Seperti Sesak Dadanya Menahan Rindu, Rasulullah Cinta Sejatinya

Seperti Sesak Dadanya Menahan Rindu, Rasulullah Cinta Sejatinya

Ia hanya terdiam, matanya berkaca-kaca diiringi isak tangis penuh makna. Entah apa yang ada di hatinya namun jelas reaksinya menunjukkan rasa cinta yang sangat dalam kepada Nabi.


Oleh : Ana Fras

POJOKOPINI.COM — Di sebuah tayangan eksperimen sosial, seorang reporter mengajukan sebuah pertanyaan kepada salah satu responden muslimah yaitu “Bagaimana jika kamu punya kesempatan berjumpa dengan Rasulullah SAW?” Sang muslimah tampak kebingungan dan mengatakan bahwa ia tak bisa berkomentar, lalu sang reporter kembali mengulang pertanyaan serupa “Apa yang akan dikatakan kepada Baginda Nabi?” lalu Sang Muslimah pun seperti kehilangan kata-kata, ia hanya terdiam, matanya berkaca-kaca diiringi isak tangis penuh makna. Entah apa yang ada di hatinya namun jelas reaksinya menunjukkan rasa cinta yang sangat dalam kepada Nabi, mungkin membayangkan sebuah perjumpaan dengan Rasulullah adalah perasaan yang sulit dilukiskan, sejatinya sebuah impian yang menjadi dambaan setiap insan beriman.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah (sempurna) iman seorang hamba sehingga aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya dan segenap umat manusia” (HR. Riwayat Muslim). Hadits ini sebuah gambaran bagaimana manusia mengelola naluri cinta dalam kehidupannya. Dan titik tertinggi mencintai adalah ketika Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dibanding apapun di dunia ini. Bahkan melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.

Begitulah, Allah memerintahkan manusia mencintai Rasulullah di atas segala makhluk yang ada di dunia ini. Sebuah cinta tanpa syarat kepada manusia langit kekasih Allah. Hal ini pun telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Katakanlah: “Jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah:24)
 

Maka bagi orang-orang yang beriman, ketika cinta itu begitu mendalam, berharap perjumpaan dan syafaat Rasulullah kelak di akhirat. Mereka tak akan rela jika ada siapapun menyakiti, menghina, mencemooh dan mengolok-olok Rasulullah. Tak diragukan bagaimana kecintaan para sahabat kepada Rasulullah, mereka rela mengorbankan apa saja bahkan nyawanya sekalipun untuk membela dan mendukung Rasulullah dalam dakwah dan jihad fi sabilillah.
 
Di awal-awal setelah hijrahnya Rasulullah ke madinah, dalam situasi genting dimana Rasulullah dan kaum muslimin di Madinah sedang menghadapi serangan demi serangan kaum kafir Quraisy, dikisahkan, ada seorang tokoh Yahudi bernama Ka’ab bin Al Asyraf yang begitu keras permusuhannya kepada Islam dan kaum Muslimin. Secara terang-terangan dia memprovokasi orang untuk memerangi dan membunuh Rasulullah. Bahkan dengan sengaja mendatangi pemuka kafir Quraisy di Mekah untuk membangkitkan kedengkian dan melakukan penyerangan kepada Rasulullah. Lalu ketika dia kembali ke Madinah, ia melantunkan syair-syair penghinaan dan olok-olok menjelekkan istri-istri sahabat Rasulullah.
 

Pada saat itu Rasulullah mengajukan pertanyaan kepada kaum Muslimin, “Siapakah yang berani menghadapi Ka’ab bin Alsyraf? Dia benar-benar telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Maka ada beberapa sahabat maju ke depan, yaitu Muhammad bin Maslamah, Ubbad bin Bisyr, Abu Na’ilah atau Sulkan bin Salamah saudara sesusuan Ka’ab, Al Hartis bin Aus dan Abu Abbas bin Jabr.  Maka kelompok sahabat ini mendatangi Ka’ab penghina Rasululullah ini dan membunuhnya. Maka setelah orang-orang Yahudi mengetahui bahwa pemimpin mereka Ka’ab bin Al-Asyraf terbunuh, mereka dicekam perasaan takut. Mereka tahu bahwa Rasulullah tidak sungkan-sungkan menggunakan kekuatan terhadap orang-orang yang tidak memperdulikan nasihatnya, mengganggu stabilitas keamanan, menimbulkan keresahaan dan tidak menghormati perjanjian yang telah disepakati dengan kaum muslimin.
 
Dari kisah tersebut, tentu kita memahami keadaan kaum muslimin saat itu, meski sedikit, namun mereka bersatu padu di bawah sebuah kepemimpinan yang kuat dan tangguh yaitu Rasulullah, loyalitas kaum muslimin terutama para sahabat terhadap Rasulullah dan dakwah Islam tak diragukan lagi. Atas dasar keimanan, cinta itu begitu besarnya diperuntukkan bagi Rasulullah dan jihad di jalan Allah.
 
Di antara tanda cinta adalah mengikuti apapun yang diperintahkan, diinginkan oleh orang yang kita cintai. Maka hakikat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tak lain adalah ketaatan kita kepada hukum-hukum Allah yang dibawa Rasulillah secara menyeluruh. Itulah bukti cinta yang sejati. Bukan sekedar retorika di lisan. Cinta Nabi bukan sekadar di hati namun diiringi dengan kepatuhan kepada syariat-Nya tanpa tapi tanpa nanti. Dan hanya berharap ridha Illahi.

Bukankan setiap kita akan dibersamakan kelak dengan orang yang kita cintai. Dan setiap orang beriman mendambakan bisa bersama Rasulullah di akhirat kelak. Dan mencapai hal ini tentu dengan memupuk cinta kepadanya di dunia.

Jadi sahabat, sudahkah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya sebagaimana mestinya?[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *