Sistem Sekuler, Penyebab Suburnya Penghinaan pada Nabi Muhammad

Khalifah tidak akan tinggal diam jika ada yang menghina Rasulullah Muhammad Saw. Pasalnya, Khalifah memang wajib menjaga kemuliaan Allah SWT, Rasulullah Saw serta ajaran Islam dan simbol-simbolnya.


Oleh: Dien Kamilatunnisa

POJOKOPINI.COM — Penghinaan pada Nabi Muhammad Saw terus berulang dalam sistem sekuler. Atas nama kebebasan berpendapat dan bertingkah laku, seseorang bisa dengan mudah mengklaim sebagai nabi setelah Nabi Muhammad Saw. Padahal dalam ajaran Islam telah jelas bahwa tidak akan pernah ada nabi setelah Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw menegaskan, “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku” Tirmidzi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).

Di Indonesia ada beberapa orang yang telah mengklaim dirinya sebagai nabi di antaranya adalah Lia Aminuddin ( Lia Eden), Dedi Mulyono (Eyang Ended), Ahmad Mussadeq (Abdul Salam), Ashriyanti Samuda, Sutarmin (merdeka.com, 1/02/2013). Sementara itu, tahun 2021 ini, penghinaan nabi berulang kembali. Jozeph Paul Zhang membuat pernyataan bernada setengah guyon dikanal Youtube bahwa adalah nabi ke-26. Ia akan “meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulannya yang maha cabulullah”. Retorika Zhang diiringi dengan tantangan bahwa siapa saja yang bisa melaporkan ke polisi akan dapat imbalan Rp1 juta (tirto.id, 20/04/2021). Tentu saja hal ini membuat umat Islam protes akan kejadian ini karena Muslim tidak akan pernah rela nabi yang mulia dihinakan oleh mulut orang kafir.

Atas perbuatannya, Joseph pun diduga melanggar Tindak Pidana Ujaran Kebencian Pasal 45A Ayat (2) Jo Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (tribunnews, 22/04/2020). Jika dicermati, kejadian ini bisa saja sengaja dilakukan saat bulan Ramadan dimana umat Islam sedang khusuk menjalankan berbagai ibadah. Sehingga jika ada reaksi Muslim, yang dianggap oleh kubu kaum liberal, berlebihan maka besar kemungkinan mereka akan menyematkan umat Islam sebagai kaum sumbu pendek, intoleran dan anti kebebasan. Hal ini memang menjadi dilema bagi umat Islam karena sejak sistem Islam tidak diterapkan, seolah-olah membuka pintu lebar akan arus penghinaan nabi dan stigmatisasi buruk akan Islam.

Namun, sebagai umat yang mencintai nabi yang mulia Muhammad saw, Muslim wajib membela nabinya. Karena pembelaan akan nabi adalah salah satu bukti keimanan pada Allah SWT. “Belum sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia menjadikan aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan segenap manusia.” (HR al-Bukhari)

Tidak hanya di Indonesia, penghinaan pada Nabi Muhammad saw dan ajaran Islam terjadi di negara Perancis. Penghinaan dalam bentuk karikatur nabi Muhammad ini dibuat pada tahun 2020 oleh majalah Charlie Hebdo. Walaupun mendapatkan banyak kecaman dari berbagi negara, nyatanya pemerintah Prancis mendukung ulah majalah tersebut. Berbagai upaya menjatuhkan Islam tidak akan pernah berhasil memadamkan cahaya kebangkitan Islam. Kebebasan berekspresi sangat jelas tidak konsisten. Di satu sisi, kaum liberal akan menggunakan dalih kebebasan ini untuk menghina nabi dan ajaran Islam. Di saat yang sama, ketika umat Islam menyatakan bahwa khilafah ajaran Islam maka akan dianggap intoleran terhadap fakta masyarakat yang beragam.

Oleh karena itu, selama sistemnya menjauhkan agama dari kehidupan maka pola penghinaan pada nabi dan ajaran Islam akan tumbuh subur. Hal ini butuh segera dihentikan. Sebagai ajaran yang berasal dari Allah SWT, Islam telah menegaskan bahwa menista nabi adalah sebuah dosa besar. Bahkan Allah SWT pun melaknat pelakunya. “Sungguh orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan.” (QS al-Ahzab [33]: 57).

Setiap Muslim harus Membela Nabi

Dalam sistem Islam maka penguasa akan mengambil tindakan yang tegas agar kejadian penistaan akan nabi tidak berulang kembali. Ibn Mundzir menyatakan, mayoritas ahli ilmu sepakat tentang sanksi bagi orang yang menghina Nabi Saw adalah hukuman mati. Ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam al-Laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawih, dan Imam as-Syafii (Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifâ bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ, hlm. 428).

Al-Qadhi Iyadh menegaskan, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama kaum muslim tentang halalnya darah orang yang menghina Nabi Saw. Dalam Islam, hukuman mati atas penghina Baginda Nabi Saw. dilakukan Imam/Khalifah atau yang mewakilinya (Lihat: Al-Kasani, Bada’i as-Shana’i’, 9/249). Khalifah tidak akan tinggal diam jika ada yang menghina Rasulullah Muhammad Saw. Pasalnya, Khalifah memang wajib menjaga kemuliaan Allah SWT, Rasulullah Saw. serta ajaran Islam dan simbol-simbolnya (muslimahnews.com, 07/11/2020).

Dalam sejarah Islam telah tercatat bagaimana para penguasa Islam mengatasi adanya nabi-nabi palsu. Pada zaman Khalifah Abu Bakar, ada orang-orang yang mengaku sebagai nabi di antaranya yaitu: Thulaihah ibnu Khuwailid dari Bani Asad, Musailamah al-Kadzdzab dari Bani Hanifah, al-Aswad al-Ansi.

Nabi-nabi palsu tersebut melakukan dakwah seperti Nabi Muhammad akan tetapi isi ajakan mereka tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ajakan yang ditawarkan seperti membolehkan untuk mengurangi sholat lima waktu, berjudi, mabok, berzina, dan menghapuskan puasa bulan ramadhan membuat. Sebagai pemimpin,

Abu bakar mengambil tindakan tegas untuk memberantas kezaliman yang terjadi dikalangan umat Islam. Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk memerangi nabi-nabi palsu. Akhirnya, Musailamah terbunuh ditangan Wahsyi. Selain itu, al-Aswad al-Ansi pun terbunuh. Itulah ketegasan yang dilakukan oleh penguasa Islam atas penista agama. Dengan ketegasan sistem sanksi dalam Islam maka penista nabi tidak akan diberikan ruang tumbuh dan berkembang. Selain itu dengan menerapkan sanksi tegas berdasarkan syariat Islam maka akan mendapatkan rahmat Allah SWT. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *