Semarak Ramadan di Era Kekhlifahan Utsmaniyah

Khalifah akan berkeliling wilayah mengingatkan pembayaran zakat dan pajak beberapa pekan sebelum Ramadan. Masjid-masjid, jalan-jalan, dan rumah-rumah dibersihkan menjelang dan di akhir Ramadan.


Oleh: Yulia Hastuti

POJOKOPINI.COM — Bulan suci yang dinanti umat Islam kembali tiba. Beruntunglah mereka yang merindukan bulan mulia, bulan penuh inspirasi, dan kebaikan ini. Bulan Ramadan adalah bulan iman serta bulan ketakwaan. Ash-shiyam yang asalnya adalah Al-Imsak yang dimaksud adalah menahan. Artinya tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga menahan diri dari apa yang kita ucapkan dengan menahan lisan dari perkataan kotor. Maka sudah selayaknya Ramadan harus semarak dengan berbagai aktivitas ketaatan, bukan kemaksiatan.

Melihat semaraknya kaum muslimin dalam menyambut kedatangan bulan Ramadan mengingatkan kita dimana suatu negara yang menyatukan dunia Islam di bawah satu kepemimpinan berlandaskan syariat Islam yaitu Khilafah Turki Utsmani. Turki Usmani merupakan sebuah kekhalifahan yang sangat kuat dan mempunyai pengaruh besar dalam peradaban di dunia Islam yang berlangsung kurang lebih 13 abad lamanya.

Kekhalifahan Utsmaniyah pernah menjadi kekuatan utama dunia. Wilayahnya mencakup sepertiga luas dunia meliputi sebagian daratan Eropa, Afrika, dan Asia, kecuali benua Amerika Serikat. Ibukotanya bernama Konstantinopel-Byzantium yang kemudian berubah menjadi Istanbul dan kini menjadi Ibukota Ankara. Saat mencapai puncak kejayaan, saat itu cakupan wilayah semakin meluas meliputi Eropa (Albania, Azerbaijan, Bosnia-Herzegovina, Bulgaria, Kroasia, Siprus, Yunani, Eritrea, Georgia, Kosovo, Yunani, Rusia, Rumania, Montenegro, Slovenia, Serbia, Ukraina, Slovenia, Moldova, dan sebagian Spanyol), Afrika (Libya, Sudan, Tunisia, Aljazair, Somalia, Mesir, dan lain-lain), serta Asia (Yaman, Irakiran, Palestina, Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Suriah, Oman, Qatar, Lebanon, dan lain-lain termasuk Indonesia).

Di masa Kekhalifahan Turki Utsmani menjelang Ramadan selalu menjadi bulan istimewa. Khalifah akan berkeliling wilayah mengingatkan pembayaran zakat dan pajak beberapa pekan sebelum Ramadan. Masjid-masjid, jalan-jalan, dan rumah-rumah dibersihkan menjelang dan di akhir Ramadan. Pada malam menjelang Ramadan, memasuki waktu Maghrib kaum Muslim mencari hilal. Para utusan bertebaran di jalan raya untuk mengumumkan. Dilanjutkan Khalifah kaum Muslim menyampaikan hasil itsbat 1 Ramadan. Pidato disampaikan dalam bahasa arab ke seluruh pejuru dunia, disertai pesan penting dan doa kepada seluruh umat Islam.

Memasuki waktu Isya, masjid-masjid mulai dipenuhi kaum Muslimin untuk shalat berjamaah dilanjutkan shalat tarawih. Di Ibukota, Khalifah biasanya memimpin langsung shalat tersebut. Malam itu dipenuhi kerberkahan, umat Islam menghidupkan malam-malamnya dengan dzikir, membaca Al Quran dan berbagai halaqah. Kehidupan masyarakat lebih semarak seusai iftar atau berbuka puasa. Meriam ditembakkan pemerintah kota untuk memudahkan mengetahui waktu imsak dan berbuka puasa selama Ramadan.

Sejumlah hiburan rakyat juga digelar seperti karnaval Ramadan yang dimanfaatkan sebagai bulan silaturahim antar sesama. Disamping itu ada jamuan buka puasa bersama dengan orang Islam pada umumnya yang bertujuan untuk merpererat hubungan sesama muslim dan non muslim. Pada siang hari dilakukan penertiban tempat makan dan minum dan aktivitas yang bisa membatalkan puasa tampak di publik. Semuanya menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Puasa pun menjadi syiar yang tak hanya ditampakkan oleh Muslim tetapi juga non Muslim.

Masjid-masjid mulai dipadati begitu menjelang adzan untuk menunaikan shalat berjamaah dan dilanjutkan dengan dzikir, membaca Al Quran dan aktivitas ketaatan lainnya. Menara-menara masjid juga diterangi lampu-lampu yang memberikan efek pendaran cahaya bagi wilayah sekitar. Menjelang berbuka, masjid kembali tampak semarak dengan orang-orang yang memberikan ta’jil. Mereka berlomba-lomba memberikan sedekah kepada kaum Muslim yang lain, yang hendak berbuka puasa.

Pusat-pusat kegiatan masyarakat juga lazim dijadikan tempat berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Menu saat Ramadan tiba pun memiliki variasi mengikuti musim yang menyebabkan makanan buka puasa juga berubah-rubah. Saat musim dingin makanan yang disajikan lebih berat dibandingkan pada musim panas diberikan makanan yang lebih ringan. Saat berbuka puasa bersama, menu yang dihidangkan yaitu kurma, aprikot kering, dan juga makanan bernama lor mahlutu yang terbuat dari keju, menu ini berasal dari tahun 1989.

Terdapat juga makanan bourak atau disebut borek yang berisikan krokot dan juga keju serta makanan yang bernama yalanci sarma, menu ini adalah nasi yang dibungkus daun anggur. Kedua makanan ini berasal dari tahun 1844. Dilanjutkan dengan menu berbuka lainnya yaitu dengan disajikan sup dalam satu mangkuk. Sebagai makanan penutup, biasanya disajikan baklava atau halva yang merupakan makanan khas Timur Tengah. Minuman segar seperti minuman sirup dingin terbuat dari tamarin, buah cery, dan juga buah-buahan lain yang melengkapi menu berbuka puasa.

Sekolah-sekolah juga diliburkan selama Ramadan. Namun ada kegiatan lain yang dikoordinir sekolah seperti berkunjung ke desa-desa melakukan kerja sosial dan berbagi makanan. Kantor-kantor pemerintah mengalami atur ulang jadwal sehingga para pekerjanya tetap bisa memaksimalkan ibadah, beristirahat dan berkumpul bersama keluarga saat Ramadan.

Ramadan di masa Kekhalifahan Utsmaniyah membawa kegembiraan kepada seluruh lapisan masyarakat Muslim termasuk bagi kaum fakir atau yang membutuhkan hingga kalangan non Muslim. Begitulah indahnya semarak Ramadan di era Kekhilafahan.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *