Sudahlah, Ayo Ganti Sistem!

Sudahlah, Ayo Ganti Sistem!

Jangan salah, kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama,” kata Ghebreyesus.


Oleh: Cut Putri Cory

POJOKOPINI.COM — “Kita dalam kenyang ini, udah gak ngeliat lagi dunia. Rasanya dunia itu kecil, ya? Memang rakus sekali orang-orang kapitalis itu, dia gak pernah cukup nafsunya ingin menguasai,” tuturnya setelah kenyang menyantap mie instan buatannya untuk kami berbuka pada suatu Magrib di bulan Sya’ban.

Saya ingat Ustadzah saya pernah menyampaikan bahwa krisis ekonomi sudah sangat dirasakan oleh kelompok “kelas bawah” yang eksistensi lapar kenyangnya bergantung pada pergerakan manusia, seperti pemulung, misalnya. Ini salah satu kelompok rentan yang hari ini sangat terdampak.

Ya Allah, ada pemulung jual sembako. Katanya ga ada tempat buat masak. Jual ke rumah. Ini sudah orang ke-3, Bu, mau ditolak kasihan. Satu sisi kita juga lagi hemat, belum ada uang,” tulis sahabat saya, Teh Winda, melalui pesan WhatsApp.

Memang, mereka yang hidup sehari-hari di jalan hanya punya tempat untuk tidur, ada di antara mereka yang tak punya perkakas untuk memasak. Mereka beli makanan atau dapat dari pemberian orang. Jangan artikan beli sehari tiga kali, selalu. Sungguh, saya sangat terkejut melihat betapa kontras kesenjangan sosial yang terjadi di jantung kapitalisme ini. Maklum saya orang kampung yang tak pernah melihat pemandangan itu di daerah saya. Hijrah ke kota satelit ibukota menjadikan saya paham betapa kejamnya kapitalisme. Apalagi dalam kondisi pandemi, Allahu Rabbi.

Jangan salah, kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama,” kata Ghebreyesus melansir dari South China Morning Post, Rabu (22/4/2020) waktu Jenewa, Swiss.

Saya mencium bau pesimis dalam pernyataan ketua organisasi kesehatan dunia itu. Pernyataan itu juga menggambarkan ketidakberdayaan dan ketidakpastian. Sistem kesehatan dunia yang digawangi WHO menyerah, mungkin sederhananya begitu.

Meski semua pejabat publik level lokal, nasional, bahkan dunia memberi semangat pantang menyerah, tetap mereka tak mampu memberi kepastian kapan Corona akan selesai? Yang adalah prediksi-prediksi menakutkan yang akan menghantui dunia dalam waktu dekat.

Kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana pandemi kesehatan global telah berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan,” papar Ketua IMF Lesetja Kganyago, seperti dikutip Detik.com, Sabtu (28/3/2020).

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) itu menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini mengalami krisis karena pandemi virus Corona (COVID-19). Lagi, bau pekat ketidakberdayaan dan ketidakpastian begitu menusuk hidung.

Dunia hari ini sedang menunjukkan kelemahannya yang terang. Semua orang dapat mengindera kemandulan sistem kapitalisme dalam menyelamatkan peradaban manusia. Sistem ini dan seperangkat struktur dan alatnya yang tersebar di seluruh dunia sedang berada pada titik nadir, mereka panik dan kalut, lalu terdiam dan tertunduk mengakui kekalahan dan kelemahannya. Sistem kapitalisme memang lemah.

Belum lagi persoalan tsunami PHK yang menggulung masyarakat dunia. Berdasarkan studi ILO seperti dikutip Liputan6.com (9/4/2020), sebanyak 1,25 miliar pekerja yang berada di sektor paling terdampak berisiko terkena PHK dan pengurangan upah serta jam kerja. “Banyak dari mereka berada dalam pekerjaan yang berupah rendah dan berketerampilan rendah, sehingga hilangnya pendapatan secara mendadak menghancurkan kehidupan mereka,” ungkap Direktur Jenderal ILO Guy Ryder.

Apa yang dipapar organisasi buruh internasional itu tak berlebihan. Itu benar adanya. Tsunami itu sudah sampai ke berbagai negara.

Ini aja tetangga kena PHK tadinya kerja, gaji besar sekarang kerja di gudang gaji 40rb sehari. Baru seminggu kerja eh dirumahkan dalam waktu yang ga tau sampe kapan. Kakak saya juga sama, suaminya dirumahkan, ga ada pemasukan karena kerja digaji harian. Ga ada pemasukan, sedih banget, Ya Allah..” Tulis sahabatku, Mbak Nurul, dia mengisah begitu berat hidup saat ini terasa.

Melihat semua fakta itu, apa yang ada dalam benak kita? Miris? Sedih? Adakah terpikir bahwa sistem kapitalisme ini memang lemah? Adakah daya kita untuk menalar bahwa kita ini dibuat menderita oleh sistem kapitalisme? Ini kerusakan sistemik!

Perhatikan, semua lembaga internasional mengutarakan ketidakberdayaan dan ketidakpastian, mereka sedang mengaku kalah. Mereka bingung dan kalut bagaimana mengatasi si kecil mungil tak kasat mata Covid-19 dan efek bola salju yang terus menggelinding ke semua lini hidup manusia, di seluruh dunia.

Jika negara maju sekelas Amerika yang mengaku polisi dunia saja dibuat bertekuk lutut, apa yang mau kita harapkan dari penguasa di negara yang levelnya berada di bawah Paman Sam? Justru hal ini merupakan bukti bahwa sistem kapitalisme memang cacat dan gagal.

Di tengah kebingungan, sistem ini, melalui penguasa d berbagai negara justru menelurkan kebijakan absurd yang menambah masalah. Belum lagi absurditas itu diperkuat kekonyolannya dengan tampilan kedunguan yang dipertontonkan tentang kapabilitas kepemimpinan yang sangat memperihatinkan. Kasihan manusia, sudah jatuh, tertimpa tangga, tergulung tsunami, apalagi?

Sebenarnya kita punya sistem alternatif, yang kuat dan punya seperangkat alat yang mampu menjamin stabilitas pangan dan keamanan dalam masa krisis. Sistem ini yang selama ini dikondisikan sebagai momok menakutkan, padahal jika dia tegak maka peradaban manusia akan selamat.

Tak perlu takut berlainan agama, karena dalam sistem kuat ini, memaksa orang lain memeluk agama tertentu adalah perbuatan kriminal. Laa ikraha fiddiin, tak ada paksaan dalam memasuki agama Allah. Inilah sistem Islam. Anda jangan takut, tetap jaga rasionalitas, apalagi di saat pandemi seperti sekarang. Rasionalitas kita hanya mengarahkan kita kepada satu sistem kokoh yang menjawab semua ketidakpastian dan ketidakberdayaan manusia hari ini. Itulah sistem Islam dalam Khilafah.

Terbukti, sebelum runtuhnya pada 1924, sistem ini mampu memanusiakan manusia. Melindungi dan menjaga kehormatan dan harta manusia, baik Muslim atau bukan. Pun, sistem ini pernah berkali-kali menyelesaikan persoalan wabah, bahkan pernah dalam hitungan hari. Lihat, kita hanya perlu membaca sejarah.

Lebih dari itu, tegaknya Khilafah adalah bisyarah, kabar gembira yang tersebut di dalam hadits Nabi. Ini akan tegak dan menjadi adidaya. Suka atau tidak, itulah kenyataan masa depan dunia.

Sudahlah, ayo ganti sistem! Hari ini kelak akan menjadi cerita heroik tentang nafas yang terengah-engah dalam perjuangan, upaya tanpa kenal batas. Sampai “lelah” bosan menempel padamu, dia (lelah itu) diluruh semangat yang tak pernah mati. Kau tahu, dunia tak cukup untuk memenuhi kerakusan manusia hari ini. Tapi dunia pun sudah tua, dia penat dengan kedengkian dan iklim rakus merusak yang diproduksi sistem kapitalisme. Sudahlah, ayo ganti sistem![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *