Tak sekadar Mempertanyakan Kehalalan Vaksin

Tak sekadar Mempertanyakan Kehalalan Vaksin

Jadi bukanlah problem halal atau haramnya, karena itu sudah jelas dan memang segalanya terikat dengan syariat. Jika syariat membolehkan, kenapa kita mengharamkan? Namun lebih kepada aspek pengurusan negara kepada rakyat, pun tentang mentalitas negara yang selayaknya punya bargaining power mengedepankan konsep kesehatan Islam untuk dicontoh dunia.


Oleh: Nada Navisya

POJOKOPINI.COM — Seperti yang telah diketahui bahwasanya bagi umat Islam halal dan thayib dari suatu barang sangatlah penting karena ini merupakan perintah Allah dan bagian dari syariat Islam. Apalagi untuk yang akan dikonsumsi oleh tubuh nantinya.

Allah berfirman dalam surat Al maidah ayat 88 bahwa Allah telah memerintahkan pada manusia untuk makan makanan halal.
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْبِهِ مُؤْمِنُونَ
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada Nya.”

Namun dalam Islam jika kita tidak dapat menemukan makanan yang halal dan thayib padahal sudah mencari dengan sungguh-sungguh dan memang tidak ada pilihan lain (darurat) baru boleh kita memakan yang tidak halal. Hal ini bisa kita lihat dari firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 173

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّاللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Saat ini umat Islam sedang ‘galau’ dengan status vaksin covid19, meski sebenarnya syariat membolehkan dengan pertimbangan darurat, namun banyak pihak tetap was was, khawatir. Ragu.

Jika kita lihat, agaknya bukannya vaksin halal tak bisa dibuat, namun usaha yang dikerahkan untuk membuat vaksin halal yang belum optimal. Sebut saja Indonesia salah satu negara dengan mayoritas Muslim terbanyak di dunia, selayaknya negeri ini punya alasan terkuat untuk mempertahankan metode pengobatan halal dengan menjadi pionir pengembangan vaksin berstandar Islam. Namun faktanya justru nampak seperti lepas tangan dan lebih memilih untuk membeli dari negara kafir yang jelas standar mereka bukanlah halal dan haram.

Jadi bukanlah problem halal atau haramnya, karena itu sudah jelas dan memang segalanya terikat dengan syariat. Jika syariat membolehkan, kenapa kita mengharamkan? Namun lebih kepada aspek pengurusan negara kepada rakyat, pun tentang mentalitas negara yang selayaknya punya bargaining power mengedepankan konsep kesehatan Islam untuk dicontoh dunia.

Namun nampaknya jauh panggang dari api, penerapan sistem kesehatan Islam yang hebat itu hanya bisa sakti jika dia ditopang sistem Islam secara keseluruhan, kaffah. Sehingga mustahil kita berharap kegemilangan dunia kesehatan dalam sistem kesehatan Islam selama masih berada dalam sistem selain Islam.

Abainya penguasa negeri Muslim terhadap kesehatan umat dan upaya mereka untuk membebek kebijakan politik kesehatan ala kapitalisme adalah satu kezaliman nyata, itu justru menyebabkan konsep halal dan haram yang hakiki seolah hanya impian.

Hal ini semakin menunjukkan watak sesungguhnya dari ideologi kapitalisme yang tidak pernah mementingkan nyawa manusia. Dalam sistem ini hanya manfaat yang dilihat, pembuatan vaksin pun terselip di dalamnya ajang untuk memperoleh uang, karena kaum kapitalis global sangat tahu dunia membutuhkan vaksin sekarang ini.

Berbeda halnya dengan sistem Islam yang sudah nyata menyelesaikan masalah pandemi sesuai dengan syariat Islam, sebut saja pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab wilayah Syam terkena penyakit Tha’un yang sangat mematikan, bahkan virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Syam. Namun Umar menggunakan syariat sebagai solusi dari permasalahan ini dengan melihat petunjuk dari Nabi Muhammad Saw, yaitu lockdown dan mencari vaksin secepatnya untuk menyembuhkan kaum muslimin pada saat itu.

Tidak perlu berpikir panjang karena memang pemimpin dalam Islam wajib me-ri’ayah umat dengan sebaik-baiknya tanpa melihat ada atau tanpa manfaat. Begitulah pemimpin yang lahir dari Sistem Islam, sudah saatnya kita sadar dan kembali kepada Sistem Islam yakni Khilafah yang akan menyelesaikan permasalah umat sekarang ini.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *