Sudahkah Guru Diapresiasi Semestinya?

Sudahkah Guru Diapresiasi Semestinya?

Karena Islam sangat menghormati guru. Pada masa kejayaan Islam dulu, gaji seorang guru adalah 15 dirham. Jika 1 dirham setara dengan 4,25gr emas dengan harga per gram sekarang 600 ribu rupiah, maka gaji guru mencapai puluhan juta rupiah.


Oleh: Puji Rahayu (Anggota Komunitas Setajam Pena)

POJOKOPINI.COM — Saat mendengar atau membaca tunjangan, apa yang terlintas dalam benak kita? Sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan. Pencarian dana.

Begitupun saat ini, ada tunjangan khusus profesi guru. Kalau dulu profesi guru dipandang sebelah mata, tergambar lagu Oemar Bakri yang pernah dipopulerkan musisi Iwan Fals. Tokoh Oemar Bakri yang penghidupan sederhana, berangkat bersepeda menuju sekolah. Mengajar murid-muridnya berbekal pengabdian untuk mencerdaskan generasi. Penghasilan yang pas-pasan. Itulah gambaran sekilas tentang profesi guru.

Angin segar dan perubahan terasa dalam dunia pendidikan. Profesi guru lebih diperhatikan pemerintah. Ada tunjangan- tunjangan yang diberikan kepada para guru. Sejak tahun 2005 mengacu pada Undang-undang Nomor 14 tentang Guru dan Dosen. Disebutkan bahwa guru dan dosen yang sudah memiliki sertifikat profesi dan diangkat oleh penyelenggara berhak atas tunjangan.

Dijelaskan pula tentang ketentuan di bahas dalam Undang-undang Nomor 74 Tahun 2008, Pasal 15 ayat (1) PP Tunjangan profesi diberikan kepada guru yang memenuhi persyaratan sebagai berikut, pertama memiliki satu atau lebih sertifikat pendidik yang telah diberi satu nomor registrasi guru.

Kedua, memenuhi beban kerja sebagai guru. Ketiga, mengajar sebagai guru mata pelajaran dan/atau guru kelas pada satuan pendidikan yang sesuai dengan
peruntukan sertifikat pendidik yang dimilikinya. Keempat, terdaftar pada departemen sebagai guru tetap. Kelima, berusia paling tinggi 60 tahun. Keenam, tidak terikat sebagai tenaga tetap pada instansi selain satuan pendidikan tempat bertugas.

Berikut gaji pokok PNS untuk golongan I hingga IV untuk menghitung besaran TPG. Hitungan gaji dari yang paling terendah hingga tertinggi disesuaikan berdasarkan masa kerja atau MKG mulai dari kurang dari 1 tahun hingga 27 tahun.

Dalam PP Nomor 41/2009 tentang tunjangan profesi guru dan dosen serta tunjangan kehormatan profesor pada ayat 1 disebutkan, guru dan dosen yang sudah memiliki sertifikat pendidikan dan memenuhi persyaratan dengan ketentuan perundang-undangan diberi tunjangan profesi setiap bulan.

Sekarang kehidupan para Guru dan Dosen kembali diuji. Masa pandemi Virus Corona yang terus mewabah dan belum ada tanda-tanda segera beranjak. Setiap harinya selalu bertambah kasus penularan. Provinsi Jakarta, Jawa Barat dan jawa Timur masih berada di ranting paling atas. Tetapi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghentikan tunjangan profesi guru PNS dan non PNS. Tunjangan profesi yang dihentikan tersebut tercantum dalam Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikbud Nomor 6 Tahun 2020.

Dalam aturan tersebut, di Pasal 6 tercantum, tunjangan profesi ini dikecualikan bagi guru bukan PNS yang bertugas di Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK). SPK sendiri merupakan satuan pendidikan yang diselenggarakan atau dikelola atas dasar kerja sama antara Lembaga Pendidikan Asing (LPA) yang terakreditasi atau diakui di negaranya dengan Lembaga Pendidikan Indonesia (LPI) pada jalur formal atau nonformal yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan (banjarmasinpos.co.id).

Tujuan dari pemangkasan dan pemotongan tunjangan itu nantinya dialihkan dalam penanganan Covid-19. Banyak yang menyayangkan langkah ini.

Maulana Surya dari IKATAN Guru Indonesia (IGI) memprotes langkah yang memotong tunjangan guru hingga Rp3,3 triliun. Tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen yakni tunjangan profesi guru PNS daerah dari yang semula Rp53,8 triliun menjadi Rp50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp698,3 triliun menjadi Rp454,2 triliun (mediaindonesia.com).

Dalam kasus covid-19 ini semua masyarakat merasakan dampaknya. Dengan adanya peraturan UU no 6 tahun 2020 agaknya terasa lebih berat lagi pukulannya. Seharusnya penguasa lebih memperhatikan kesejahteraan para guru karena pada masa pandemi ini lebih ekstra lagi dalam melakukan pembelajaran secara daring. Membuat perencanaan, pelaksanaan hingga tahap penilaian dilakukan online.

Bila kita mau menengok Islam, adanya pandemi seperti ini semua ditanggung oleh negara. Dalam rancangan Pembelanjaan Negara selalu ada dana untuk kesehatan, pendidikan dan keamanan untuk setiap warga negara. Semuanya itu diambilkan dari baitul mal (kas negara). Negara bisa saja melakukan lockdown, mengobati yang sakit dengan obat dan peralatan yang canggih misalnya tidak ada dalam negeri bisa diimpor dari luar negeri. Sehingga kasus tidak meluas dan segera teratasi. Pemenuhan kebutuhan sandang pangan selama lockdown juga ditanggung oleh negara.

Picture source by Google

Begitu juga dalam masalah pendidikan dan kesejahteraan guru. Setiap guru mendapatkan kesejahteraan dengan tidak membeda-bedakan sertifikasi atau tidak karena pendidikan dan pengayaan guru mudah dan gratis. Tiada lagi PNS dan non PNS. Karena Islam sangat menghormati guru. Pada masa kejayaan Islam dulu, gaji seorang guru adalah 15 dirham. Jika 1 dirham setara dengan 4,25gr emas dengan harga per gram sekarang 600 ribu rupiah, maka gaji guru mencapai puluhan juta rupiah. Allahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *