Sebenarnya Umat Ini Merindukan Khilafah

Sebenarnya Umat Ini Merindukan Khilafah

Sistem yang mengagregasi seluruh kekuatan umat Islam seluruh dunia untuk meruntuhkan kesombongan Romawi ketika itu. Sistem itulah Khilafah Islamiyah. Sistem itulah yang menjadi mimpi buruk setiap rezim jahat dunia. Yang akan mengakhiri hegemoni kapitalisme, yang menghilangkan kekuasaan diktator mereka dan menghancurkan seluruh kekuasaan mereka.


Oleh: Muhammad Ayyubi (Sufi Pejuang Khilafah)

POJOKOPINI.COM — Momen dibukanya Hagia Sophia menjadi masjid menyiratkan satu hal yakni kegembiraan umat ini akan kejayaan Islam. Bagaimana umat bersahutan takbir menyambut shalat Jumat pertama sejak 86 tahun yang lalu ditutup oleh musuh Allah SWT yakni Mustafa Kemal Attaturk.

Ketika kita bicara Hagia Sophia maka tidak bisa dilepaskan dari sosok pembebas Konstatinopel Muhammad Al Fatih. Jatuhnya ibu kota Romawi barat tersebut adalah peristiwa heroik yang mengguncang Eropa ketika itu. Hingga kemudian bandul peradaban berubah, Islam lah yang menjadi adikuasa dunia ketika itu Syariah Islam Kaffah nya.
Peristiwa 1453 itu menjadi titik tolak berkembangnya peradaban Islam di jantung kekufuran waktu itu.

Konstantinopel saat itu ibarat Washington hari ini. Anda bisa bayangkan jika ibu kota AS itu ditaklukkan hari ini, bagaimana heroik dan gembiranya umat ini menyambut peristiwa itu.

Terlebih bahwa peristiwa takluknya Konstantinopel adalah janji Rasulullah, sehingga lengkaplah kebahagiaan umat ini dalam penantian yang panjang. Sejenak ketika Konstantinopel ditaklukkan maka sejurus kemudian Muhammad Al Fatih membuka dan merubah Hagia Shopia menjadi mesjid, dan beliau sendiri yang menjadi Imam dan Khatib pertama di Hagia Sophia tersebut.

Maka Jumat berkah, 11 Juli 2020 menjadi momen dramatis yang membuat umat Islam seluruh dunia bergembira. Seolah menyiratkan kemenangan tahun 1435. Umat Islam di seluruh penjuru meski dia bukan rakyat Turki pun seolah terhipnotis dalam alunan kegembiraan itu. Adalah seseuatu yang wajar, karena memang hakikatnya Masjid Hagia Sophia bukanlah milik Turki tetapi milik umat Islam seluruh dunia. Tidak ada sekat negara, mereka disatukan oleh aqidah yang sama yakni aqidah Islamiyah.

Sungguh, terlalu rapuh jika umat ini diikat oleh ikatan nasionalisme. Yang notabene itu adalah jargon ciptaan barat untuk memecah belah umat ini. Banyak indikasi tidak bergunanya nasionalisme itu. Dalam ibadah haji adalah contoh nyata selama ini. Ketika seluruh umat ini beribadah dalam satu gerakan tanpa ikatan negara.

Haru biru umat menyambut kembalinya Masjid Hagia Sophia ke pangkuan Syariat Islam hakikatnya menyingkap rindu umat ini kepada sosok Muhammad Al Fatih, andai beliau bisa dihidupkan kembali maka tidak terbayang euforia umat ini menyambutnya kembali memimpin umat ini menghadapi hegemoni ‘ Konstantinopel ‘ modern.
Tetapi itu adalah mustahil dalam dunia nyata kita. Yang mungkin dan bisa adalah menghidupkan kembali sistem yang mencetak sosok pembebas seperti Muhamad Al Fatih.

Sistem yang mengagregasi seluruh kekuatan umat Islam seluruh dunia untuk meruntuhkan kesombongan Romawi ketika itu. Sistem itulah Khilafah Islamiyah. Sistem itulah yang menjadi mimpi buruk setiap rezim jahat dunia. Yang akan mengakhiri hegemoni kapitalisme, yang menghilangkan kekuasaan diktator mereka dan menghancurkan seluruh kekuasaan mereka.

Maka kegembiraan umat ini akan paripurna jika khilafah Islamiyah ini kembali sebagaimana kembalinya Hagia Sophia. Maka momentum itu perlu direkayasa agar tegak di tengah tengah kita. Berjuang demi tegaknya Khilafah Islamiyah sebuah keniscayaan sejarah.
Karena umat ini telah lama menderita, dan obat itu itu hanya satu yakni kembalinya Khilafah Islamiyah diatas pentas perpolitikan dunia. Dan waktu itu tidak lama lagi. Insya Allah.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *