Serangan terhadap Hijab, Upaya Propaganda Sesat Sekularisme

Serangan terhadap Hijab, Upaya Propaganda Sesat Sekularisme

Tak bisa dinafikan bahwa sentimen negatif kepada ajaran Islam akan terus digaungkan oleh media-media sekuler, mereka adalah corong kaum liberal. Segala cara tanpa henti mereka lakukan dengan menyampaikan propaganda-propaganda sesat untuk menjauhkan dan menimbulkan keraguan kaum muslimin pada ajaran agamanya sendiri.


Oleh: Ana Fras

POJOKOPINI.COM — Lagi-lagi Islam menjadi objek serangan kaum liberal sekuler, tak henti-hentinya media sekuler menyajikan propaganda sesat dengan nuansa Islamfobia. Media asal Jerman Deutch Welle (DW) Indonesia dihujat sejumlah tokoh dan netizen karena membuat konten video yang mengulas tentang dampak pemakaian jilbab pada anak sejak kecil. Dalam cuitannya di Twitter, DW mempertanyakan “Apakah anak-anak yang dipakaikan jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?

Ada tiga narasumber yang DW wawancarai pertama, Ibu-Ibu yang membiasakan putrinya berjilbab sejak kecil, menurut pandangan mereka, bahwa ketika anak dari kecil sudah dibiasakan memakai jilbab maka ketika dewasa tidak kaget, tidak menolak dan sudah melihat pembiasaan ini dari lingkungannya termasuk Sang Ibu, Ibu lain mengatakan karena anak-anak dari sejak TK di sekolah Islam maka tak akan sulit mengarahkan anak-anak untuk memakai Jilbab.

Wawancara berikutnya berasal dari dua narasumber yaitu seorang psikolog dan seorang aktivis feminis liberal. Secara tersurat mereka menyampaikan bahwa pemakaian jilbab pada anak sejak kecil akan memberikan dampak psikologis dan dampak sosial. Menurut Sang Psikolog, bahwa anak-anak pada dasarnya belum mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab dengan keputusan tersebut, jadi resikonya adalah mereka belum paham betul konsekuensi dari pemakaian jilbab itu.

Lebih lanjut ia katakan bahwa yang dikhawatirkannya kemudian adalah pada saat usia SMP atau SMA dimana pada usia itu si anak sedang mencari untuk menemukan konsep diri, bertanya siapa dirinya, dan bagaimana identitasnya sedang dibentuk. Dan jika saat itu dia sudah menunjukkan diri dengan berhijab, berpakaian tertutup dalam identitas seorang muslimah, maka menjadi masalah apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya yang kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul.

Sedangkan menurut Darol Mahmada seorang aktivis feminis liberal bahwa wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil tetapi dia khawatir hal itu akan membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain, dan itu salah satu dampak sosial yang ditimbulkan.


Mencermati paparan dampak psikologis dan sosial yang disampaikan tersebut rasanya kita dihadapkan pada pernyataan-pernyataan yang absurd, bagaimana tidak, sang psikolog mengatakan akan ada kebingungan pada konsep diri dan pencarian identitas dan jati diri anak ketika dewasa jika dipakaikan jilbab sejak kanak-kanak, sedangkan secara sosial anak merasa eksklusif dan “berbeda” dari orang lain.

Bukankah yang kita pahami justru sebaliknya, pembiasaan berjilbab, menutup aurat sejak kanak-kanak adalah pembentukan konsep diri dan identitas itu sendiri, karakter seorang muslim memang wajib diarahkan dan dibentuk oleh orang tua sejak kanak-kanak. Dan itu adalah tugas dan kewajiban orangtua dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Sehingga saat sampai pada usia baligh atau dewasa, justru tidak akan lagi kebingungan dengan konsep diri, jati diri dan identitasnya sebagai seorang Muslim.

Selayaknya sejak awal, anak-anak dibentuk pola pikirnya dengan ajaran-ajaran Islam, terus memahamkan kepada anak bahwa standar moral atau perbuatan harus berdasarkan perspektif Islam termasuk dalam cara berpakaian dan hal ini tercermin dalam pola sikap dan pola hidupnya sehari-hari. Dan itulah identitas sejati seorang muslimah. Di sisi lain, mengenakan hijab adalah bentuk ketaataan seorang hamba atas kewajibannya memenuhi perintah Allah untuk menutup aurat.

Adapun dampak sosial yang disampaikan, rasanya terlalu mengada-ngada. Dikatakan bahwa hijab akan membuat pemakaianya merasa eksklusif, dan berbeda, pertanyaannya berbeda dari apa dan siapa, jika konteksnya berbeda dengan wanita kafir atau berbeda dari gaya busana kaum liberal sekuler yang menjunjung tinggi kebebasan berperilaku ya jelas berbeda, bahkan hijab adalah pembeda antara muslimah dengan non muslimah. Di sisi lain, Islam bukanlah ajaran yang eksklusif dalam konteks bahwa Islam adalah agama fitrah yang wajib didakwahkan pada seluruh manusia sehingga hukum-hukum syariat yang ada didalamnya dapat diterapkan dan karenanya terbentuk maslahat dan di titik itulah kemudian Islam menjadi rahmatan lil alamin.

Tak bisa dinafikan bahwa sentimen negatif kepada ajaran Islam akan terus digaungkan oleh media-media sekuler, mereka adalah corong kaum liberal. Segala cara tanpa henti mereka lakukan dengan menyampaikan propaganda-propaganda sesat untuk menjauhkan dan menimbulkan keraguan kaum muslimin pada ajaran agamanya sendiri. Kaum-kaum pembenci Islam tak rida sebelum kaum muslimin mengikuti cara hidup mereka. Allah berfirman “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka” (QS. al-Baqarah: 120).

Sebagai seorang Muslim, tentu segala persoalan wajib dipandang dengan kacamata Islam sehingga tak akan mudah termakan propaganda sesat kaum pembenci Islam. Dan hal itu bisa kita lakukan jika kita memahami dengan benar ajaran Islam kita sendiri. Jadi tak ada kata terlambat, Yuk Ngaji![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *