Sejumput Asa Meraih Takwa di Tengah Wabah Corona

Sejumput Asa Meraih Takwa di Tengah Wabah Corona

Satu hal yang pasti, musibah ini telah membuka mata kita semakin lebar, bahwa keterpurukan ekonomi yang melanda sesungguhnya bukan semata-mata karena musibah itu sendiri. Namun sesungguhnya, karena kelemahan dari sistem yang menaunginya. Sistem kapitalis telah terbukti gagal dalam menyejahterakan umat manusia. Sistem yang rapuh bahkan diambang sekarat.


Oleh: Irma Sari Rahayu, S.Pi

POJOKOPINI.COM — “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana (diwajibkan) atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS Al Baqarah:183)

Marhaban yaa Ramadan. Marhaban yaa Syahru Shiam. Ramadan hanya tinggal beberapa hari lagi. Ada yang berbeda dengan Ramadan tahun ini. Tak ada keceriaan anak-anak memenuhi mesjid-mesjid untuk melaksanakan tarawih. Tak akan ada hiruk pikuk pertemuan-pertemuan komunitas, alumni, rekan bisnis, teman sekolah atau perkumpulan lainnya dalam acara buka bersama. Akan terasa sepi, kita harus taat imbauan social distancing.

Ada pula yang gelisah dalam menghadapi Ramadan. Khawatir bagaimana menyediakan makanan untuk sahur dan berbuka, sedangkan uang pemasukkan tak ada. Kalut jika harga-harga melambung. Belum lagi kecemasan akan keselamatan tindak kriminal, dari kenekatan masyarakat yang kian terhimpit karena lapar, membuat Ramadan seakan sendu.

Sejatinya, Ramadan tetaplah Ramadan. Bulan mulia yang selalu dirindukan kehadirannya. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Tak ada bedanya, baik situasi tenteram maupun kondisi wabah. Maka tidaklah patut bagi seorang mukmin merasa cemas, khawatir, bahkan berkeluh kesah dalam menyambutnya.

Allah SWT berfirman:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (TQS: Al Baqarah: 155)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (TQS Al Baqarah: 216)

Masih ada sejumput asa untuk meraih hikmah hakiki dari puasa Ramadan, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Kondisi wabah jangan menjadi penghalang untuk meraihnya. Tak perlu bertanya kapan wabah akan berakhir. Hanya Allah SWT yang mengetahui. Atas seizin-Nya, pasti berakhir. Bersabarlah dalam menjalaninya dan yakin akan balasan yang diperoleh dari kesabaran tersebut.

Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (TQS. Ali Imran:200)

Sesungguhnya Kami akan berikan balasan kepada orang-orang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (TQS: An Nahl:96)

Banyak ibrah yang dapat kita peroleh dari musibah ini. Tinggal di rumah membuat kita tambah fokus dan khusyuk dalam beribadah. Tak payah menghabiskan waktu di jalan. Gunakan untuk perbanyak tadarua Al-Qur’an. Tak dapat buka bersama dengan kolega, maka Allah meminta untuk membersamai keluarga dan peduli dengan sesama.

Satu hal yang pasti, musibah ini telah membuka mata kita semakin lebar, bahwa keterpurukan ekonomi yang melanda sesungguhnya bukan semata-mata karena musibah itu sendiri. Namun sesungguhnya, karena kelemahan dari sistem yang menaunginya. Sistem kapitalis telah terbukti gagal dalam menyejahterakan umat manusia. Sistem yang rapuh bahkan diambang sekarat.

Tengoklah Amerika, Cina, Italia, negara-negara Eropa penganutnya. Mereka dilanda krisis ekonomi yang hebat. Kedigjayaan mereka runtuh. Hanya keangkuhan para pengusungnya saja yang menjadikan sistem ini seakan-akan masih kuat.

Musibah ini pun telah membuka pemahaman kita bahwa hanya sistem Islam saja yang mampu menjawab semua permasalahan umat. Maka sudah sepatutnya kita tinggalkan sistem buruk saat ini, dan kembali kepada Islam. Hanya tinggal menunggu waktu, sistem yang diridhoi Allah SWT ini akan kembali memimpin umat di seluruh penjuru dunia. Masih ada asa untuk mewujudkannya. Insya Allah. Aamiin.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *