Seruan Kebangkitan dari Hagia Sophia

Seruan Kebangkitan dari Hagia Sophia

Jalan kebangkitan hakiki dan terbaik yang harus dipilih Erdogan adalah dengan menegakkan kembali Khilafah. Sistem yang pernah digunakan pendahulunya dan sempat membawa mereka menjadi bangsa penakluk yang disegani kawan maupun lawan. Serta sukses memimpin dunia berabad-abad lamanya.


Oleh: Ummu Afkar (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Hagia Sophia, landmark Bizantium yang telah beberapa kali diremajakan dan berubah fungsi ini sempat menjadi saksi keagungan budi pekerti seorang pemimpin Islam, Sultan Mehmed II atau dikenal dengan gelar Muhammad Al Fatih. Beliau melarang menyakiti satu orangpun yang berlindung di Hagia Sophia kala penaklukan, dan membebaskan mereka keluar atau tetap tinggal di Konstantinopel tanpa ada gangguan terhadap kepemilikan properti mereka. Padahal masa itu belum terhapus dari memori, perlakuan keji Ratu Isabella membantai muslim Andalusia.

Lalu bangunan yang merupakan gereja katedral ortodoks Yunani ini dibeli oleh Sultan Muhammad Al Fatih dengan uang sendiri, dijadikan masjid, dan diwakafkan untuk kaum muslimin. Namun kemudian Mustafa Kemal, presiden pertama Turki, mengubah Hagia Sophia menjadi meseum pada Tahun 1934. Mustafa mau semua kalangan, baik muslim maupun kristiani sama-sama dapat memilikinya dan menziarahinya. Pengagungan Mustafa terhadap sekularisme dan peradaban barat tampak jelas dari kebijakan sewenang-wenangnya ini.

Hari ini nama Hagia Sophia kembali mencuat di tengah hujan protes terhadap kebijakan Presiden Turki, Erdogan untuk mengembalikan fungsinya sebagai masjid seperti sebelumnya. Selama 85 tahun bangunan ini diklaim telah menjadi cerminan kerukunan sekaligus wujud sekularisme dari Presiden Mustafa Kemal, yang sebagian orang menganggapnya sebagai modernisme. UNESCO memperingatkan penetapan Hagia Sophia sebagai masjid berisiko merusak sifat universal bangunan tersebut sebagai tempat terbuka bagi semua peradaban. Menteri Kebudayaan dan Pemuda Uni Emirat Arab, Noura bint Mohamed Al Kaabi menyesalkan tindakan Turki mengusik situs warisan dunia yang menjadi saksi bisu interaksi dan toleransi antara umat beragama serta bangsa-bangsa Eropa dan Asia.

Paus Fransiskus merasa tersinggung dengan rencana tersebut. Bahkan Gereja Ortodoks Rusia secara keras menyebut rencana perubahan status Hagia Sophia sebagai pelanggaran kebebasan beragama. Yunani secara keras menyebut langkah Turki ini sebagai provokasi terbuka terhadap dunia yang sudah berperadaban. Amerika Serikat juga kecewa dan mendesak akses yang sama bagi semua pengunjung.

Apapun tanggapan mereka yang kontra dengan pengembalian status Hagia Sophia ini, namun bukti sejarah surat jual beli antara Sultan Muhammad Al Fatih dan pihak gereja masih tersimpan rapi di Pusat Arsip Turki di Ankara. Erdogan dengan kekuasaannya sebenarnya hanya membatalkan keputusan Mustafa Kemal yang batil itu, dan mengembalikan Hagia Sophia ke status sebenarnya, yakni Masjid Wakaf.

Warga Turki bergembira atas status terbaru dari Hagia Sophia. Saat azan pertama dikumandangkan dari dalam bangunan itu untuk pertama kalinya tidak lama setelah ditetapkan kembali menjadi masjid, banyak warga yang bersorak-sorai dan mengabadikan momen tersebut dari luar bangunan. Aktivis Islam di Turki ternyata sudah lama meminta hal ini diwujudkan, namun selalu mendapat tentangan dari anggota oposisi sekuler.

Kelompok Hamas di Palestina menilai keputusan ini adalah sebuah momen yang membanggakan bagi seluruh umat Muslim, karena menunjukkan Turki percaya diri dan menempatkannya dirinya di arena internasional. Sejumlah ulama Malaysia juga menyatakan dukungan penuh. Politisi Indonesia turut memberi tanggapan suportif. Fadli Zon dari Partai Gerindra mengucapkan takbir dan berterima kasih kepada Erdogan ketika mengetahui kabar tersebut. Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta, menilai kebijakan Erdogan ini menunjukkan keinginannya untuk diakui sebagai negara berdaulat dan sekaligus pemimpin kawasan.

Erdogan dalam pidatonya mengatakan, kebangkitan Hagia Sophia adalah kehendak umat Islam sedunia untuk keluar dari masa-masa kehampaan dan keterpurukan. Di samping juga merupakan satu langkah pertanda untuk pembebasan Masjid al-Aqsa. Terobosan ini bukan hanya menjadi kobaran harapan umat Islam tetapi juga dari semua masyarakat yang tertindas, korban perang dan penjajahan. Ini adalah seruan baru bangsa Turki dan Muslim kepada seluruh umat manusia.

Namun demikian, seruan kebangkitan Islam yang diserukan Erdogan lewat Hagia Sophia ini agaknya perlu ditelisik lebih jauh lagi. Bila kita memantau perkembangan negara ini, Turki terlihat beberapa kali mengalami krisis ekonomi dan sempat menjadi pasien IMF (International Monetary Fund). Bahkan krisis ekonomi terakhir di tahun 2019, membuat Turki berang dan menuding barat berada di balik kekacauan keuangan di negaranya. Dari sini kita bisa lihat, ternyata Turki juga terjebak penerapanan ekonomi pasar atau kapitalisme.

Padahal kita tahu, kapitalisme meniscayakan sistem mata uang fluktuatif yang tidak berbasis emas hingga mudah diguncang spekulan. Nilai mata uang yang anjlok ditimpali kebijakan ramah impor akan mengguncang kondisi sosial ekonomi dalam negeri. Apalagi jika sempat berobat ke lembaga pengemban kapitalisme seperti IMF. Justru resep berbahaya yang dijejalkan. Akibatnya negara menjadi lemah. Hidup rakyat diserahkan pada kuasa swasta. Ada uang, ada barang dan jasa. Ketimpangan distribusi harta yang dihasilkan sistem ini hanya akan menuai kemiskinan. Walhasil negara tak akan pernah bangkit.

Sisi lain kita lihat, di dalam negeri Erdogan disibukkan dengan hiruk pikuk demokrasi. Sering direpotkan dengan partai-partai oposisi yang menegaskan kesekulerannya. Padahal segala keputusan ditentukan di ujung voting atau lobi-lobi politik di parlemen. Ide Islam akan ditarung oleh pengemban sekularisme.

Maka seruan kebangkitan menjadi tong kosong nyaring bunyinya di tengah belitan kapitalisme dan kungkungan demokrasi. Erdogan perlu menelaah lagi sistem yang digunakannya untuk memimpin kebangkitan umat ini. Mustahil akan mencapai keberhasilan jika salah memilih peta jalan kebangkitan.

Allah telah menghadirkan teladan terbaik untuk kita, yaitu Rasulullah SAW. Beliau telah sukses memimpin umat menuju tegaknya daulah Islam di Madinah, yang menerapkan seluruh syariat Islam dalam tatanan kehidupan. Dan kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah yang banyak setelahnya. Termasuk leluhur Erdogan yakni Sultan Muhammad Al Fatih yang mewakafkan Hagia Sophia untuk umat. Mereka semua menjalankan sistem Khilafah. Sistem kenegaraan warisan Rasulullah.

Maka jalan kebangkitan hakiki dan terbaik yang harus dipilih Erdogan adalah dengan menegakkan kembali Khilafah. Sistem yang pernah digunakan pendahulunya dan sempat membawa mereka menjadi bangsa penakluk yang disegani kawan maupun lawan. Serta sukses memimpin dunia berabad-abad lamanya.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *