Sistem Kapitalisme Terbukti Gagal Menjamin Pangan Rakyat

Sistem Kapitalisme Terbukti Gagal Menjamin Pangan Rakyat

Benarkah pandemi virus Corona adalah penyebab tunggal kelaparan dunia? Faktanya, sebelum wabah Corona melanda, di berbagai negara berkembang penduduknya sudah berjuang lebih dulu untuk melawan kemiskinan dan kelaparan. Sementara di negara-negara maju, penduduknya berjuang melawan kegemukan. Kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin tersebut semakin hari semakin besar.


Oleh: Haura Az-Zahra

POJOKOPINI.COM — Sudah tiga bulan wabah Corona di Indonesia. Kenaikan jumlah pasien semakin meningkat setiap harinya. Data terakhir per 3 Mei 2020 jumlah pasien positif Corona sudah mencapai 11 ribu. Belum usai wabah Corona, masyarakat dunia mulai dilanda krisis pangan dan ancaman kelaparan.

Lembaga dunia World Food Programme (WFP) mengatakan, masyarakat dunia menghadapi ancaman kelaparan besar-besaran dalam beberapa bulan lagi akibat resesi ekonomi yang dipicu oleh pandemi (tempo.co 23/04/20). Dikutip juga oleh Kumparan.com (27/04/20) bahwa Direktur World Food Programme (WFP), David Beasley, menyebutkan ada  265 juta penduduk dunia yang terancam kelaparan sebagai dampak dari pandemi virus Corona.

Di Indonesia sendiri sebelum virus Corona menyerang, 22 juta penduduk sudah mengalami kelaparan kronis. Jumlah tersebut setara 90 persen dari total jumlah penduduk miskin Indonesia, yaitu 25 juta jiwa (beritagar.id 6/11/19). Akibat adanya Covid-19, jumlah masyarakat yang kelaparan bisa bertambah 2 kali lipat. Ditambah dengan adanya gelombang PHK besar-besaran menambah semakin peliknya penderitaan rakyat yang menimbulkan kemiskinan dan kelaparan. Apalagi kebijakan PSBB yang diusung pemerintah, ternyata tidak diikuti dengan pemenuhan kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat terdampak. Ancaman kelaparan bisa semakin hebat

Ternyata bukan hanya ancaman kelaparan yang mengintai masyarakat. Akibat kesulitan hidup yang kian mencekik, muncul ancaman lain yang mengintai, yaitu bahaya kriminalitas seperti perampokan, pencopetan, pencurian dan seterusnya. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nana Sudjana menyatakan tingkat kriminalitas di wilayah hukumnya naik 10 persen selama masa pandemi virus Corona. Sementara itu Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono menyatakan peningkatan kriminalitas sebesar 19,72 persen dari masa sebelum pandemi (tribunnews.com 27/04/20)

Benarkah pandemi virus Corona adalah penyebab tunggal kelaparan dunia? Faktanya, sebelum wabah Corona melanda, di berbagai negara berkembang penduduknya sudah berjuang lebih dulu untuk melawan kemiskinan dan kelaparan. Sementara di negara-negara maju, penduduknya berjuang melawan kegemukan. Kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin tersebut semakin hari semakin besar.

Kondisi ini terjadi karena dunia menganut sistem Kapitalis-Liberal. Dimana segelintir orang kaya menguasai hamper seluruh kekayaan alam yang tersedia. Akibatnya mayoritas masyarakat hanya mendapat remah-remahnya saja.

Bagaimana dengan sistem Islam? Islam memberikan jalan keluar menghapus ketimpangan sosial, mewujudkan mitigasi dan penanganan kesulitan pangan saat kondisi pandemi. Untuk mengatasi ancaman krisis pangan pada saat wabah dan pasca wabah negara melaksanakan sejumlah kebijakan strategis, salah satunya menjaga kecukupan stok pangan dengan cara memaksimalkan pemanfaatan lahan pertanian oleh masyarakat yang tidak terkena wabah.

Sebagaimana yang dicontohkan Khalifah Umar bin Khaththab ketika menghadapi krisis. Beliau membangun pos-pos penyedia pangan di berbagai tempat, bahkan membagikan sendiri makanan dari baitul mall ke setiap rumah. Ketika kondisi keuangan baitul mal tidak tercukupi, Khalifah Umar bin Khaththab mengirimkan surat kepada para wali untuk meminta bantuan hingga datang bala bantuan yang sangat besar jumlahnya. Dengan strategi ini negara mampu menyelesaikan krisis pangan dengan cepat.

Kondisi seperti ini tidak akan dapat kita temukan saat ini di dalam sistem Kapitalisme yang selalu menghitung untung rugi. Sekalipun dalam urusan hidup rakyat. Kondisi ini hanya akan didapat jika negara mengadopsi sistem Islam. Lalu apakah kita tidak ingin mendapatkan kebaikan di dalamnya? Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *