Surat Cinta Sang Bupati Untuk Para Generasi

Surat Cinta Sang Bupati Untuk Para Generasi

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S. Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — Mendekati hari valentine persiapan yang dilakukan para pemuda juga sungguh luar biasa. Dari mulai membuat colat buatan tangan, mencari buket bunga mawar dan kartu ucapan selamat, ini juga menambah penghasilan para pemilik modal yang sengaja mengambil moment seperti ini. Untuk membuktikan cintanya pada sang kekasih hati, para remaja ini bahkan rela melakukan apa saja jika hanya untuk satu hari itu saja. Tak ayal lagi betapa condongnya kita melihat peradaban barat yang semakin terus menggerus generasi muda. Dan tanpa fikir panjang para generasi muda pun menerima hal ini menjadi sebuah kebudayaan yang terus menjadi trend. Konon lagi, disponsori oleh para selebriti yang menjadi panutan mereka. Melihat hal ini maka bupati Aceh Besar mengambil langkah besar untuk menyelamatkan generasi kita yakni, sebuah surat edaran di berikan kepada masyarakat setempat. Yaitu “Larangan Merayakan Hari Valentine”.

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, mengeluarkan surat larangan ikut merayakan hari valentine yang jatuh pada 14 Februari mendatang. Satpol PP dan WH pun akan dikerahkan untuk menertibkan bila ada warganya yang coba-coba merayakan budaya “barat” tersebut. (WaspadaAceh.com)

Hari valentine dinilai bukan budaya Islam yang harus diperingati oleh masyarakat Aceh, khususnya kalangan generasi muda. Larangan Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali, itu tertuang dalam surat bernomor 451/459/2020, yang menerangkan bahwa Pemerintah Aceh Besar melarang keras perayaan hari valentine karena bertentangan dengan Syariat Islam.

Surat tersebut sudah diedarkan kepada seluruh kepala desa, camat dan sekolah, untuk disosialisasikan agar masyarakat dan pelajar tidak merayakan hari yang disebut sebagai hari kasih sayang itu. Menurut Mawardi, peringatan Valentine Day bertentangan dengan Qanun (Perda) Aceh nomor 11 Tahun 2002, tentang pelaksanaan syariat Islam di bidang aqidah, ibadah dan syiar Islam.

Valentine Day adalah budaya yang bertentangan dengan Syariat Islam. Maka haram hukumnya untuk dirayakan, begitu isi surat Bupati Mawardi Ali. Bupati mengimbau masyarakat melaporkan ke Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh Besar, apabila menemukan masih ada warga yang menggelar perayaan Valentin Day.

Beberapa Negara yang Melarang Perayaan Valentine
Seperti diketahui bahwa ini bukanlah hal yang baru, sebelumnya di tahun lalu pemerintah Johor Malaysia juga membuat fatwa “Larangan mengikuti Perayaan Valentine”. Jawatan Kuasa Fatwa Negeri Johor, Malaysia, mengeluarkan fatwa tentang perayaan Hari Valentine pada 2005. Secara tegas, Jawatan Kuasa Fatwa Negeri Johor melarang umat Islam ikut merayakan valentine. Jawatan Kuasa Fatwa Negeri Johor mendasarkan fatwanya pada beberapa alasan. Pertama Islam sangat menitikberatkan soal kasih sayang setiap hari. Kemudian Islam menolak konsep kasih sayang yang terkandung dalam perayan Hari Valentine karena unsur-unsur ritual keagamaan yang diamalkannya berseberangan dengan akidah Islam. Sebagian remaja Islam yang ikut meramaikan valentine kadang terjerumus dengan perbuatan maksiat, seperti berduaan dengan lawan jenis atau terjadinya zina.

Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiah Kerajaan Arab Saudi juga berpendapat sama. Menurut lembaga fatwa resmi Kerajaan Arab Saudi ini, dalam Islam hanya dikenal dua hari raya, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan selain dua hari raya ini, baik berhubungan dengan seseorang, golongan, peristiwa, maupun momen-momen tertentu lainnya adalah perayaan tidak berdasar dalam Islam. Lembaga Fatwa yang saat itu dipimpin Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Alu itu menyerukan agar pemeluk agama Islam tidak boleh mengadakan, ikut mendukung, turut bergembira, atau memberikan bantuan perayaan hari valentine.

Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS al-Maidah [5] :2).

Lembaga Fatwa Arab Saudi berpendapat, valentine termasuk perayaan umat agama lain. Karena itu, umat Islam harus hati-hati agar tidak latah mengikuti perayaan yang bukan dari agamanya. Rasulullah bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Cinta Dalam Islam

Sesungguhnya Islam tidak melarang seseorang untuk mencintai karna itu adalah hal yang fitrah dari manusia. Gharizah (naluri) untuk mencintai dan dicintai pun tertera jelas didalam beberapa hadist seperti :

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,
“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”
Anas pun mengatakan,
“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Cinta yang seharusnya itu seperti ini, bukan cinta yang kemudian mengajak pada kesesatan dan akhirnya menjauh dari Islam. Benar jika cinta itu harus di ungkapkan, namun Allah telah menghalalkan cinta itu pada sesuatu yang kemudian diridhoi-Nya. Inilah yang tidak dipahami oleh para generasi kita, yang hanya berfikir sesuatu yang menyenangkan walau hanya sesaat. Jika mencintai Allah, Rasulnya adalah yang utama, kemudian diikuti mencintai orangtua, keluarga dan sahabat kita.

Mengapa kemudian surat edaran ini dikeluarkan oleh Bupati, karna beliau juga merasa khawatir terhadap generasi saat ini, bukan hanya pendangkalan akidah Islam namun lebih dari pada itu kerusakannya. Valentine seperti pelegalan perzinahan, banyak yang kemudian kita tahu bahwa di malam valentine kondom laris manis lebih dari coklat. Yang artinya apa? Haruskah kita mendengar yang lebih buruk lagi bahwa keperawanan gadis timur hanya tinggal berapa persen miris bukan?

Disamping itu perayaan ini juga semakin mengikis akidah Islam, sayangnya perayaan ini di ikuti oleh kita yang muslim. Yang dimana sebenarnya kita sudah punya perayaan sendiri tapi mengikuti perayaan agama lain. Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus.

Kita berharap langkah Bupati ini juga diikuti oleh wilayah lainnya dan didukung oleh para ulama, meski saat ini belum ada fatwa apapun dari para ulama tentang hal ini. Wallahu ‘Alam[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *