Sistem Islam Bebaskan Palestina

Maka sudah seharusnya kaum muslimin sadar bahwa masalah Palestina bukan hanya permasalahan negara Palestina saja, selain ini adalah tanah kharaj yang menjadi milik kaum muslimin selamanya. Dan telah nyata bahwa negara Israel dengan kejahatannya adalah negara agresor dan penjajah, jika ingin membebaskan Palestina tidak mungkin dengan kompromi dan perundingan dengan berbagai opsinya.


Oleh: Yeni Ummu Athifa (Pemerhati Masalah Umat) 

POJOKOPINI.COM — “ …Kami memang butuh dana, makanan, selimut dan obat-obatan namun tolong kirimkan kepada kami pasukan militer karena hanya ini yang mampu membebaskan kami dari penderitaan …” (Muslimah al-Shami).
 
Inilah sepenggal kalimat  dari seorang Muslimah Palestina yang disampaikan langsung melalui zoom pada acara bincang-bincang tokoh, Hj Irene handono (06/06/ 2021). Suara yang mengiang sulit untuk dilupakan, menancap dalam jiwa dan membekas dalam ingatan. 
 
Bagaimana tidak? Beliau menyampaikannya dengan sepenuh rasa dan harapan, seakan menegaskan hanya dengan pengiriman pasukan tentara saja, kaum muslimin di Palestina bisa bebas dari penjajahan Israel bukan dengan cara lainnya!
 
Melalui cerita beliau, kita menjadi tahu  bagaimana kondisi kaum muslim terkini di Palestina. Walaupun selama ini kita juga mendapatkan kabar tersebut tetapi menjadi berbeda ketika kita mendengar langsung dari seorang Muslimah di sana. Dimana kehidupan di bumi Palestina adalah sebuah kehidupan yang tidak normal selama bertahun-tahun sejak bumi Palestina jatuh dan di kuasai penjajah zionis.
 
Sejak saat itu kehidupan mereka  jauh dari kata nyaman, di matai-matai, teror, intimidasi dan siksaan fisik pun  kerap dialami oleh mereka bahkan tak jarang pelecehan terhadap muslimah pun sering terjadi.  Hingga pengusiran  dan pengambilan  tanah serta rumah mereka secara paksa.

Dan hal ini kerap terjadi, Seperti apa yang dialami oleh warga di  Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang merupakan salah satu pemukiman warga Arab Palestina paling tua di Yerusalem, berujung pada bentrokan di Yerusalem pada Jumat (7/5/2021) yang menjadi pemicu agresi militer Israel  terhadap kaum muslim Palestina yang terus berlanjut hingga kini.
 
Namun bukan itu saja, kaum muslimin di sana tak terkecuali Muslimah nya, keluar masuk  penjara adalah suatu hal yang biasa. Bagi mereka penderitaan di luar ataupun di dalam penjara  tak ada bedanya. Bahkan saat ini lebih dari 340 orang Muslimah berada di dalam penjara.
 
Siapa yang tak menangis, ketika Mesjidil Aqsa, mesjidnya seluruh kaum muslim diserang dan dirusak. Ia  ada di depan mata, berjarak   hanya beberapa ratus meter saja dari dirinya namun tidak bolehkan masuk ke sana kecuali setelah mendapat izin dari militer yang bersenjata lengkap di setiap pos. Mirisnya lagi itu pun hanya untuk usia lansia, usia di atas 40 tahun.

Bagaimana bisa tak merindu, bukannya keutamaan beribadah di Mesjid Ini telah kita terima dari rasul? Dari Abu Darda’ dan Jabir Radhiyallahu ‘Anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda:

 “Keutamaan shalat di Masjidil Haram adalah seratus ribu kali shalat atas masjid selainnya. Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) adalah seribu shalat. Sedangkan di masjid Baitil Maqdis adalah 500 kali lipat.” (HR. Al-Baihaqi di al-Sunan Al-Shughra, no. 1821 dan dishahihkan Al-Albani di Shahih al-Jami’, no. 4211)
 
Maka wajar, rakyat Palestina berusaha melawan kekejian  bangsa Israil ini walau dengan perlawanan yang tidak seimbang. Rakyat dan organisasi masyarakat yang terkenal dengan gerakan intifadanya, hanya sebuah kelompok  kecil yang bersenjata sederhana melawan kekuatan zionis yang bersenjata canggih. Sungguh pertempuran yang tak berimbang. Tapi jika ditanya, Apakah mereka akan mundur?
 
Tentu saja tidak! Tak ada secuil pun rasa takut apalagi menyerah bagi kaum muslim di sana untuk mempertahankan negeri mereka. Hidup di antara desingan peluru, dentuman bom yang terdengar mengejutkan di waktu malam bahkan  berlindung di bawah puing-puing runtuhan bangunan sudah biasa bagi mereka. Akan tetapi kualitas keimanan yang terpatri di dada-dada mereka, keinginan membebaskan Masjidil Aqsa dari penguasaan kaum zionis menjadi cita-cita tertinggi mereka.
 
Hebatnya, sekalipun hanya seorang ibu rumah tangga biasa, para Muslimah di sana senantiasa berusaha dengan segala upaya yang mereka bisa lakukan demi mempertahankan mesjid Al-Aqsa. Paling tidak menjalankan amanah sebagai ummun rabatul bait, mempersiapkan, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka, berharap kelak anak-anak mereka tumbuh menjadi mujahid/mujahidah pembebas Masjidil Aqsa tanpa sedikit pun ada rasa takut akan datangnya kematian.
 
Bahkan kesabarannya melebihi para ashabiyah. Jika para ashabiyah dulu hanya kehilangan satu atau dua  orang saja dari anak-anak mereka. Akan tetapi para kaum ibu di bumi Ribat ini sudah biasa dengan kehilangan suami bahkan ikhlas kehilangan putra-putri mereka hingga lima orang sekaligus. Pantaslah kiranya kita menyaksikan dari media masa bagaimana anak-anak Palestina dengan gagah berani menghadapi para militer zionis yang bersenjata lengkap sekalipun. 

 Ada Apa di Bumi Palestina?

Mirisnya,  selama ini kaum muslimin  digiring untuk percaya kalau yang terjadi di bumi Palestina hanya sebuah tragedi kemanusiaan biasa bukan masalah agama/ideologi. Sehingga tidak heran simpati dan pertolongan yang di berikan ke mereka hanya lah Berupa simpati kemanusiaan, hanya sekedar mengirimkan makanan, selimut dan obat-obatan.
 
Demi Allah, naif sekali kita! jika termakan framing berita yang menyatakan demikian. Sesungguhnya apa yang  terjadi di bumi mulia Palestina adalah peperangan  ideologi, perang antara ideologi Islam dan barat. Keberhasilan pendudukan Israel atas Palestina merupakan buah konspirasi  internasional yang sudah berlangsung lama, dimulai dengan usaha melemahkan sistem pemerintahan Khilafah Turki Ustmani oleh negara Inggris dan sekutu-sekutunya. Hingga runtuhnya negara Daulah pada tanggal 24 Maret 1924 M.
 
Dilanjutkan dengan pembagian wilayah khilafah oleh Inggris dan Perancis berdasarkan perjanjian Skyes-Picot pada tahun 1916, hingga akhirnya Inggris berhasil memprakarsai lahirnya Deklarasi Balfour pada tanggal 2 November 1917 merupakan pintu masuk bangsa Yahudi ke negara Palestina, bahkan arus gelombang yang fasilitasi oleh negara Inggris ini tak mampu di tahan oleh bangsa Palestina walaupun mereka berusaha menolaknya.  Dan berbagai perjanjian lainya yang terlihat nyata menguntungkan negara Israel.
 
Hingga akhirnya apa yang kita dan dunia saksikan sekarang, pendudukan dan pencaplokan tanah kediaman mereka secara terstruktur berulang kali terjadi dengan cara yang keji, licik dan kejam bahkan di luar nalar sehat yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap penduduk Palestina. Apalagi Israel berupaya berbagai cara agar Yerusalem yang dianggap kota suci jatuh kembali ke mereka, hingga menjadikan konflik berdarah berkepanjangan hingga kini.
 
Ditambah lagi fakta juga terindera bahwa penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan cara kompromi ataupun berakad damai  oleh lembaga-lembaga Internasional semacam LBB/PBB selalu saja memihak kepada bangsa Israel dan merugikan rakyat Palestina. Wajar, karena  bukankah sudah menjadi rahasia umum lembaga tersebut selalu tebang pilih menampakkan keberpihakannya kepada lawan kaum muslimin. Anehnya lagi, ketika terjadi gencatan senjata justru  akan selalu dilanggar oleh Israel sendiri.
 
Sementara di sisi lain, umat Muslim di Palestina akan berjuang mempertahankan sampai titik darah terakhir kota Yerusalem karena ini kota yang mulia  bagi kaum muslimin. Selain terdapat Masjidil Aqsa yang disucikan umat Islam, karena Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama. Ia juga Tempat Nabi melakukan perjalanan Isra Mikraj yang melahirkan perintah salat lima waktu.
 
Bahkan seharusnya bukan saja Muslim Palestina yang berkewajiban untuk mempertahankannya namun  juga oleh seluruh kaum Muslim dunia. Namun sayangnya, sekat-sekat nasionalisme yang terlahir dari sistem Kapitalisme-Sekularisme  menjadikan negara muslim di seluruh dunia tersekat-sekat oleh batas negara. Yang dapat dilakukan oleh Pemimpin-pemimpin muslim tersebut hanya sekadar mengutuk dan mengecam. Atau pengiriman bantuan sosial yang oleh individu saja mampu di lakukan, konon lagi oleh kepala negara. Miris!
 
Padahal jelas-jelas penjajahan yang dilakukan oleh negara Israel  terhadap Palestina di dukung sepenuhnya  oleh negara-negara Barat terutama Amerika Serikat, baik dari segi dukungan moril, dan hingga persenjataan,  walaupun di tentang oleh rakyatnya sendiri (Republika.co.id, 20/06/2021), yang semua di lakukan bukan tanpa sebab apalagi kalau bukan untuk tetap memastikan hegemoni negara nya atas negara-negara kaum muslim.
  
Bahkan tidak tanggung-tanggung, di lansir dari SindoNews.Com, 14/06/3021, presiden AS, Joe Biden menyambut baik  koalisi pemerintah baru yang dipimpin oleh politisi nasionalis Naftali Bennett yang terkenal sangat anti terhadap negara Palestina, dan berusaha untuk menegaskan kembali hubungan AS-Israel. “Saya berharap dapat bekerja dengan Perdana Menteri Bennett untuk memperkuat semua aspek hubungan yang erat dan langgeng antara kedua negara kita.”

Jika demikian adanya, masih kah kita kaum muslimin mempercayai penyelesaian Palestina ke negara Barat atau lembaga Internasional lainnya yang notabene didominasi oleh negara Amerika Serikat? Maka ‘bom bunuh diri’ lah sebutannya jika demikian.
 
Maka sudah seharusnya kaum muslimin sadar bahwa masalah Palestina bukan hanya permasalahan negara Palestina saja, selain ini adalah tanah kharaj yang menjadi milik kaum muslimin selamanya. Dan telah nyata bahwa negara Israel dengan kejahatannya adalah negara agresor dan penjajah, jika ingin membebaskan Palestina tidak mungkin dengan kompromi dan perundingan dengan berbagai opsinya.
 
Untuk itu kaum muslim harus memahami bahwa konflik Palestina-Israel ini tercipta secara sistematis oleh kekuatan ideologi yang besar yaitu ideologi Kapitalisme-Sekularisme maka tidak akan ada yang mampu melawannya kecuali oleh sebuah negara adidaya yaitu negara Khilafah, pengemban Ideologi Islam.

Hanya negara khilafah lah yang mampu menghadirkan tentara militer untuk mengusir Israel dari bumi Palestina. Karena memang hanya itu langkah yang tepat untuk menuntaskan konflik antara Israel-Palestina!
 
Namun sayang, harapan itu hanya sekadar angan-angan saja selama keberadaan negara Daulah Islamiyah belum terwujud keberadaannya hingga saat ini. Maka  menjadi kewajiban yang sangat urgen bagi kaum muslimin seluruhnya dengan mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera mewujudkan. Selain memang keberadaan khilafah ini memang suatu keharusan bagi kaum Muslimin untuk memimpin kaum Muslimin di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;

Dulu Bani Israil diurus (dipimpin) oleh para nabi. Ketika seorang nabi telah wafat, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya setelahku tidak ada seorang nabi pun. Yang akan ada para khalifah. Jumlah mereka banyak (HR Muslim).
 
Maka yakinlah, hadirnya negara Khilafah bukan hanya akan menyelesaikan masalah Palestina namun seluruh permasalahan yang menimpa kaum muslimin di seluruh dunia  akan tuntas terselesaikan, Insyaallah. Wallahu a‘lam bishshawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *