Sistem Sekuler Kapitalisme Mereproduksi Pandemi

Sehingga, keselamatan jiwa dan penguncian wilayah menjadi konsep utama dan penting dilakukan dalam menangani wabah.


Oleh : Dien Kamilatunnisa

POJOKOPINI.COM — Awal tahun 2021 akan segera datang, tapi pandemi masih belum selesai. Hampir semua orang bertanya kapan ujung pandemi ini. Namun, belum usai dengan pertanyaan tersebut, publik dikagetkan dengan pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO mengatakan bahwa pandemi Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir. Bahkan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengutuk siklus “berpandangan sempit dan berbahaya” dari membuang uang tunai pada wabah, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mempersiapkan kemungkinan pandemi berikutnya (28/12).

Seperti yang telah kita ketahui bahwa ada varian virus Corona baru. Virus Corona varian baru strain SARS-CoV-2 dengan daya penularan lebih cepat diidentifikasi berawal di Inggris pada September 2020. Virus itu dijuluki Variant Under Investigation tahun 2020, bulan 12, varian 01 atau SARS-CoV-2 VUI 202012/01. Meskipun Public Health England- lembaga Inggris urusan kesehatan masyarakat- menunjukkan bahwa varian virus baru ini tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah (antaranews.com, 30/12/2020).

Butuh diakui, bahwa sistem sekuler yang mendominasi di berbagai negara saat ini memang menitikberatkan pada petimbangan ekonomi dibandingkan keselamatan jiwa. Sehingga mekanisme lockdown di berbagai negara tidak akan cukup efektif jika tidak dilakukan sejak kemunculan virus Covid-19. Dari sudut pandang sekuler-kapitalisme jika diberlakukan lockdown total, maka akan ada kerugian materi yang cukup besar. Keselamatan jiwa manusia pun tidak menjadi prioritas dalam sistem ini, sehingga kita temui angka korban meninggal dan positif yang semakin bertambah setiap saat. Dilansir Pikiran-Rakyat.com dari laman Worldometers per Selasa, 29 Desember 2020 jumlah kasus positif di seluruh dunia mencapai 81.622.031 kasus. Jumlah kematian akibat pandemi virus corona mencapai 1.780.320 jiwa per Selasa, 29 Desember 2020.

Pernyataan menarik dikemukakan oleh Dimas Iqbal Ramadhan, Ph.D Candidate, Medical Anthropology and Global Health, University of Washington, dari sudut pandang keilmuan kesehatan global, pandemi bukanlah kejadian alami melainkan disebabkan kegagalan penerapan sistem kesiapsiagaan pandemi (pandemic preparedness) sedari awal. Jika sistem preparedness multilateral dan multisektoral ini tidak segera dibenahi atau jika beberapa negara masih enggan menjalankan sistem ini, bisa jadi wabah COVID-19 ini bukan satu-satunya pandemi yang kita alami dalam Abad ke-21 ini (theconversation.com, 12/05/2020).

Sistem sekuler-kapitalisme saat ini memang telah nyata gagal dalam mengatasi pandemi. Bahkan sistem ini tidak memiliki sistem kesiapsiagaan pandemi yang matang.

Oleh karena itu, saat ini, dibutuhkan sistem alternatif yang berasal dari al-Khaliq, yaitu sistem Islam kaffah. Sistem Islam telah terbukti mampu menangani wabah. Islam memandang bahwa kesehatan dan keselamatan jiwa adalah kebutuhan mendasar manusia. Islam sangat menghargai nyawa seorang manusia.

Di samping itu, konsep Islam memiliki pencegahan dan penanggulangan wabah yang khas –sebagai bagian dari sistem kesehatan Islam– yaitu dengan pembatasan wabah di daerah asalnya (lockdown syar’i). Ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya: “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya” (HR Imam Muslim). Sehingga, keselamatan jiwa dan penguncian wilayah menjadi konsep utama dan penting dilakukan dalam menangani wabah.

Karena jika hanya melakukan screening epidemiologi, contact tracing (penelusuran kontak), perawatan dengan menyertakan physical distancing, tetapi tidak melakukan penguncian wilayah wabah sesegera mungkin, wabah akan meluas secara cepat. Maka, hanya dengan kembali pada sistem Islam saja akan kita temui solusi yang sesuai akal dan menentramkan jiwa. Lebih jauh dari itu, dengan kembali pada syariat Islam maka akan kita dapati keberkahan di dunia ini dari Allah SWT. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *