Surat Cinta Walikota Untuk Para Muslimah Aceh

Surat Cinta Walikota Untuk Para Muslimah Aceh

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S.Kom(Aktivis Pemuda dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Walikota Lhokseumawe, Suadi Yahya beberapa hari lalu telah mengeluarkan surat imbauan. Terkait penertiban konsumen pengunjung pada tempat usaha kuliner, café dan perhotelan. Dimana salah satu isi imbauan bernomor 451.48/26 dan tertanggal 6 januari 2020 tersebut, membatasi kerja pramusaji pada malam hari. Yakni sampai pukul 21.00 WIB. (Serambinews.com)

Berikut salinan lengkap surat imbauan Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya :
Berdasarkan Qanun Aceh Nomor 8 tahun 2014 tentang pokok-pokok Syariat Islam, pasal 33 ayat (3) berbunyi, “Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten/Kota dan instansi swasta serta masyarakat wajib membudayakan tata pergaulan hidup dan tata busana menurut tuntunan syariat Islam”

Selanjutnya ayat (5) menyebutkan, “Setiap orang atau badan hukum yang berada di Aceh berkewajiban menjaga dan mentaati nilai-nilai kesopanan, kelayakan dan kepatuhan dalam pergaulan hidupnya”

Surat imbauan ini merupakan apresiasi yang sangat besar dari pemerintah Aceh terutama bagi Pemkot Lhokseumawe untuk menjaga warganya agar patuh terhadap Qanun Aceh. Dan juga bentuk kecintaan ini diwujudkan dengan cara mengatur jam kerja bagi para wanita Aceh, dimana kita tahu bahwa merebaknya jalanan yang di dipenuhi para muslimah di café, dimana wanita bebas membuka aurat, berkhalwat bahkan ikhtilat tanpa merasa canggung sedikit pun.

Sebelumnya juga Pemkab pernah membuat hal serupa dimana para wanita tidak dibolehkan keluar malam tanpa mahrom, karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terutama untuk menjaga marwah wanita Aceh khususnya. Juga tidak bolehnya laki-laki dan wanita bukan mahrom duduk satu meja bersama. Atau yang pernah viral adalah tidak dibolehkannya wanita duduk ngangkang.

Sedemikian komplit hal-hal yang sangat diperhatikan oleh pemkot/pemkab semata menjaga maruah Aceh agar tetap terjaga dan dijunjung tinggi syariat Islamnya. Dan karena perempuan adalah makhluk yang sangat dimuliakan dalam Islam. Ini terbukti dalam sebuah surat yang di peruntukan untuk wanita di dalam al-qur’an surat An-nisaa. Karena itulah pemkot/pemkab berusaha sangat keras melindunginya, meski mendapat tentangan dari berbagai pihak.

Memang mungkin yang disorot oleh pemkab adalah café atau pun tempat hiburan dan rekreasi dimana tempat-tempat ini sering terjadinya maksiat. Oleh sebab itu pemkot sendiri mengimbau para pemilik tempat hiburan, café dan rekreasi untuk mematuhi qanun seperti harus memasang lampu yang terang, menyediakan tempat solat, dan menutup tempat saat sedang berlangsung solat magrib dan jumat.

Namun ini tak lebih dari rasa khawatir pemkot terhadap pergaulan ditengah masyarakat yang serba bebas, dan rasa cinta mereka terhadap Islam sehingga membuat Qanun ini untuk melindungi masyarakatnya. Meski mungkin tidak semua menjalankannya karena terbiasa dengan hal-hal yang salah tanpa aturan yang benar.

Namun rasanya imbauan ini sedikit kurang efektif, dimana kita melihat bahwa para pekerja ini adalah tulang punggung keluarganya. Dan dengan dibatasi jam kerja ini akan menyulitkan mereka meski sebenarnya niat dari Pemkot/Pemkab ini baik. Seharusnya hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi, andaikata pemerintah juga memperhatikan bahwa tugas mencari nafkah ada pada para lelakinya, namun kini bergeser mengikuti arus kapitalisme.

Arus inilah yang kemudian menghancurkan keluarga muslim, wanita muslim dan marwah yang hendak dijaga tadi. Mereka membiarkan wanita-wanita muslim keluar rumahnya hingga larut malam demi mencari nafkah menggantikan peran ayah, belum lagi keluarga yang harus dijaga dan diperhatikan kini terabaikan. Hingga kita melihat bahwa hancurnya generasi karena sistem juga berhasil menghancurkan peran ibu dan wanita dalam rumahnya.

Ibu punya peranan penting dalam Islam yaitu menjadi ummu warabatul bait (ibu dan manager rumah tangga). Tak hanya itu, ibu adalah guru pertama yang mengajarkan anak tentang dunia, alam semesta dan kehidupan begitu pula tentang keberadaan sang khaliq. Jika saat ini ibu dipandang sebagai posisi yang tidak bergengsi, maka itu salah besar. Seolah menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan terakhir karna tak mampu menjadi wanita karir. Sebenarnya, itula letak kemuliaanya yang tiada akhir mengucurkan pahala ketika berhasil mendidik anak-anaknya menjadi soleh dan soleha juga mampu menjaga kehormatan suami dan hartanya.

Daya rusak kapitalisme terhadap Islam sungguh sangat luar biasa, membuktikan bahwa keberhasilan mereka menggiring wanita-wanita muslimah keluar dari rumahnya, menanggalkan kehormatanya dan merendahkan martabatnya. Islam mengangkat derajatnya menjadi begitu mulia, namun kapitalis menghancurkannya sampai berpuing. Kapitalis menyerukan kesetaraan jender dimana tiada beda laki-laki dan wanita bahkan dalam hal bekerja yang awalnya menjadi mubah kini menjadi seperti kewajiban. Jika bekerja menjadi kewajiban bagi wanita lalu apa yang harus dilakukan para lelaki ini?

Seharusnya pemkot juga memberikan memotivasi kepada para lelaki agar bekerja seperti yang dicontohkan Rasulullah dan Umar, meski beliau adalah seorang pemimpin negara namun tetap saja mencari nafkah untuk keluarganya. Karna bekerja juga merupakan bagian dari ibadah.
Rasulullah saw bersabda
“Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya (bekerja) sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah.” (HR. Ibnu Majah)

Langkah yang benar harus ditempuh pemerintah Aceh adalah menerapkan Islam secara kaffah, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah : 208)

Dan membuka lapangan pekerjaan untuk para lelakinya, agar kemudian keseimbangan hidup bisa terjadi. Memang saat ini tanpa peran negara, khususnya negara Islam maka hal ini akan terasa sangat sulit untuk dijalankan. Dan belum lagi kekhawatiran mereka terhadap wanita muslim, sungguh tidak ada satu pun pelindung terbaik selain dari pada Al-junnah Al-khilafah. Yang mampu menjaga seorang muslimah seperti khalifah Mu’tashim Billah. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *