Sex Education Sejak Dini, Perlukah?

Sex Education Sejak Dini, Perlukah?

Benarkah sex education menjadi solusi bagi maraknya kejahatan seksual yang tak henti mengancam anak-anak generasi? Benarkah sex education juga mampu menyelesaikan merajalelanya free sex di kalangan remaja yang mengantarkan kepada penyakit sosial?


Oleh: Rizki Sahana (Homeschool Offender, Aktivis Muslimah)

POJOKOPINI.COM — Hampir 55 persen kasus kekerasan yang menimpa anak-anak sejak Januari 2020 sampai dengan 17 Juli 2020 merupakan kekerasan seksual, baik fisik maupun emosional. Hal itu dinyatakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, pada Hari Anak Nasional 2020. Pernyataan tersebut sungguh menyisakan sesak dalam dada. Jika terdapat 3.928 kasus kekerasan terhadap anak (yang dilaporkan) berdasar Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI) Kemen PPPA, maka setidaknya ada 2000 lebih anak-anak mengalami kekerasan seksual hanya dalam waktu kurang dari satu semester. Subhanallah!

Merespon banyaknya kekerasan seksual terhadap anak, khususnya apa yang terjadi pada siswi SMK di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Sulut), beberapa waktu lalu, di mana video siswi tersebut digerayangi ramai-ramai oleh pria dan perempuan menjadi viral di media sosial (medsos), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi di sekolah sangatlah penting. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, KPAI akan mendorong dinas-dinas pendidikan dan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) RI untuk memiliki kebijakan dan melakukan upaya-upaya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Menurutnya, upaya itu dapat dilakukan dengan cara mengajarkan pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi di sekolah.

Sementara itu, Komisioner Komnas Perempuan Marianna Amiruddin dalam acara Perayaan Hari Perempuan Internasional di Tribeca Park, Jakarta Barat, Minggu (8/3/2020), menyatakan, pendidikan seksual (sex education) bahkan disarankan diajarkan sejak dini.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam sebuah peringatan Hari Anak Nasional di Jakarta tahun lalu pun menyatakan hal senada, bahwa pengenalan seks sejak dini perlu bagi anak.

Pertanyaannya, benarkah sex education menjadi solusi bagi maraknya kejahatan seksual yang tak henti mengancam anak-anak generasi? Benarkah sex education juga mampu menyelesaikan merajalelanya free sex di kalangan remaja yang mengantarkan kepada penyakit sosial?

Kenyataannya, sex edu yang dirumuskan oleh Barat untuk melawan sex violent nyaris tak pernah mampu menekan angka kekerasan seksual yang terus meningkat. Konsep sex edu dalam International Technical Guidance on Sexuality Education yang dirumuskan oleh UNAIDS (The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS) pun gagal menekan angka penderita AIDs akibat free sex yang terus melonjak.

Faktanya, sex edu semakin menstimulus keingintahuan remaja untuk mencoba mempraktikkan aktivitas seksual. Akibatnya, free sex semakin menggila, angka penyakit menular seksual termasuk AIDS pun meningkat tajam.

Pandangan Islam

Sex edu sesungguhnya tidak dikenal dalam literatur keilmuan Islam. Pendidikan seks dalam Islam senantiasa terintegrasi dengan keimanan (tauhid), fiqih, juga akhlak. Dalam Islam sex edu tidak berdiri sendiri, tapi selalu berkelindan dengan pembahasan hukum-hukum syara’ yang lainnya.

Maka, pembahasan tentang bagian-bagian tubuh manusia termasuk organ reproduksi misalnya, tak semata dibahas secara ilmiah bahkan dilepaskan dari aqidah, namun harus melibatkan pembahasan fiqih seperti pembahasan aurat misalnya. Boleh dan ga boleh dalam pembahasan seksualitas, semuanya merujuk kepada perintah dan larangan Allah, bukan kepada standar kesopanan dan norma dalam masyarakat atau bahkan semata standar bahaya atau aman menurut ilmu kesehatan.

Karenanya, sex edu dalam konteks Barat, yakni pendidikan seks yang melulu membahas seksualitas dengan memfokuskan pada konten pengenalan organ reproduksi serta aktivitas seksual yang ‘aman’, semestinya kita hindari untuk disampaikan kepada anak. Sebab, selain konsepnya yang sekuler, sex edu ini belum terbukti berhasil menyelesaikan problem kerusakan sosial di tengah masyarakat.

Yang perlu, bahkan penting dan urgen untuk kita sampaikan sekaligus kita tanamkan ke dalam diri anak adalah konsep pendidikan Islam yang utuh mulai dari akarnya, yakni keimanan. Tak perlu risau soal sex edu, karena konsep pendidikan Islam sudah meng-cover sex edu ini dalam berbagai konten syariat-Nya yang mampu menyelamatkan anak-anak generasi sekaligus manusia seluruhnya. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *