Sinetron tak Mendidik, Kok Tayang?

Sinetron tak Mendidik, Kok Tayang?

Dengan dalih sex education, media kapitalis akan tetap menayangkan “sinetron sampah”, selama masih ada yang berminat dan mendatangkan keuntungan. Tanpa pernah berpikir dampak apa yang akan ditimbulkan terhadap akidah, moral, dan perilaku generasi ke depannya.


Oleh: Neng Ranie SN

POJOKOPINI.COM — Industri hiburan di tanah air kembali dibuat gaduh dengan menayangkan tayangan tidak mendidik. Sinetron baru berjudul “Dari Jendela SMP” menuai kontroversi. Pasalnya, sinetron yang diadaptasi dari novel karya Mira W ini dinilai menampilkan alur cerita percintaan anak SMP yang bernama Joko dan Wulan hingga hamil di luar pernikahan. Meskipun pada akhirnya terdapat klarifikasi, bahwa sebenarnya Wulan tidak hamil. Kendati demikian, artinya di dalam ceritanya mereka pernah melakukan “aktivitas terlarang?” Astaghfirullah.

Sontak hal ini membuat sejumlah masyarakat, KPAI dan beberapa lembaga masyarakat melayangkan pengaduan ke KPI. Setelah dikaji, akhirnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memutuskan menjatuhkan sanksi teguran untuk program siaran “Dari Jendela SMP” SCTV. Hasil dari rapat pleno penjatuhan sanksi KPI Pusat, menyatakan program siaran yang mulai tayang pada 29 Juni 2020 lalu, memuat visualisasi yang tidak sesuai dengan perkembangan psikologis remaja.

Ketua KPI Pusat, Agung Suprio mengatakan, keputusan memberi teguran untuk sinetron ini karena isi cerita dan visualisasi yang kurang pantas untuk dikonsumsi remaja atau anak-anak. “Ceritanya memberikan contoh yang tidak baik terkait pacaran di sekolahan, perbincangan kehamilan di usia yang sangat muda tanpa ada klarifikasi-klarifikasi yang menegasikan tentang kehamilan tersebut yang bisa dipandang sebagai pendidikan reproduksi,” tegasnya (www.kpi.go.id, 08/07/2020).

Resah rasanya melihat tayangan-tayangan televisi saat ini, tidak berbobot dan merusak generasi bangsa. Program acara yang ditayangkan sangat jauh dari kata memberi pendidikan, pengetahuan, ataupun sumber referensi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Meskipun hanya sekadar tayangan hiburan, akan tetapi akan ada efek yang akan ditimbulkan di kemudian hari. Karena apa yang ditonton, didengar, dan dibaca akan mempengaruhi pola pikir dan pola sikap seseorang.

Inilah yang disebut “Ghazwul Fikr”, yaitu serangan pemikiran yang mampu menghancurkan generasi muda, yang tanpa disadari pola pikir mereka berubah. Sesuatu yang melanggar syariah, apabila disampaikan dan dicontohkan secara terus menerus, maka akan dianggap biasa dan wajar. Ini akan mempengaruhi pola sikap mereka nantinya.

Tontonan bertemakan percintaan akan menggambarkan indahnya dan senangnya berpacaran. Selain itu, ada juga adegan bullying, cara berbusana mengumbar aurat, gaya hidup hedonisme, dan prinsip hidup permisif yang melanggar aturan Allah.

Bukan satu atau dua kali KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) menegur pihak televisi yang terus menerus menayangkan program yang dianggap kurang mendidik. Namun, demi rating yang tinggi atau jumlah penonton yang meningkat, pihak media seakan acuh tak acuh akan sikap KPI tersebut. Apalagi dengan naiknya rating, maka jumlah pendapatan akan semakin besar.

Sudah ditegur, mengapa masih banyak tayangan tidak mendidik yang berseliweran? Sehingga wajar, apabila masyarakat berasumsi jangan-jangan penguasa juga ikut berbisnis di dalamnya. Karena jika tegas, tayangan-tayangan yang dianggap bisa merusak citra dan pola pikir dari anak-anak sebaiknya langsung dihentikan. Namun kenyataannya, program-program TV masih dengan model yang hampir sama tentang percintaan, bahkan semakin ngawur alur ceritanya.

Hal ini tidak lepas dari sistem yang dianut negeri ini, sistem kapitalis-sekuler. Sistem yang dibangun berdasarkan asas manfaat, materi menjadi standar dalam beraktivitas.

Dengan dalih sex education, media kapitalis akan tetap menayangkan “sinetron sampah”, selama masih ada yang berminat dan mendatangkan keuntungan. Tanpa pernah berpikir dampak apa yang akan ditimbulkan terhadap akidah, moral, dan perilaku generasi ke depannya.

Tontonan merusak generasi ini meracuni generasi muda oleh ide-ide sekuler. Musuh Islam berupaya menjauhkan generasi muda dari Al-Qur’an, sebab mereka paham kebangkitan Islam berada di tangan para pemudanya. Pemuda yang jauh dari Al-Qur’an adalah pemuda yang rapuh akidahnya dan rendah akhlaknya. Alhasil, para pemuda Islam tidak daoat memahami mana yang haq dan yang batil dan sulit membedakan perkara yang halal dan haram. Sehingga mereka berani mengabaikan perintah Allah, berbuat kemaksiatan.

Beda halnya, di dalam sistem pemerintah Islam seperti kekhalifahan, tidak akan ada tontonan perusak generasi. Media di negara khilafah hanya akan digunakan sebagai sarana berdakwah menyebarkan Islam ke tengah-tengah umat. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi pun akan tetap diberikan, tanpa ada unsur pelanggaran syariat Islam. Jadi, program yang ditonton akan memberikan motivasi untuk memahami Islam dan berlomba-lomba melakukan amal saleh. Sistem Islam akan melahirkan generasi millenial yang berkualitas, bertakwa, dan memiliki Syaksiyah Islamiyyah.

Semakin rindu akan hadirnya kekhalifahan minhaj nubuwwah. Sistem pemerintahan yang akan menerapkan Islam secara kafah di setiap aspek kehidupan manusia. Dengan sistem Islam inilah, setiap persoalan akan diselesaikan dengan paripurna, termasuk tontonan perusak generasi. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *