Tak Ada Relevansi Lembaga Zakat dan Aksi Terorisme, Ini penjelasan Cendikiawan Muslim

Ia juga meminta umat Islam harus kritis melakukan Muhasabah lilhukkam. Bahwa aksi Terorisme yang selama ini diarahkan pada kaum muslimin jelas mengandung fitnah. Dalam Islam menuduh tanpa bukti maka tidak bisa dibenarkan.


Oleh: Zinnirah Abdillah

POJOKOPINI.COM — Menanggapi permintaan Kemenag untuk mengawasi lembaga-lembaga Zakat, cendekiawan Muslim, Irfan Abu Naveed menilai hal ini harus dievaluasi karena tidak ada relevansi antara terorisme dengan lembaga zakat yang dikelola kaum muslimin. Bahkan aksi terorisme di dalam Islam diharamkan.

“Ini ‘kan jelas dalam hal ini, kalau berkaitan dengan aksi bom bunuh diri misalnya, jelas Islam telah mengharamkan. Karena dalam hal ini dalam konteks misalnya apa yang diasumsikan oleh banyak media, bahwa yang terjadi berkaitan aksi bunuh diri bahkan di dalam Islam Allah melarang dalam QS. An Nisa: 89. Tidak ada relevansinya dengan Islam itu sendiri,” tegasnya di kanal YouTube channel Khilafah, Selasa (30/03/2021).

Ia menjelaskan bahwa ada perbedaan antara makna teror dan jihad dalam Islam. Dan tidak boleh dikait-kaitkan dengan pemboman di depan Gereja Katedral baru-baru ini. Ia menegaskan berulang-ulang bahwa Islam tidak pernah mengakomodasi aksi yang merugikan Islam dan kaum muslimin. Karena dalam Islam terdapat kaedah “tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain”.

Irfan Abu Naveed kembali membantah stigmatisasi yang dialamatkan kepada Islam dengan hujjahnya yang jelas. “Ini kalau kita lacak isu berkaitan dengan WTO, ‘kan sudah muncul belakangan semenjak terjadi pemboman WTC pada tahun 2021 yang lalu. Isu yang dimunculkan kemudian adalah memerangi Islam fundamentalis. Definisi Islam fundamentalis kemudian dikait-kaitkan dengan upaya penegakan khilafah dan sebagainya,” jelasnya.

Menurutnya, ini tuduhan yang tak berdasar. Dan tidak dipahami dengan pemahaman yang benar dalam Islam, melalui fiqih jihadi yang dibahas rinci oleh para ulama. Dalam Islam defenisi jihad berbeda dengan definisi terorisme yang dipraktikkan di zaman ini.

Ia juga meminta umat Islam harus kritis melakukan Muhasabah lilhukkam. Bahwa aksi Terorisme yang selama ini diarahkan pada kaum muslimin jelas mengandung fitnah. Dalam Islam menuduh tanpa bukti maka tidak bisa dibenarkan.

Kemudian ia menganggap bahwa sebenarnya ada banyak hal yang perlu dievaluasi terkait tata kelola kenegaraan dan sebagainya. Menurutnya, permasalahan ekonomi lebih penting untuk diurus ketimbang mengawasi lembaga zakat karena tuduhan berafiliasi dengan jaringan terorisme yang juga tak ada bukti konkrit di dalam Islam dan negara itu sendiri.

“Saya kira umat Islam lebih susah urusan ekonomi. Dan dalam hal ini urusan ekonomi,” ini karena dalam pengamatannya masih ada kesenjangan antara kaya dan miskin yang sangat signifikan di negara ini. Padahal negara ini banyak potensi. Tapi seperti unta mati di padang pasir padahal air ada di tenggorokannya.

Terakhir ia menegaskan bahwa pengelolaan zakat dalam Islam, baik pemasukan dan pengeluarannya harus dikembalikan kepada negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Tidak bisa menerapkan Islam setengah-setengah.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *