Stop Bullying, Hasil Produk Kapitalisme

Stop Bullying, Hasil Produk Kapitalisme

Oleh : Nafa Rahmatila

WWW.POJOKOPINI.COM — KPAI mencatat dalam kurun waktu 9 tahun dari 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan. Untuk Bullying baik di pendidikan maupun sosial media mencapai 2.473 laporan. Bahkan Januari sampai Februari 2020, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak. Seperti siswa yang jarinya harus diamputasi, kemudian siswa yang ditemukan meninggal di gorong gorong sekolah, serta siswa yang ditendang lalu meninggal. Pemicu bullying sangat banyak. Seperti tontonan kekerasan, dampak negatif gawai, penghakiman media sosial. (Inilah.com)

Bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok anak yang memiliki kekuasaan, lalu menindas dan membully anak yang lemah dengan tujuan menyakiti anak tersebut. Tindakan ini sangat mengkhawatirkan para orang tua dikarenakan yang menjadi korban adalah anak-anak yang lemah, tak berdaya membela dirinya sendiri. Akibatnya, adapun masalah yang diderita anak-anak yang menjadi korban bullying antara lain yaitu munculnya berbagai masalah mental seperti depresi, kegelisahan dan masalah tidur, dan penurunan semangat belajar dan prestasi akademis. Sehingga korban bullying merasa tidak aman dan selalu merasa gelisah saat berada di lingkungan sekolah.

Mirisnya kejadian bullying sering terjadi di dunia pendidikan seperti disekolah, dimana seharusnya kita ketahui dalam dunia pendidikan tempat tumbuh jiwa-jiwa kependidikan yang menghasilkan akhlak yang mulia dan keluhuran adab dengan ketinggian moral. Sehingga timbul kenyamanan, bukan malah tempat yang menjadi beban pikiran bagi anak, akibatnya anak menjadi depresi tidak mau berinteraksi dengan sosial. Oleh karena itu, pendidikan semestinya menjadi pilar peradaban terbaik. Namun dalam habitat sekuler kapitalistik, sistem pendidikan nyaris berubah fungsi menjadi mesin penghancur generasi. Bukti kegagalan sistem sekuleristik yang diterapkan sudah terlalu lama sehingga semua ini cukup memberi gambaran betapa pendidikan sekularistik yang telah lama di terapkan nyaris gagal membawa nilai-nilai kebaikan. Pendidikan selama ini hanya mampu mengasah skill dan kecerdasan, tapi gagal mengasah keluhuran adab ketinggian moral. Sehingga lahirlah generasi-generasi yang rusak akibat diterapkan nya sistem kapitalisme (Pemisahan agama dari kehidupan). Meningkatnya prestasi akademik para siswa di sekolah tidak bisa menjamin pola pikir dan perilaku yang baik pula di dalam sistem kapitalis yang diterapkan saat ini khususnya di Indonesia.

Bullying Dalam Pandangan Islam?

Pada dasarnya bullying atau penindasan ini merupakan tindakan yang sangat tidak dianjurkan dan sangat tercela.

Dalam Islam sangat melarang keras dan sangat tidak menganjurkan perilaku merendahkan orang lain. Sebagai mana firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Hujurat: 11)

Sesama Muslim juga dianjurkan untuk saling menyerukan kebaikan, sebagaimana firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.(Qs. Ali-Imran [4]: 104)

Selain itu, bullying juga disebabkan kurang terbangunnya rasa persaudaraan di antara sesama. Dan hal tersebut tidak sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wata ‘Ala:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”(Qs. Al-Hujurat [49]: 10).

Solusi satu-satunya untuk menghentikan berbagai kerusakan pendidikan di indonesia dan menyelesaikan semua permasalahan yang ada ialah dengan sistem Islam yang diterapkan secara kaffah, dan mengganti kapitalisme dengan Islam. Hal itu hanya dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah di tengah kehidupan kita.

Oleh sebab itu, bukan hanya sistem pendidikan saja, namun islam mengatur sistem perekonomian suatu negara. Jika sistem ekonomi baik, maka akan berdampak pada sistem pendidikan dan semua keberkahan akan dibukakan oleh Allah dari langit dan bumi, sebagaimana janji-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنا عَلَيْهِمْ بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَالْأَرْضِ وَلكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْناهُمْ بِما كانُوا يَكْسِبُون

Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari angit dan bumi. Namun, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka karena perbuatan mereka itu (TQS al-A’raf [7]: 96).

Dalam Islam khalifah fokus mengurusi urusan ummat dan akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana
Rasulullah saw. bersabda:

…الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Dalam hadis tersebut jelas bahwa para khalifah, sebagai para pemimpin yang diserahi wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT kelak pada Hari Kiamat, apakah mereka telah mengurus mereka dengan baik atau tidak. Islam menghilangkan maraknya bullying dengan kebijakan sistemik Negara (khilafah) yang membangun kepribadian Islam yang utuh melalui sistem pendidikan. Sangatlah penting kepribadian Islam dalam pendidikan dengan dibarengi akidah Islam dan nafsiyah yang akan menjadikan seseorang berkepribadian Islam dengan pola pikir yang Islami sehingga mempengaruhi pola sikap atau perilaku Islami pula. Terkait dengan media, negara akan fokus dalam mengurusi tayangan-tayangan yang bisa menimbulkan kerusakan terhadap generasi yang bisa merusak akal.

Pendidikan pertama kali dilakukan didalam keluarga yang dibimbing oleh seorang ibu yang mana senantiasa terus membimbing anaknya agar menjadi anak yang soleh. Islam mengangkat status ibu, memberikan posisi tinggi penghormatan dalam masyarakat, dan menganggap sebagai nilai besar atas peran perempuan sebagai penjaga rumah tangga, serta sebagai perawat dan pengasuh anak. Sebagai contoh terbaik seperti Imam Syaf’I, Sultan Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan konstantinopel atau melahirkan generasi-generasi emas dalam islam contohnya, karya besar para pemikir dan saintis Muslim seperti Al-Khawarizmi dengan teori matematikanya, Al-Kindi dengan pemikirannya, Ibnu sina dengan ilmu kedokteran dan kesastraannya yang telah menulis Asas Pengobatan (Canons of Medicine) serta Ibnu Al-Haitsami dengan ilmu optiknya. Ini semua hanya lahir dalam sistem Islam (Khilafah) bukan sistem kapitalis. Jadi hanya dengan sistem Islam lah solusi permasalah umat terselesaikan yaitu sistem Islam dalam naungan khilafah. Wallahu ‘Alam. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *