Tak Layak Jadi Rujukan, Amerika Serikat itu ‘Sakit’

Jadi, jangan takjub dengan peradaban Barat. Tak usah terpesona dengan tipuan yang tak segaris dengan realitas. Kita sebagai Muslim memiliki role model peradaban gemilang yang anti kerusakan mental dalam Khilafah.


Oleh: Cut Putri Cory

POJOKOPINI.COM — Siapapun hari ini yang mengagung-agungkan Amerika pantasnya mulai berbalik arah, karena apa yang ditampakkan dari kualitas mental generasinya adalah kehancuran dan kerusakan. Banyak fakta menunjukkan hal itu, di antaranya adalah sekira dalam sebulan sudah empat kali terjadi penembakan massal arogan, terakhir seorang remaja kulit putih mengeluarkan tembakan di sebuah supermarket di lingkungan komunitas kulit hitam di Buffalo, New York, Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (14/5/2022).

Aksi yang menewaskan 10 orang ini, sebagaimana dikutip Reuters, disebut oleh pihak berwenang sebagai tindakan bermotif kebencian rasial. Remaja tersebut berkendara sekitar 320 kilometer dari rumahnya di luar kota Binghamton menuju Tops Friendly Market.

Banyak lagi kasus serupa yang menampakkan betapa rusaknya masyarakat AS. Mereka adalah masyarakat yang sakit, hal itu karena pemikiran, perasaan, dan sistem yang diterapkan untuk mengatur mereka adalah sistem rusak merusak. Akidah dari sistem sekuler kapitalistik diadopsi oleh AS sebagai ideologi yang mereka yakini dan jalankan. Padahal ini merupakan ideologi destruktif, dia menghancurkan segala lini kehidupan manusia.

Apa yang ditampakkan AS melalui media-media tentang kegemilangan peradabannya adalah tipuan yang merupakan fatamorgana. Kerusakan masyarakatnya tak terbendung. Generasinya rapuh. Sedikitnya terdapat turunan pemicu kehancuran masyarakat dari diterapkannya sistem kapitalisme sekuler di Amerika, di antaranya adalah:

  • Hidup Menghamba pada Hawa Nafsu

Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga liberalisme atau bebas berbuat apapun adalah konsekuensinya. Manusia jika tak diatur dengan aturan Penciptanya, maka tak bisa menolak untuk diperbudak oleh hawa nafsu.

Alhasil setiap orang memiliki standar berbeda yang segaris dengan kepentingan dan kecenderungannya masing-masing, hal inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya kapitalisme yang berorientasi pada manfaat semata. Itulah yang membuat masyarakat AS mudah membunuh tanpa alasan, bahkan pun hanya karena masalah sepele.

Kondisi ‘perang hawa nafsu’ ini menjadikan nyawa seolah tak berharga, persis seperti kehidupan di tengah rimba raya. Siapa yang kuat dan sangar, maka dia yang membunuh dan menang. Tak ada penjagaan terhadap harkat martabat dan nyawa manusia sebagaimana penjagaan yang seharusnya.

Hal ini juga tersebab sistem hukum yang diterapkan adalah aturan yang mengikuti hawa nafsu, yaitu aturan sistem kapitalisme sekuler yang lemah dan sama sekali tak memberikan efek jera bagi pelaku. Terbukti dari berulangnya kasus serupa namun sama sekali tak ada efek jera meski pelaku yang sebelumnya sudah dihukum.

Sistem kapitalisme dengan keadilan dan keamanan yang utopi ini diekspor oleh Amerika ke berbagai penjuru dunia, termasuk negeri-negeri Muslim. Maka merupakan kebodohan jika hari ini kita masih takjub dan berlama-lama menggunakan kapitalisme sekuler sebagai sistem hidup.

  • Bebas Memiliki Senjata

Longgarnya Undang-undang keamanan bersenjata menjadi momok masalah lain di Amerika. Jika kepemilikan senjata bisa semudah itu, maka manusia-manusia yang terbentuk untuk menjadi budak hawa nafsu karena penerapan kapitalisme sekuler itu menjadi orang yang segera memuntahkan kemarahannya kepada siapapun.

Bahkan di beberapa kasus, pelaku penembakan merekam dan menyiarkan secara live penembakan yang dilakukannya. Dia tak sama sekali merasa bahwa apa yang dilakukannya merupakan kezaliman, dengan bangga hal itu ditayangkan secara langsung di platform streaming.

Di sisi lain ada industri senjata yang diuntungkan dari kebijakan bebas berkepimilikan senjata ini. Mereka tak bisa dibendung oleh kekuatan negara kapitalisme karena ideologi ini menjadikan penguasa bertempat duduk lebih rendah ketimbang para pengusaha. Itulah kenapa AS sungguh tak layak menjadi rujukan dalam membangun masyarakat dan peradaban, Paman Sam justru merupakan contoh tentang negara dan peradaban yang gagal dan rusak.

  • Rasisme

Kasta antara kulit hitam dan kulit putih di AS terus menjadi problem akut yang tak pernah difasilitasi penyelesaiannya oleh kapitalisme sekuler. Sistem ini justru menumbuhsuburkan rasialisme dengan juga menderaskan isu islamofobia.

Sudahlah masyarakatnya menganggap bahwa orang-orang berkulit hitam merupakan kelas rendah, ditambah rasisme yang lahir dari kedengkian mereka terhadap Islam menjadikan masyarakatnya menganggap bahwa kematian ‘masyarakat kelas dua’ ini mudah dilakukan.

Tak hanya itu, sebagian kasus penembakan juga dipicu sentiment anti-Taiwan, mereka tak suka orang-orang Asia, termasuk Cina. Inilah sederetan kedengkian yang sejatinya telah dihapus oleh Islam, namun diproduksi secara massif oleh kapitalisme sekuler, sehingga menghancurkan negara pengembannya. Termasuk Amerika, meskipun negara ini merupakan pemilik dan Rajanya.

  • Diperbudak Dunia Digital

Salah satu alasan penembakan massal yang secara arogan dilakukan di Amerika Serikat adalah karena generasinya terpengaruh oleh game dan dunia digital (salah satunya media sosial) yang mempertontonkan kekerasan. Jadi, kekerasan yang disaksikan berpengaruh kuat dan harus mereka praktikkan sebagai satu-satunya jalan untuk menjadikan tontonan sebagai kenyataan.

Sebegitu rusaknya mentalitas generasinya, diperbudak dunia digital yang menjadikan seolah teknologi itu adalah kutukan. Memang beginilah jika ideologi kapitalisme yang batil men-drive teknologi, tak ada keberkahan di dalamnya. Yang ada justru keterpurukan dan teknologi tak lebih dari medium untuk bermaksiat dan alat kezaliman.

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Ideologi kapitalisme yang diemban negara Paman Sam sama sekali tak memberi solusi atas problem yang diderita warganya. Hal ini sangat berbeda dengan negara berideologi Islam yaitu Khilafah yang memang mampu untuk membentuk masyarakat berkualitas, menciptakan keamanan dan kesejahteraan secara bersamaan bagi Muslim maupun bukan.

Orientasi Khilafah dalam membangun masyarakat dengan syariat Islam, sehingga pemikiran, perasaan dan peraturan akan dipengaruhi oleh Islam. Islam memandang bahwa mengambil nyawa seseorang tanpa hak adalah kriminal, ini maksiat. Islam memiliki mekanisme hukum yang tegas dan jelas terhadap pembunuhan tanpa hak, ada hukum dan mekanisme pembuktian dan qisas.

Syariat Islam dalam maqashidus syariat menetapkan salah satunya adalah menjaga nyawa (hifzhun nafs). Islam memiliki seperangan aturan untuk mewujudkan hal itu karena Islam adalah sistem. Ini pernah diterapkan ribuan tahun dalam Khilafah Islam, merupakan pembuktian yang nyata.

Dalam hal teknologi, Islam melalui penerapan syariat Islam akan mengondisikan seluruh generasi Muslim terjaga dari hal-hal negatif dampak dari teknologi. Ruh dari pada berkembang pesatnya teknologi di dalam Khilafah adalah untuk kepentingan dakwah dan jihad, untuk menciptakan keberkahan bagi alam, manusia, dan kehidupan.

Hal ini akan termanifestasi dalam penerapan syariat Islam dan penjagaannya terhadap perkembangan teknologi. Jadi teknologi akan menjadi yang termaju dan terdepan, namun keberkahannya pun berlimpah menyebar, bukan sebagaimana kapitalisme demokrasi yang menjadikan teknologi seolah kutukan bagi generasi.

Jadi, suasana ilmu yang terkondisikan di dalam Khilafah akan menjadikan generasi fokus untuk meriset ilmu dan mengembangkannya semata-mata demi pengabdiannya kepada Allah SWT. Dia takkan menjadi generasi yang ditaklukkan oleh dunia digital, tapi generasi penakluk dunia digital.

Itulah kenapa kita semua harus melihat fakta ini dengan jelas. Mendudukan Islam dan kapitalisme sebagai ideologi yang bertentangan. Sehingga terang bagi kita mana yang haq dan mana yang batil, dan semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk istiqamah mewujudkan ideologi Islam itu dalam bingkai Khilafah melalui akivitas dakwah melibatkan seluruh elemen umat ini.

Jadi, jangan takjub dengan peradaban Barat. Tak usah terpesona dengan tipuan yang tak segaris dengan realitas. Kita sebagai Muslim memiliki role model peradaban gemilang yang anti kerusakan mental dalam Khilafah.[]

DISCLAIMERWww.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

One thought on “Tak Layak Jadi Rujukan, Amerika Serikat itu ‘Sakit’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.