Sayangnya Nasib Rakyat Kecil

Sayangnya Nasib Rakyat Kecil

Sayangnya nasib rakyat kecil, Selalu menjadi tertuduh. Suaranya hanya di manfaatkan untuk mendulang suara saat pemilihan, begitu tujuan mereka tercapai suara rakyatpun tak pernah di anggap.

Oleh: Yeni Ummu Athifa

POJOKOPINI.COM — “Sudah jatuh tertimpa tangga pula.” Rasanya kalimat ini cocok untuk menggambarkan keadaan rakyat di negeriku. Malah kalau mau, boleh ditambah lagi dengan peribahasa yang lain, “Habis manis sepah di buang.

Bagaimana tidak? Bukankah pandemi Corona menjadi momok yang menakutkan bagi seluruh rakyat Indonesia? Bahkan bisa kita katakan justru masyarakat bawah yang lebih menderita dengan merebaknya virus ini. Mana selama ini kehidupan sudahlah susah. Jangankan untuk hidup sehat untuk memenuhi sandang dan pangan saja masih morat-marit.

Sedangkan negara yang seharusnya mengurusi kebutuhan rakyat terkesan abai jika tidak dibilang mangkir. Rakyat disuruh urus dirinya sendiri. Mari kita ulang nemori pernyataan dari mereka yang mewakili pemerintah, semisal,”…kalau harga cabai mahal maka rakyat di suruh tanam sendiri, puasa Senin – Kamis mengatasi kelaparan…” dan sebagainya. Kalau cuma memberi pernyataan seperti itu untuk mengatasi permasalahan dalam masyarakat, sepertinya orang awam juga bisa bahkan seorang anak kecil pun bisa.

Sama seperti pernyataan dari jubir Pemerintah tentang virus corona, Ahmad Yurianto yang viral di media akhir-akhir ini, “Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya.” (hiTekno.com, 30/03/2020) Apa yang kita rasakan sebagai masyarakat biasa apalagi masyarakat yang merasa dirinya miskin? Sakit! Lagi-lagi mereka yang menjadi kambing hitamnya.

Padahal selama ini merekalah yang merasakan penderitaan dan kesusahan hidupnya. Lihat saja siapa yang sering ditolak berobat di rumah sakit tertentu, siapa yang sampai tidur di lorong-lorong. Yang lebih parah lagi ketika ada yang meninggal terpaksa membawa pulang jenazah dengan motor, angkot bahkan dengan memanggulnya jalan kaki. Miris! Padahal BPJS diwajibkan bagi mereka bahkan sempat akan dinaikkan iurannya.

Kembali ke masalah Corona yang tak kunjung selesai malah semakin meningkat korbannya dari hari ke hari. Harusnya pemerintah memikirkan bagaimana cara yang efektif untuk memutuskan mata rantai sebarannya, bukan malah membuat pernyataan yang membuat hati rakyat terluka.

Lockdown yang jelas-jelas yang akan mampu menuntaskan pandemi ini malah dianggap angin lalu kalau tidak disebut ”ditolak”. Padahal pada masa lalu, telah dibuktikan bahwa Khalifah Umar Bin Khattab yang saat itu menjadi khalifah telah mengambil langkah lockdown terhadap masyarakat yang sedang mengalami wabah tha’un.

Dan saat ini pun keberhasilan lockdown sudah juga dicontohkan oleh China, sebagai negara asal virus di mana pada awalnya banyak memakan korban namun seiring dengan waktu setelah dilakukan lockdown, korbannya menurun drastis. Bahkan dikabarkan para relawan kesehatan yang dulu didatangkan dari berbagai negara sudah di pulangkan.

Apa maunya pemerintah sebenarnya? Maka jelas menunjukkan bahwa Negara notabene pemerintah tidak berani mengambil risiko menurunnya sektor ekonomi dan kehilangan investasi dari negara-negara lain.

Sebagai negara yang malu-malu mengakui menerapkan sistem kapitalisme-sekularisme, tentu saja materi/ kapital yang menjadi prioritas tak peduli walau harus mengorbankan nyawa rakyat sekalipun. Apalagi sebagai negara pengekor, jelas pemerintah akan lebih mendengar perintah ‘tuan’nya daripada permohonan rakyatnya yang meminta perlindungan keamanan.

Sayangnya nasib rakyat kecil, Selalu menjadi tertuduh. Suaranya hanya di manfaatkan untuk mendulang suara saat pemilihan, begitu tujuan mereka tercapai suara rakyatpun tak pernah di anggap.[]

Picture source: Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *