Sumayyah Binti Khayyat, Syahidah Pertama Dalam Islam

Sumayyah Binti Khayyat, Syahidah Pertama Dalam Islam

Sumayah juga pernah dibuang ditempat yang jauh dan dadanya ditimpakan sebongkah batu besar, tetapi dia tidak merintih dan meratap menerima penyiksaan yang keluar dari mulutnya hanyalah, “Ahad….ahad…”, (Allah Maha Esa) kalimad tauhid yang diucapkannya berulang-ulang.


Oleh : Nn. Sarah Ainun, S.Kep., M.Si.

WWW.POJOKOPINI.COM — Sumayyah binti Khayyath, wanita muslim yang namanya menorehkan tinta emas sejarah sebagai sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam yang meraih kehormatan menjadi wanita pertama masuk Islam dan mendapat kabar gembira yaitu masuk surga, sebagai wanita pertama yang berdiri tegak meraih syahidah (mati syahid), sebagai wanita yang tetap kokoh, sabar, tidak pernah melemah dan surut keimananya dari kedzaliman tangan-tangan Musyrik Quraisy dan sebagai wanita yang perisai keimananya tetap tegar di atas Islam dan tidak pernah runtuh walaupun diambil oleh penguasa sekalipun.

Kisah Sumayyah binti Khayyath, diawali datangnya Yasir bin Amir bersama dua orang saudaranya Al-Harith dan Malik yang berasal dari Yaman. Tujuannya mencari saudaranya yang sudah beberapa lama hilang. Namun setelah mereka mencari keberbagai tempat dan kepelosok-pelosok Mekkah mereka tidak menemukannya. Al Harith dan Malik memutuskan untuk kembali ke Yaman. Namun, Yasir bin Amir memutuskan untuk tetap tinggal di Mekkah.

Sudah menjadi tradisi masyarakat Arab, orang asing yang datang dan menetap di suatu negeri harus mengikat perjanjian dengan tokoh terkemuka Quraisy di kota itu untuk mendapatkan perlindungan dari segala bentuk gangguan masyarakat dan dapat hidup dengan aman dan tenang. Maka, Yasir saat itu berada dibawah perlindungan Abu Hudzaifah bin Maghirah tokoh terkemuka dari Bani Makhzume. Tidak berapa lama kemudian Abu Hudzaifah menikahkan Yasir bin Amir dengan seorang budak sahayanya Sumayyah binti Hayyath. Dari pernikahan Yasir dan Sumayyah dikaruniai seorang putra bernama Ammar bin Yasir. Setelah kelahiran Ammar, Abu Hudzaifah memerdekan Sumayyah dan keluarga kecilnya pun hidup tenang dan damai.

Saat fajar Islam mulai mendatangi Mekkah, terangnya dan kehangatan cahayanya membersihkan jiwa-jiwa yang menerima kebenaran walaupun raga-raga mereka menerima siksaan yang sangat parah dan kejam dari kaum musyrik Quraisy. Siksaan-siksaan itu dikalahkan oleh kelezatan iman yang mereka rasakan karena janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rasulnya yaitu wafat dalam mempertahankan iman di atas Islam adalah syahid sebaik-baik tempat untuk kembali. Dan sebaik-baik tempat adalah Surga Allah Azza wa zalla.

Keluarga Yasir menerima cahaya keislaman itu dari putranya Ammar yang saat itu sudah beranjak dewasa mendengar dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tentang Islam ia pun penasaran dan tertarik untuk mempelajarinya, dengan penuh keyakinan Ammar memeluk Islam. Ia pun pulang menemui kedua orang tuanya, ia menceritakan kepada ibunya Sumayyah dan ayahnya Yasir tentang Islam dan keislamannya serta mengajak keduanya untuk masuk Islam. Keduanya pun tertarik dengan Islam dan merekapun memeluk Islam di awal perkembangan Islam pada tahun ke 7 Hijriah.

Saat itu, menerima Islam dan meninggalkan agama bapak-bapak (agama nenek moyang) mereka bukanlah perkara yang mudah, mereka harus siap kehilangan nyawa, harta, ibu dan bapak, suami, istri, anak, saudara, kedudukan serta dikucilkan dari masyarakat dan mendapatkan siksaan yang mengerikan. Abu Jahal yang sangat membenci dan memerangi Islam berperan besar dalam mempersatukan musyrik Quraisy untuk menyiksa kaum muslimin yang lemah.

Penyiksaan yang dilakukan oleh musyrik Quraisypun berbeda-beda, jika yang masuk Islam status sosialnya bangsawan, cukup terpandang dan kuat maka mereka akan mengecam dan menghinanya. Meskipun Abu Bakar Ash Shiddiq seorang bangsawan, namun beliau pernah dipukuli sampai pingsan. Jika yang masuk Islam status sosialnya seorang pedagang maka musyrik Quraisy akan mempersempit peluang dagang dan menghancurkan kejayaannya, dan jika yang masuk Islam status sosialnya hamba sahaya, orang-orang miskin dan lemah maka mereka akan memukuli dan menyiksanya.

Saat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam diutus sebagai Rasul yang membawa cahaya Islam di Mekkah. Ada yang meriwayatkan bahwa Sumayyah adalah orang ke tujuh yang memeluk Islam (Ibnu Mandah; al-Mustakhraj, 2/516). Sebahagian ulama mengatakan bahwa,” Orang pertama yang menampakan keislamannya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, kemudian Abu Bakar Ash Shiddiq, Bilal bin Rabah, Shuhaib, Khabbab bin Al-Arat, Ammar bin Yasir, Sumayyah binti Khayyath ibunya Ammar.” (Ibnu Abdil Bar; al-Isti’ab fi Ma’rifati al-ash-hab, 4/1864).

Setelah musyrik Quraisy mendengar berita keislaman keluarga Yasir, mereka marah besar khususnya Bani Makhzume. Mereka pun mendatangi keluarga Yasir untuk mengetahui kebenaran berita tersebut. Sumayyah pun tidak menampik keislamannya dan menjadi wanita pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka. Kemudian Sumayyah, suaminya Yasir dan anaknya Ammar mendapatkan penyiksaan dari seluruh Bani Makhzum dan Abu Jahal sebagai pemuka kaum musyrik Quraisy.

Dari berbagai riwayat Sumayyah dan keluarganya mendapatkan bermacam-macam penyiksaan yang dilakukan agar mereka keluar dari agamanya dan kembali keagama semula. Sumayyah dan keluarganya diseret ke jalan dan dilemparkan padang pasir yang sangat panas dan tubuhnya ditaburi pasir panas, mereka dipaksa memakai baju besi dan dijemur dibawah terik matahari Mekkah tidak diberi minum dan tidak diberi makan.

Sumayah juga pernah dibuang ditempat yang jauh dan dadanya ditimpakan sebongkah batu besar, tetapi dia tidak merintih dan meratap menerima penyiksaan yang keluar dari mulutnya hanyalah, “Ahad….ahad…“, (Allah Maha Esa) kalimad tauhid yang diucapkannya berulang-ulang. Nikmat iman yang telah dirasakan membuat Sumayyah menerima penyiksaan dengan tabah dan tetap bertahan di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Saat beliau mengalami penyiksaan, Rasulullah menemui Sumayyah, suaminya Yasir dan anaknya Ammar mereka sedang disiksa dijemur diteriknya matahari Mekkah (Ibnu Ishaq: as Syar wa al-Maqhazi, hal:192). Beliau bersabda, “Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan bagi kalian adalah surga“. (HR: al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 5646)

Sumayyah yang mendengar ucapan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pun semakin yakin dengan keimannya. Ia pun tidak mempedulikan siksaan-siksaan yang dijatuhkan kepadanya, tauhidnya pun begitu teguh sekeras baja. Abu Jahal yang sudah merasa putus asa, menumpahkan kemurkaanya dengan menusukan sangkur (tombak) yang ada di genggamanya ke perut Sumayyah. Sebahagian riwayat mengatakan Abu Jahal menusukan tombak dari bahagian kemaluan sampai tembus kebahagian leher Sumayyah. Wanita mulia ini pun Sumayyah binti Hayyath gugur dalam memperjuangkan Aqidahnya sebagai syahidah pertama dalam Islam.

Jabir Radhiallahu’anhu berkata, “Mereka membunuhnya, tapi ia tolak semuanya kecuali Islam“. (Ibnu Katsir: al-Bidayah wa an- Nihayah, 3/59). Ia tetap teguh walaupun disiksa.

Saat Abu Jahal tewas di perang Badar, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada Ammar bin Yasir Radhiallahu’anhu, “Telah tewas pembunuh ibumu“, (Ibnu Saad: Thabaqat al-Kubra, 8/207).

Keteguhan Sumayyah binti Hayyath dalam memperjuangkan Aqidah Islamnya yang tidak pernah redup dalam kondisi apapun. Hatinya yang dipenuhi tauhid lebih memilih mendermakan jiwanya di atas agama Islam dan menukarkan nyawanya dengan surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imannya yang begitu kokoh menuntunnya melaksanakan perintah Tuhannya yang berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam“. (Ali Imran /3:102)

Sumayyah binti Hayyath adalah panutan dan tauladan kaum hawa sepanjang masa yang namanya tidak akan pernah hilang dan akan selalu dikenang sampai akhir zaman dalam keteguhan iman meski nyawa tertaruhkan. Waullahu a’lam bish shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *