Role Model Generasi Pemimpin Umat

Coba rebahkan hati sejenak, diam dan merenungkan bagaimana situasi generasi kita hari ini. Mereka yang hidup dalam iklim ‘segalanya demi uang’ yang membentuk generasi menjadi individualistik, liberalis, materialistis, bahkan hedonis. Mereka hanya menjadi follower dari serangan budaya dan pemikiran asing, di saat yang sama juga sekadar pekerja atau buruh para kapitalis.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu Pembelajar)

POJOKOPINI.COM — “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki” (QS. Ar-Rum Ayat 54). Fase kuat itulah yang disebut bagi para pemuda, mereka berada pada kondisi paling optimal sebagai manusia di masa ini, yaitu di antara dua kelemahan, masa kecil dan masa tua. Itulah yang nampak, bahwa ketika kita bicara usia muda, maka kita sedang membahas momentum yang terbatas. Sehingga saat dia ada, maka momentum ini tak boleh terlewat. Kita harus pastikan generasi muda Islam ada pada profil terhebatnya sebagai seorang Muslim yang kuat dan siap untuk dihebatkan, terpimpin dan berdaya secara optimal.

Pemberdayaan generasi muda adalah kegiatan membangkitkan potensi dan peran aktif pemuda. Di mana pemuda itu memiliki beragam potensi yang dimiliki. Sehingga pemuda identik sebagai sosok yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berfikir maju, memiliki moralitas dan sebagainya. Pemuda adalah golongan manusia-manusia muda yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pengembangan yang kini telah berlangsung.[1]

Karena itu, ada ungkapan dalam bahasa Arab, “Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi” [pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang]. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini. Lantas, bagaimana gambaran profil generasi Muslim itu? Pertama, merekalah ‘ibadullaah, dia hamba bagi Allah (QS. Adz-Dzariyat 56)[2]. Manusia, termasuk seluruh pemuda, tak terlepas dari peran kehambaannya. Sehingga dia sebagai pemuda Muslim yang mengibadahi Allah, mengoptimasi seluruh penyaluran potensi masa mudanya untuk menjadikan peran hamba-nya sebagai muara. Dia sadar penuh bahwa pengabdiannya dalam bentuk ketaatan individu dan upayanya untuk membentuk ketaatan komunal lahir dan tergerak dari aqidah Islam yang mulia.

Peran lain yang tak boleh lepas dari pemuda adalah peran kepemimpinan, pengelola, dan pemakmur bumi dengan tuntunan Allah. Hal ini Allah sebut dalam Qur’an yang mulia di surah Al-Baqarah ayat 30[3] dan surah Al-Furqan ayat 74[4]. Pemuda sebagai hamba bagi Allah diberi misi penciptaan untuk memakmurkan bumi dengan aturan yang didesain sempurna oleh Allah SWT. Kita menyaksikan dengan pandangan yang penuh kerinduan, ada posisi-posisi penting yang hari ini tak terisi karena kekosongan sistemik menyapu pemuda, harus ada di antaranya generasi yang terdidik untuk siap memimpin dunia sebagai Khalifah, Amirul jihad, mereka yang memiliki keahlian tertentu untuk mengelola hajat hidup publik dengan ideologi Islam seperti dokter, ahli IT, guru, dan seterusnya. Apapun profil profesionalitas mereka, di Benua Afrika atau Asia dan seluruh dunia, di manapun mereka, laki-laki ataukah perempuan, semuanya harus tetap dalam keadaan fitrah yang lurus.

Itu sejalan dengan profil generasi muda Muslim yang selanjutnya yaitu harus senantiasa berdiri lurus di atas fitrahnya. Tak boleh dia terguncang, karena dia kuat dalam ketaatan, inilah fitrahnya, realitas wajib yang mengokohkan mentalitas pemuda Islam. Apapun profesinya, mereka tetap terpelihara dalam kepribadian lurus di atas fitrah yang mulia itu (QS. Ar-Rum 30)[5]. Kepribadian khas dan unik itu melekat pada mereka, digelar dia syakhshiyah Islam yang nampak dalam ghirah, pemikiran, dan aktivitas para pemuda.

Memang, generasi Muslim adalah para pemuda dan pemudi yang tangguh, kuat, dan berkualitas (QS. An-Nisa 9)[6]. Hal ini sebagaimana Allah mengharamkan kita semua untuk meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Artinya, merupakan kewajiban bagi terwujudnya ketangguhan, kekuatan, dan kualitas bernas dalam diri generasi Muslim baik fisik maupun non fisik.

Terakhir, yang tak kalah unik dari profil generasi emas Islam adalah yang satu ini. Peran yang strategis dan paling nampak dalam kehidupan generasi Islam, mereka disebut Khairu Ummah ukhrijat linnas,[7] generasi terbaik dengan skala global, untuk seluruh umat manusia. Hal itu karena dua aktivitas mulia yang melekat pada mereka yaitu penegak amar ma’ruf nahyi munkar, kokoh memegang kebenaran, penghancur kebatilan dan kemungkaran, di manapun mereka berada.

Kewajiban dakwah baginya adalah cara Islam untuk mendidik para pemuda, sehingga kepedulian dan militansi terhadap ideologi Islam tumbuh secara alamiah. Bukan hanya peduli terhadap saudara sesama Muslimnya, pun mereka peduli terhadap situasi semesta, manusia, dan kondisi kehidupan. Kepedulian ini menggerakkan mereka untuk menunaikan kewajiban Islam dalam mewujudkan rahmat bagi semesta. Sehingga tak lahir dari aktivitas ini kecuali generasi yang negarawan, dia intelektual yang juga merupakan pejuang dan identik padanya komitmen yang kokoh dalam melayani ideologi melalui aktivitas dakwah dan jihad.

Demikianlah profil generasi Muslim yang seharusnya, sehingga digariskan Allah menjadi kewajiban bagi seluruh Muslimin untuk memenuhi segala yang diperlukan demi tujuan tersebut. Itulah kenapa, Khilafah dalam keberadaannya tak pernah absen memproduksi generasi emas itu. Daulah Khilafah Islamiyyah menjadi rumah aman bagi generasi, untuk tumbuh progresif dalam penerapan syariat Islam kaffah sebagai manifestasi dari perintah Allah kepada Khalifah yang mewakili seluruh Muslimin (untuk menegakkan hukum Allah, mengatur bumi dengan sistem Islam).

Islam dengan seperangkat sistemnya ibarat pohon yang besar dan kuat, namun subur berbuah tak kenal musim. Buah-buah yang manis dari pohon itu adalah generasi qurrata a’yun yang muttaqin, merekalah para Najmu Asy-Syabaab (pemuda bintang). Di antara mereka, tak hanya generasi para sahabat yang dididik langsung oleh Rasulullah Saw. Sangat banyak kemudian para tokoh yang masyhur lahir dari rahim Khilafah Islamiyyah. Mereka tak hanya merupakan nama yang dikenal dunia hari ini, tapi ada segudang nama lainnya yang sangat banyak, seperti Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi (695-715 M)[8], Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I (767-820 M)[9], Abdurrahman Ad-Dakhil (731-788 M)[10], Harun Ar-Rasyid (768-809 M)[11], Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (810-870 M)[12], dan masih banyak lagi, termasuk para generasi Muslimah yang nama-namanya takkan cukup untuk dituliskan pada naskah ini.

Profil istimewa para Muslimah dalam peradaban Islam di antaranya terekam oleh Carla Daya dalam “A Secret History” yang diterbitkan di New York Times Magazine (25/2/2007). Ditulisnya, “Ulama-ulama perempuan ini mencapai peringkat tinggi di semua bidang ilmu tentang Dien dan menjadi ahli hukum terkenal, mengeluarkan putusan-putusan Islam, menafsirkan Al-Qur’an, meriwayatkan hadits, bahkan memiliki keilmuan yang mampu menantang putusan hakim. Mereka banyak menulis buku tentang berbagai bidang dalam ilmu-ilmu Islam, kadang terdiri dari 10 volume atau lebih.

Beberapa perguruan tinggi seperti Madrasah Saqlatunia di Kairo didanai dan dikelola sepenuhnya oleh perempuan. Ruth Roded, Dosen senior tentang sejarah Islam dan Timur Tengah di Universitas Ibrani Yerussalem mendokumentasikan bahwa proporsi dosen perempuan di banyak perguruan tinggi Islam klasik lebih tinggi dari pada di universitas-universitas Barat pada zaman modern ini.”

Itulah masanya di mana keluarga dan masyarakat menjadi tempat tinggal bagi generasi, juga merupakan sekolah kehidupan bagi generasi. Kalau ‘sekolah nyata’ ini lurus maka dia akan progresif menjadi produsen aktif membentuk generasi yang lurus pula. Kemudian, yang memberikan proteksi terkuat karena memiliki kekuasaan dan kekuatan terluas serta menyeluruh adalah keberadaan negara berkarakter raa’in dan junnah. Dia memelihara generasi dan memproteksinya dari segala potensi merusak. Itulah negara yang menerapkan syariah kaffah.

Namun semua yang menguatkan potensi generasi itu hari ini dibombardir habis-habisan. Akidah umat digoyang dengan racun moderasi beragama yang memasukkan pluralisme, sehingga seolah-olah gambaran profil generasi hebat Islam itu sekadar dongeng. Alhasil generasi tumbuh rapuh dalam pengurusan sistem kapitalisme, jangankan untuk berdiri bangkit melawan, bahkan untuk menyadari bahwa dirinya dalam ‘serangan’ pun mereka tak kuasa.

Role Model Generasi dalam Sistem Kapitalisme-Sekuler

Coba rebahkan hati sejenak, diam dan merenungkan bagaimana situasi generasi kita hari ini. Mereka yang hidup dalam iklim ‘segalanya demi uang’ yang membentuk generasi menjadi individualistik, liberalis, materialistis, bahkan hedonis. Mereka hanya menjadi follower dari serangan budaya dan pemikiran asing, di saat yang sama juga sekadar pekerja atau buruh para kapitalis. Padahal penduduk usia produktif di negeri ini adalah modal besar untuk kebangkitan peradaban, namun potensi besar itu dibajak oleh kedengkian kapitalisme sekuler yang menjadikan penduduk usia produktif atau pemuda tak lebih dari sekadar alat kepentingan para kapitalis.

Melansir Kominfo.go.id, Indonesia diperkirakan akan menghadapi era bonus demografi beberapa tahun ke depan, tepatnya pada tahun 2030 hingga 2040 mendatang. Bonus demografi ialah suatu masa di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibanding usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia.[13]

Namun sayang sekali karena potensi itu diarahkan semata-mata untuk kepentingan ekonomi. Nampak tren pertumbuhan peran milenial dan generasi Z di SBN (Surat Berharga Negara) Ritel. Milenial mendominasi jumlah investor dibandingkan generasi yang lain yaitu mencapai 40,7% dan 45,6%. Namun jika dilihat dari nilai nominal investasi, generasi X dan Baby Boomer masih mendominasi. Meski begitu, potensi peran generasi milenial dan generasi Z, bahkan generasi alfa masih sangat besar.[14]

Dalam sistem kapitalisme pemuda harus dibekali untuk masuk ke pasar kerja. Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Ida Fauziyah menyampaikan bonus demografi harus dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan nasional. “Kita akan dapat bonus demografi, penduduk Indonesia akan didominasi usia produktif. Bonus ini harus dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan nasional sehingga benar-benar menjadi bonus,” katanya, Jumat (16/12/2022). “Karena mereka di usia produktif harus dibekali untuk masuk ke pasar kerja, dibekali dengan skill (keterampilan) dan kompetensi yang sesuai dengan pasar kerja atau menyiapkan mereka menjadi wirausahawan,” katanya.

Potensi (SBN) Ritel baik dari sisi jumlah investor maupun nilai investasi, diyakini memiliki potensi yang cukup baik. Salah satu faktor pendorongnya adalah Indonesia memiliki bonus demografi. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan Indonesia harus memanfaatkan bonus demografi sebagai fondasi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan anak muda sebagai mayoritas penduduk bangsa, Erick menilai hal ini menjadi kesempatan emas bagi Indonesia untuk terus berkembang dan sejajar dengan negara maju lainnya. “Di 2030, tidak usah jauh-jauh, kelas menengah kita akan menjadi 145 juta, lalu naik menjadi 180 juta dan naik lagi ke 220-an. Tidak banyak negara di dunia yang punya kelas menengah sebesar ini, hanya ada beberapa negara,” kata Erick.[15]

Di sisi lain, untuk mewadahi kolaborasi peran pemerintah dan para pemuda dalam mewujudkan Visi Indonesia 2045, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyelenggarakan Ministry of Finance Festival (MOFEST) 2022. MOFEST adalah festival kolaboratif bagi generasi muda dalam mengembangkan karakter dan potensi diri, berinovasi, berdaya saing, berjejaring dan memahami potensi ekonomi Indonesia untuk bergerak bersama menuju Indonesia Maju 2045.

Menarget generasi muda, agenda ini mengusung tema “Master Your Future” atau “Taklukkan Masa Depanmu”, rangkaian kegiatan MOFEST 2022 diharapkan dapat memicu para generasi muda untuk mempersiapkan dan terus mengembangkan diri menjadi pemain kunci mewujudkan Indonesia Maju 2045. Sehingga para pemuda dengan sepenuh daya mengerahkan potensi, inovasi, dan militansinya untuk berdaya secara ekonomi.

Selain itu, program-program pelatihan-pelatihan untuk mempersiapkan generasi sebelum masuk ke dunia kerja pun dilakukan secara sistemik. Hal itu tak lebih sekadar membentuk generasi buruh yang pekerja. Menjadi konsumen dari produk para kapitalis dan menjadi pekerja yang murah dalam melayani industri mereka. Ini cukup untuk menjadi bukti pembajakan sistematis yang dialami pemuda, sehingga fungsi negara sebagai produsen generasi unggul berkualitas sebagaimana standar Islam adalah utopi.

Nalar Kritis yang Ditumpulkan dan Pelemahan Sistemik

Pemuda juga memiliki potensi besar terhadap kontestasi politik penguasa dalam pemilu. Suara mereka yang banyak sangat berpengaruh, sehingga penting untuk memastikan pemuda merasa sudah berperan dalam aktivitas politik sebagai pelaku pemilih muda. Suara mereka dimanfaatkan semata-mata untuk kepentingan berkuasa dengan dalih optimasi peran politik.

Meski begitu, sikap pesimis terhadap demokrasi sejatinya sudah ada dalam benak pemuda, dan ini merupakan modal bagi bangkitnya nalar kritis yang ditumpulkan oleh sistem sekuler yang mendistorsi politik menjadi transaksional dan pragmatis. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada September 2022 menerbitkan survei dengan target populasi sasaran penduduk Indonesia yang berusia 17-39 tahun. Hasil survei menunjukkan bahwa dukungan dan kepuasan terhadap demokrasi menurun dibanding tahun 2018.

Hasil survei CSIS juga menunjukkan bahwa partisipasi politik anak muda dalam menggunakan hak pilihnya di pemilu 2024 mendatang diprediksi mendekati angka 60%. Melihat besarnya angka tersebut, maka para punggawa kapitalisme sekuler mengagendakan upaya penting untuk mengubah anak muda (yang mulai skeptis dan alergi terhadap politik karena menganggap politik itu kotor) menjadi kembali percaya demi mempertahankan eksistensi kapitalisme demokrasi melalui pengkaderan partisipatif pemuda dalam berbagai agenda politik pragmatis, baik melalui agenda-agenda partai maupun instansi terkait.

Padahal yang ditarget dari banyaknya potensi suara pemuda adalah peran politik yang tak menjamin kebaikan bagi potensi kepemudaannya, yang ada justru lagi-lagi pembajakan demi kepentingan politik pragmatis para sekularis.

Serangan terhadap pemikiran kritis generasi juga dideraskan melalui gempuran paham moderasi beragama. Bahkan tahun 2022 ditetapkan pemerintah sebagai Tahun Toleransi. “Penetapan in bukan tanpa argumen. Selain untuk meneguhkan persatuan bangsa, juga menjaga harmoni jelang tahun politik  2023; satu tahun jelang hajat demokrasi untuk pemilihan capres, pimpinan daerah, dan anggota perwakilan rakyat.” [16]

Untuk menghindari apa yang mereka sebut sebagai segregasi sosial seperti pada situasi politik tahun 2017  saat Pilkada DKI dan Pemilu 2019 yang dianggap sebagai tahun-tahun kelam bagi persaudaraan kemanusiaan. Mereka menitikberatkan bahwa gesekan politik identitas pada masa itu didasarkan pada alasan agama. Banyak oknum politisi yang menjadikan argumen agama untuk menyerang musuh politik. Agama dijadikan kendaraan untuk kepentingan pragmatisme politik. Dalil-dalil agama “dipaksa-tafsir” untuk menafikan lawan politik.

Para pemuda dikatakan memiliki peran sangat penting untuk menjadi corong toleransi. Pemuda adalah generasi yang “full charging“. Mereka memiliki energi luar biasa yang mampu mengubah wajah dunia. Sejarah telah membuktikan bagaimana pemuda menjadi simpul-simpul pokok perubahan di semua lini kehidupan, namun perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang mengarah kepada moderasi beragama. Dalam konteks inilah pemuda ditarget menjadi para pelopor moderasi yang mampu membawa angin segar bagi kehidupan umat beragama secara moderat.

Pemuda Pelopor Moderasi (PPM) hadir membawa ide-ide yang nantinya menjadi poros utama agar cara pandang beragama masyarakat tidak ekstrem. Cara beragama yang tidak mempertentangkan kehidupan keagamaan dengan realitas yang ada. Inilah yang mereka anggap toleran, sehingga muncul narasi-narasi berlawanan yang menjadi serangan bagi gerakan dakwah politik yang bertujuan menegakkan Islam dalam skala sistem global.

Penumpulan nalar kritis tak hanya sampai di situ, pemuda setelah dijauhkan dari keyakinan utuh dan fitrah Islam, pun dikepung oleh teknologi dan budaya asing yang di-drive oleh ideologi batil kapitalisme. Mereka didorong untuk terlibat sebagai followers dari ‘literasi racun’ yang dihasilkan ideologi ini. PPM diharuskan melibatkan diri dalam kampanye-kampanye positif melalui dunia maya. Konten-konten propagandistik melalui akun FB, IG, Youtube, TikTok, dan semua jalur media online.

Di sisi lain, pelemahan terhadap generasi Muslim juga terus dilakukan melalui liberalisasi pergaulan, maraknya konten-konten “sampah” yang senantiasa dikonsumsi oleh generasi di berbagai platform media, juga iklim konsumerisme yang pada akhirnya menjadikan mereka sebagai sasaran dari pasar bagi produk para kapitalis. Kalau sudah begini, hedonisme sudah tak tertolak. Mereka terpola menjadikan materi dan ketenaran sebagai kebahagiaan, senantiasa tertipu dan tak pernah puas dengan upaya dan capaian, alias “bahagia semu” yang mereka dapatkan. Akhirnya terjadilah petaka begitu banyak mahasiswa yang terlibat utang riba, ditambah remaja yang juga menceburkan diri dalam jerat paylater karena hedonisme. Mereka mengaku “kebablasan jajan sampai jutaan” tanpa diketahui oleh orang tuanya. Merasa bebas membeli apapun yang mereka sukai tanpa penjagaan orang tua (BBC Indonesia, 30 Desember 2022).

Itulah kenapa gelar Strawberry Generation disematkan kepada pemuda saat ini, karena rapuhnya mentalitas mereka yang menganggap kebahagiaan itu adalah terpenuhinya keinginan (hedonistik). Namun di sisi lain, ketidakmampuan untuk mendapatkan keinginan menjadikan mereka rapuh dan mudah stress. Beberapa penelitian pada tahun 2022 menghitung tsunami malapetaka mentalitas yang dialami generasi. Ya, ini generasi sakit.

Di antara remaja Indonesia yang mengalami gangguan mental, sebanyak 83,9% mengalami gangguan fungsi pada ranah keluarga, disusul oleh ranah teman sebaya (62,1%), sekolah atau pekerjaan (58,1%), dan distress personal (46,0%).

Secara sistemik, merujuk kepada UU No. 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa, mereka dikelompokkan sebagai ODMK atau orang dengan masalah kejiwaan. Artinya, mereka sangat rentan untuk mengalami gangguan mental. Hampir 35% (setara 15,5juta) remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia terdiagnosis memiliki setidaknya satu masalah kesehatan jiwa dalam survei I-NAMHS sehingga masuk ke dalam kategori ODMK.

Itulah yang menjadi wajah generasi kita hari ini. Rapuh  di tengah perusakan sistemik yang didesain oleh ideologi berkuasa. Kondisi ini sangat berbeda dengan yang seharusnya terjadi, generasi Muslim yang Allah haramkan bagi mereka menjadi terpuruk dan lemah. Mereka adalah kekuatan umat ini, detak jantung dan harta berharga umat. Melekat padanya trilogi misi Muslim negarawan yaitu misi qawwam atau al umm wa rabbatul bayt, misi intelektual (ulama dan ilmuwan), serta misi mujahid atau mujahidah (pembela Islam, penegak keadilan, serta pengemban qiyadah fikriyyah Islam ke penjuru bumi melalui dakwah dan jihad). Kini harta berharga itu terkubur dalam lumpur yang teramat pekat, membenam generasi sampai titik terendahnya. Mereka diperebutkan, menjadi korban, dan alat untuk tercapainya tujuan selain Islam. Dan apa yang lebih sakit dari itu adalah kesadaran yang rendah akan kondisi terjajah karena pelemahan mentalitas menjadikan mereka rabun dalam menentukan mana kawan dan lawan.

Sungguh kekalahan ini diharamkan oleh Allah SWT berlama-lama menimpa generasi kita. Sebagaimana kemuliaan adalah kewajiban bagi mereka, yang terlisan dari Nabiyullah Muhammad Saw, “Sungguh Allah menyukai perkara yang tinggi dan luhur-mulia, dan membenci kebodohan”. Pada titik inilah kita tak boleh berleha-leha, inilah yang menjadi cambuk bagi para guru umat ini, para da’i, para kekasih Allah yang melebur di tengah-tengah generasi dengan membina dan mereposisi generasi kembali ke pada tempat mulianya.

Peran Guru sebagai Pembina Generasi Pemimpin Umat

Wahai putraku, kupesankan kepadamu untuk senantiasa menghormati dan memuliakan ulama, perhatikanlah selalu urusan dan kebutuhan mereka, perbanyaklah untuk mengagungkan mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka. Karena mereka tidak memerintahkan, kecuali dalam kebaikan,” itulah yang diwasiatkan oleh Utsman Ghazi bin Ertugrul Ghazi kepada putranya, Orkhan Ghazi.Ini senada dengan pesan ayahnya kepada Utsman untuk senantiasa menjaga kehormatan Syaikh Edebali, agar senantiasa mendapatkan petunjuk.

Perhatikanlah, dalam peristiwa turun temurun itu ada satu pesan mutiara tentang betapa strategisnya peran guru sebagai teladan, motivator, dan mentor. Guru adalah muara keagungan dan kemuliaan generasi. Dia memiliki tanggung jawab peradaban untuk menghebatkan generasi Muslim. Siapapun yang hari ini membaca kisah profil generasi hebat Islam, pasti akan menemukan karakter guru-guru hebat, militan, dan mulia di belakang mereka. Dari didikannya, tumbuh besar karakter-karakter negarawan yang memimpin umat, mereka tak menjeda ilmu dan amal, keduanya tergabung menjadikan mereka generasi yang mengamalkan ilmu.

Ertugrul Ghazi sadar betul saat dia berpesan untuk memuliakan Syaikh Edebali, tentang kebutuhan Utsman terhadap peran keteladanan, motivasi akidah yang menggerakkan, dan kebutuhan terhadap mentor untuk mendidik generasinya. Benar saja, kuatnya karakter Syaikh Edebali begitu terasa dalam setiap pesan-pesannya, di antaranya seperti yang ditulis oleh Prof Muhammad Khulaif Ats-Tsunayyan dalam buku “Ertugrul, Sejarah Turki Utsmani dari Kabilah ke Imperium”.

Wahai putraku, belajarlah bersabar dan ketahuilah bahwa bunga-bunga itu tidak akan mekar merekah kecuali di musim semi. Dan, janganlah kamu lupa bahwa hidupnya negara sangat bergantung kepada hidupnya manusia. Hidupkanlah manusia niscaya kamu menghidupkan negaramu.”

Syaikh Edebali sadar betul tentang peran kepemimpinan generasi Muslim, dia memosisikan diri sebagai rakyat dan mengatakan di dalam wasiatnya, “Kamu adalah seorang pemimpin sejak pertama hingga seterusnya. Kami banyak marah, melontarkan tuduhan, dan melontarkan kritikan yang keliru, sedangkan kamu adalah kesabaran, menahan kemarahan, dan bermurah hati.” Demikianlah pentingnya optimasi peran guru dalam menjadi teladan, motivator, dan mentor bagi generasi. Dia membina, mendampingi, dan menjadi cahaya di tengah gulita generasi.

Cahaya yang sama terangnya juga terlihat silau dari kisah Muhammad Al Fatih, Shalahuddin Al Ayyubi, dan semua profil generasi hebat Islam. Sehingga selayaknya para guru hari ini berperan optimal menjadi guru peradaban yang terdidik darinya generasi pengubah fakta rusak kepada fakta pengganti yang sekehendak dengan keinginan Allah dan Rasul-Nya.

Namun kita semua tentu paham bahwa guru pun adalah bagian dari masyarakat yang hidup dalam iklim kapitalisme sekuler. Guru juga saat ini dalam kepayahan yang mencekik, tapi sungguh Syaikh Edebali, Syaikh Aaq Syamsuddin, Syaikh Ahmad Kurani, Nuruddin Zanki, dan para guru revolusioner Islam lainnya juga bukan tanpa hambatan dan rintangan. Mereka juga mengalami kepayahan, bahkan hidup bergerilya dari satu tenda ke tenda lainnya. Sebagaimana mereka juga pernah merasakan bagaimana mengikat perut untuk menahan rasa lapar.

Sungguh Allah menyaksikan kepayahan kita, para guru, hari ini. Dia As-Samii’ yang mendengar semua keluh kesah kita tentang kehidupan ini, Dia Al-‘Aliim yang mengetahui dan meliputi sekecil serta sebesar apapun urusan kehidupan kita. Sungguh Dia pun Al-Basir yang memperhatikan dan memahami situasi kita. Tak ada jalan mulus tanpa tantangan dalam pembinaan, semua guru adalah pembelajar yang berproses. Progresivitasnya terlihat dalam militansi yang tak terhambat tantangan. Kesetiaannya terhadap ideologi menjadikan dia mampu tetap bergerak meski dia pun remuk redam dihadapkan pada sistem rusak yang merusak. Itu semua karena setiap guru memiliki quwwah ar-ruhiyyah, kekuatan yang lahir dari akidah. Dia memandang dengan visinya. Di mana bumi dipijak, visi melangitnya tak pernah lepas dari pandangan. Bergerak dan menggerakkan dengan visi itu meski dia harus menggigit akar pohon dengan gigi gerahamnya.

Yakinlah bahwa generasi itu menunggu kita para guru. Mereka, siapa yang rela membina ideologinya, mematangkan potensinya untuk kebangkitan Islam, kalau bukan para guru ideologis yang mengerahkan segenap daya dan upayanya untuk melayani kepentingan ideologi Islam? Kita ini da’i sebelum menjadi siapapun, sehingga nampak terang di mata kita semua bahwa musibah yang menimpa generasi umat ini tak boleh berlama-lama lagi. Biarlah waktu yang kita miliki sudah habis untuk mengabdi kepada ideologi, meski kita pun harus bergelut dengan amanah aqad pekerjaan. Biarlah antusiasme kita adalah antusias yang tak pernah kenal waktu saat dihadapkan pada kepentingan dakwah ini, sehingga semangat dan energi sebagaimana pemuda bintang yang kita ingin bentuk yaitu energi yang “full charging”.

Guru yang berperan optimal sebagai motivator, mentor, dan teladan adalah guru yang takkan pernah dikhianati oleh pengorbanannya. Akan tiba masanya, kelak, generasi yang kita didik hari ini menjadi pemimpin yang mengisi kekosongan posisi negarawan, intelektual, dan ilmuwan Islam dalam peradaban gemilang. Guru seperti ini adalah guru bagi peradaban, dan tugasnya dalam dakwah mendidik generasi sebagai motivator, mentor, dan teladan, adalah tugas negara. Wallahu a’lam bishshawab.[]


[1] http://repository.iainmadura.ac.id/56/1/Buku%20Pemberdayaan%20ekonomi%20generasi%20muda%20convert%20pdf.pdf diakses 4 Januari 2023

[2] Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

[3] Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi

[4] Artinya: “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

[5] Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

[6] Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)-nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

[7] Q.S Ali Imran ayat 110

[8] Anak muda di masa Bani Umayyah, di usia 16 tahun memimpin puluhan ribu pasukan Muslimin membebaskan daerah Sind dan Multan, yang merupakan gerbang menuju Asia Tengah. Dalam kitab Wafayat Al A’yan, Ibnu Khalqan mendeskripsikan sifat Muhammad bin Qasim, “Ia adalah manusia yang seimbang antara pikiran dan aksinya, keadilan dan kemurahan hatinya, orang-orang Hindu pun banyak yang merasakan toleransi yang dilakukan olehnya.”

[9] Pemuda tangguh, meski sangat sederhana dan berkekurangan secara finansial tidak membuat Imam Asy-Syafi’I gentar untuk terus belajar. Terlahir yatim, di usia 12 tahun ibundanya membawanya dari Palestina ke Makkah. Usia 7 tahun sudah menghafal Al-Qur’an, usia 10 tahun sudah menghafal kitab hadits Al Muwatha’ karya Imam Malik. Di usia 15 tahun, beliau mengasai banyak ilmu pengetahuan yang membuat ulama besar Makkah, Muslim bin Khalid Az Zanji mengizinkan Asy-Syafi’I memberikan fatwa kepada masyarakat. (Adab Asy-Syafi’I wa Manaqibuhu)

[10] Penguasa pertama di Emirat Umayyah di Andalusia. Di usia 25 tahun berhasil menyatukan kembali Andalusia yang hampir roboh karena penduduknya yang berpecah belah. Tokoh yang bernama lengkap Abdurrahman bin Muawiyah ini disebut sebagai “Ad-Dakhil” artinya “Sang Pendatang” karena ia datang dari Timur Tengah menuju ke Andalusia yang ada di bagian barat. Perjalanan dan perjuangannya yang panjang dari timur ke barat mencetaknya menjadi pemuda yang kuat, sabar dan ulet. Dan mampu menjadi inspirator banyak negara Muslim untuk bersatu lagi.

[11] Seorang pemimpin terbesar daulah Khilafah Abbasiyah. Hidup di lingkungan yang megah tidak membuat beliau menjadi generasi mager atau rebahan. Di usia 15 tahun, Harun Ar-Rasyid sudah memimpin puluhan ribu pasukan Muslimin untuk membebaskan Benteng Samalou yang dimiliki Romawi. Pembebasan itu sukses setelah 38 hari pengepungan. Setelah itu beliau dipercaya menjadi gubernur Azerbaijan dan Armenia.

[12] Penulis kitab paling shahih setelah Al-Qur’an. Beliau bukan tinggal di Arab, tapi pemahaman dan wawasannya tentang hadts luar biasa. Di usia 18 tahun, Sang Yatim  yang sempat buta ini sudah menulis buku penting berjudul At-Tarikh Al-Kabir. Berguru pada 1080 ulama, mengembara 16 tahun demi mengumpulkan hadits shahih, mengelilingi sebagian Asia dan Afrika, menghafal ratusan ribu rawi, dari yang kuat nan adil sampai yang lemah dan bermasalah. Semua itu dengan visi yang sungguh-sungguh: untuk Allah, Rasulullah, dan umat Muhammad Saw.

[13] https://www.bareksa.com/berita/sbn/2022-12-06/bonus-demografi-indonesia-bakal-dorong-sbn-ritel-terus-bertumbuh diakses 3 Januari 2023

[14] Badan Pusat Statistik (BPS) mengelompokkan generasi menjadi enam yaitu Post Generasi Z (Post Gen Z), Generasi Z (Gen Z), Milenial, Generasi X (Gen X), Baby Boomer, dan Pre-Boomer. Post Gen Z adalah generasi yang lahir pada 2013 dan seterusnya. Adapun Gen Z, merupakan generasi yang lahir pada 1997-2012. Mereka sekarang berusia 8-23 tahun. Sedangkan Milenial yaitu generasi yang lahir pada 1981-1996 (saat ini berusia 24-39 tahun). Selanjutnya Gen X adalah generasi yang lahir pada 1965-1980 (sekarang berusia 40-55 tahun). Kemudian Baby Boomer, yaitu generasi yang saat ini berusia 56-74 tahun (lahir 1946-1964). Terakhir adalah Pre-Boomer merupakan generasi yang lahir sebelum 1945.

[15] https://www.republika.co.id/berita/rmto16380/erick-thohir-sumber-daya-alam-dan-bonus-demografi-modal-indonesia-maju-di-2030 diakses 3 Januari 2023

[16] https://www.kemenag.go.id/read/pemuda-pelopor-moderasi-di-tahun-toleransi-q9pzv Diakses 4 Januari 2023

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.