Satu Muharam, Momentum Hijrah secara Kaffah

Satu Muharam, Momentum Hijrah secara Kaffah

Hijrah harus dilakukan oleh umat Islam dari hukum-hukum jahiliyah yang terbukti telah menyengsarakan kehidupan bangsa dan negara. Hukum yang telah terbukti gagal dalam mengurusi segala sektor kehidupan.


Oleh: Widya Soviana (Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Aceh)

POJOKOPINI.COM — Umat Islam kembali memperingati tahun barunya, yakni 1 Muharam 1422 Hijriyah yang bertepatan dengan 20 Agustus 2020. Peringatan hari besar tersebut, tentu bukan sekadar peringatan hari besar biasa. Bila hendak direnungkan akan ditemukan hikmah yang sangat besar di dalamnya. Betapa tidak, 1 Muharam adalah momentum awal tegaknya pemerintahan Islam pertama sekali di Madinah yang langsung dipimpin oleh seorang Rasul Allah, yakni Baginda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa Salam.

Penetapan tahun Hijriah memang tidak ditentukan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam, karena penetapan tahun untuk umat Islam baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Luasnya wilayah taklukan pada masa itu, menyebabkan adanya kegiatan surat menyurat antara Khalifah dengan gubernurnya. Penulisan surat tanpa adanya tahun menyebabkan permasalahan dalam menindak lanjuti surat yang sampai kala itu. Disebutkan bahwa gubernur Basyrah Abu Musa al Asyari Radhiyallahu’anhu adalah orang yang menjadi sebab kemunculan penetapan tahun baru untuk umat Islam dalam menyelenggarakan pemerintahannya.

Khalifah Umar bin Khattab telah bermusyawarah dengan para sahabat dan menetapkan bahwa penetapan tahun pertama hijriyah ditentukan dari momentum hijrah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam dari Mekkah ke Madinah. Sungguh apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab merupakan petunjuk dari Allah Subhana wa Ta’ala. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam bersabda, “Sungguh diantara kaum-kaum sebelum kalian terdapat orang-orang yang mendapat ilham. Apabila ada salah seorang dari umatku yang mendapatkanya, maka Umarlah orangnya.”

Hijrahnya Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam dari kota Mekkah ke kota Madinah dalam rangka menegakkan hukum-hukum Allah Subhana wa Ta’ala. Karena penyerahan kekuasan secara total diberikan oleh kaum anshar kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa Salam untuk memimpin dan mengurusi segala hal tentang kehidupan mereka dan kaum muslimin yang ikut berhijrah ke Madinah. Sehingga tahun demi tahun, umat Islam hidup di bawah kepemimpinan Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Tidak ada sumber hukum lain selain dari syari’at yang telah dibawakan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam kepada umatnya. Hingga puncak kejayaan dan peradaban berpindah di bawah kekuasaan kaum muslimin selama berabad-abad lamanya.

Namun, tahun ini peringatan 1 Muharam masih menjadi nestapa umat Islam. Peringatan yang hanya sebatas seremonial dilakukan di berbagai negeri kaum muslimin tanpa nilai hakiki. 1 Muharam yang semestinya menjadi titik awal adanya kepemimpinan Islam dalam sebuah Daulah Islam pertama di Madinah kini telah lama hilang. Umat Islam di berbagai negeri telah kehilangan kepemimpinan yang hak di sisi Allah Subhana wa Ta’ala. Kepemimpinan yang hanya bersandarkan pada hukum-hukum yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Kepemimpinan yang dipimpin oleh seorang Khalifah untuk seluruh kaum muslimin di dunia. Kepemimpinan yang dengannya terpelihara agama, nyawa, dan harta umat. Kepemimpinan yang membawa berkah, sebagaimana firman Allah Subhana wa Ta’ala di dalam Al Qur’an, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al Araf, 96).

Maka sudah semestinya peringatan 1 Muharam tahun ini menjadi momentum hijrahnya umat Islam secara totalitas. Hijrah harus dilakukan oleh umat Islam dari hukum-hukum jahiliyah yang terbukti telah menyengsarakan kehidupan bangsa dan negara. Hukum yang telah terbukti gagal dalam mengurusi segala sektor kehidupan. Sudah saatnya umat Islam segera bangkit dan menyambut seruan penegakkan hukum-hukum Allah Subhana wa Ta’ala dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga keberkahan kehidupan akan diperoleh di dunia dan akhirat kelak, Insya Allah.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *