuhkan penerapan sistem sekulerisme di negeri ini dengan menjauhkan sejauh-jauhnya ajaran Islam dalam kehidupan.

Namun, sebesar apapun upaya yang dilakukan untuk menghilangkan Islam dalam kehidupan alias Islam sebagai solusi hidup. Tetap saja gelombang kesadaran umat tidak akan terbendung. Ditambah dengan orang-orang yang berpikir untuk terus belajar Islam. Akan mendapati bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan baik individu maupun negara. Karena hal ini akan menjadi bom waktu yang satu ketika umat akan betul-betul paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kemenag telah menabuh genderang opini di tengah-tengah masyarakat yang justru telah membangunkan mereka dari tidur panjangnya yakni mereka akan mencari tahu apa itu khilafah dan jihad dari sumber aslinya yaitu quran, sunnah dan ijma para ulama. Karena ingatlah Allah tidak akan tinggal diam. Sebagaimana pun kebencian terhadap Islam pasti akan dikalahkam dengan kemenangan Islam yang telah Allah janjikan. Sejalan dengan firman Allah dalam surah As-Shaff:8,

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (TQS As-Shaff:8)

Khilafah adalah satu hal yang pasti dan bersamanya jihad akan dilakukan sebagai bentuk kekuatan kaum muslimin karena dengan jihad negeri-negeri kaum muslimin yang saat ini dalam keadaan terjajah akan segera dibebaskan.

Kebangkitan Islam itu pasti, maka tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Sebagaimana janji Allah dalam QS An-Nur:55 yang berbunyi:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (TQS An-Nur:55) Wallahu a’lam.[]


Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *