Terapkan Islam Kaffah, KDRT Enyah

Terapkan Islam Kaffah, KDRT Enyah

Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dari KDRT Kementerian Perlindungan Perempuan dan Pemberdayaan Anak (P3A), Ali Khasan menyatakan kasus KDRT di provinsi Aceh cukup memprihatinkan. Per 12 April 2019, jumlah kasus KDRT di Aceh mencapai 95 kasus.


Oleh : Maryam Sikolo

WWW.POJOKOPINI.COM — Seorang istri, Sur (36) di Aceh Timur menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa 20 November 2019 akibat ditikam suami, KH (31). Pasangan muda ini terlibat perselisihan, suami kalap setelah menduga istrinya selingkuh, kemudian nekat menusuk istri sebanyak lima kali. Meski sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh namun nyawa si istri tak dapat tertolong. Korban sempat menyebutkan tuduhan itu datang karena KH sedang dalam pengaruh narkoba.

Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dari KDRT Kementerian Perlindungan Perempuan dan Pemberdayaan Anak (P3A), Ali Khasan menyatakan kasus KDRT di provinsi Aceh cukup memprihatinkan. Per 12 April 2019, jumlah kasus KDRT di Aceh mencapai 95 kasus. Trennya terus meningkat dari waktu ke waktu. Wakil Wali Kota Banda Aceh, Zainal Arifin mengatakan, salah satu penyebab tingginya KDRT adalah narkoba.

Setiap saat ada saja peristiwa mengenaskan yang menimpa keluarga di negeri ini. Kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga mewarnai pemberitaan sehari-hari. Kian hari kian ngeri. Fakta ini berbicara kepada kita bahwa ada yang salah dengan pengelolaan keluarga. Ibarat sebuah puzzle, banyak bagiannya telah hilang tercerai berai.

Fakta rapuhnya bangunan keluarga tak terbantahkan lagi. Disharmoni, persengketaan, penganiayaan yang berujung pada perceraian. Kehancuran keluarga ini berdampak luas terhadap keberlangsungan generasi. Keluarga telah kehilangan perannya untuk menanamkan nilai-nilai dasar. Para istri kehilangan fungsinya sebagai ummu wa rabbatul bayt, dan pada saat yang sama membebani mereka dengan tanggung jawab ekstra. Menuntut mereka untuk memikul finansial keluarga, hak anak-anak terampas. Lahirlah generasi terlantar, rapuh dan penuh masalah.

Kerapuhan keluarga ini tidak terjadi begitu saja. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor internal dan eksternal. Pertama, faktor internal disebabkan selama ini pernikahan dibina hanya dengan pemahaman agama sekadarnya, menjadikan perjalanan ini demikian miskin dari visi dan misi mewujudkan keluarga tangguh yang mampu melahirkan generasi tangguh. Islam menetapkan menikah sebagai sarana menyempurnakan ibadah, menggenapkan aqidah dan mewujudkan kasih sayang hingga terbina ikatan yang kokoh diantara mereka. Hal ini disebabkan struktur keluarga ditentukan oleh hukum syara` bukan semata-mata bentukan perasaan saja.

Sedangkan faktor eksternal adalah diadopsinya konsep Barat dalam membina pernikahan. Menikah sebagai sarana mendapatkan kesenangan jasadiyah, sehingga pernikahan lebih diutamakan sebagai fungsi seksual, reproduksi dan rekreasi. Ini tidak terlepas dari konsep berpikir pragmatis, menikah hanya untuk senang-senang sedang urusan tanggung jawab menjadi soalan nomor sekian. Cara pandang inilah yang menyebabkan gelombang permasalahan keluarga di Barat juga dialami oleh kaluarga muslim di berbagai negeri, termasuk di Aceh.

Nah, diantara konsep Barat yang diadopsi itu adalah ide feminisme, khususnya kesetaraan gender. Ide ini mengacaukan peran suami istri dalam pernikahan. Keduanya saling berebut peran dan bersaing mengambil fungsi kepemimpinan dalam keluarga. Raiblah konsep taat pada suami, tergeruslah peran keibuan karena si istri ikut berjibaku mengumpul materi hingga menaikkan gengsinya melampaui wibawa suami. Gempuran budaya hedonis yang melanda dunia tak ayal menuntut kemewahan hidup sebagai sebuah kebutuhan. Demi memenuhi semua tuntutan itu, ketahanan keluargapun dikorbankan.

Tren perceraian dan KDRT tidak hanya berdampak pada kehancuran keluarga namun juga berefek pada keengganan para lajang untuk menikah. Kapitalisme yang menjadi sistem kehidupan saat ini bersama feminisme telah menyebabkan pelaminan tak lagi menawan. Kaum hawa justru nyaman dalam kesendirian dan fokus mengejar materi. Menikah justru dipandang akan mengganjal eksistensi diri. Kegagalan pernikahan orang lain juga mampu meninggalkan trauma bagi mereka untuk bersegera meraih mitsaqan ghalidzan.

Kapitalisme yang dibina diatas azas sekulerisme meniscayakan pergaulan bebas. Perselingkuhan menjadi salah satu penyebab utama perceraian dan KDRT disamping himpitan ekonomi dan disharmonisasi. Konon lagi ketika narkoba telah mengambil tempat dalam pernikahan, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.

Sejalan dengan fakta ini, pemerintah telah menggulirkan wacana sertifikasi pernikahan. Kurangnya ilmu dan informasi mengenai pernikahan didapuk menjadi kambing hitam penyebab timbulnya masalah dalam perkawinan. Melalui sertifikasi dan bimbingan pranikah di klaim akan menjadi bekal dalam aspek keagamaan hingga kesehatan termasuk pemahaman masalah gizi dan stunting anak bagi pasangan calon pengantin.

Tentu saja semua ini bukan solusi, justru sertifikasi menjadi polemik baru di tengah masyarakat. Sebagaimana yang kita pahami bahwa sertifikasi bukanlah salah satu rukun nikah, bukan pula syarat sahnya pernikahan. Maka, ketika sertifikasi dijadikan syarat sah untuk menikah tentu ini tidak sejalan dengan ketentuan syariat.

Demikian pula masalah stunting, ia hadir karena absennya pemerintah dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Kapitalisme menjadikan kebutuhan pokok bermutu tak terjangkau rakyat karena mahal harga yang harus dibayar. Wajar jika masalah stunting semakin meluas dan menjadi masalah nasional yang membutuhkan solusi kongkrit untuk di tuntaskan.

Pernikahan dini yang dikhawatirkan angkanya juga tak ada hubungannya dengan penyuluhan kesehatan reproduksi. Pernikahan dini justru disebabkan tingginya angka kehamilan tidak diinginkan yang merupakan buah dari pergaulan bebas. Banyak generasi muda yang terjerumus justru karena jauh dari pemahaman agama. Negara malah memberikan kemudahan bagi mereka untuk mengakses konten berbau pornografi dan pornoaksi melalui berbagai tontonan yang sarat nilai liberalisme dan permisivisme.

Islam telah membangun peradaban dunia selama 1300 tahun dengan dukungan keluarga-keluarga tangguh. Keluarga merupakan pilar pembentuk masyarakat ideal yang melahirkan keturunan shalih. Ketahanan keluarga akan memberi pengaruh bagi pembentukan peradaban dunia. Karena di dalam keluarga inilah dibina pelanjut estafet kepemimpinan dari generasi ke generasi.

Rasulullah SAW meninggalkan role model bagi tumbuh kembang keluarga muslim. Ia menjadi panutan sebagai ayah yang baik bagi anak-anaknya, suami yang baik dan bertanggung jawab bagi istri-istrinya. Semua istri beliau adalah panutan sebagai ibu dan istri yang baik pula. Mereka menjalankan perannya sebagai Ibu dan istri tanpa meninggalkan perannya sebagai agen perubahan sosial di dalam masyarakat. Mereka menjalankan fungsi ganda sebagai fulltime mother sekaligus agent of change. Inilah gambaran keluarga yang saling mendukung dalam kebaikan, saling mengokohkan dalam ketaatan kepada Allah.

Profil keluarga syurga juga dimiliki oleh keluarga Yasir bin Amir bin Malik, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ia bersama istrinya Sumayyah binti Khutbah r.a dan anakya, Ammar bin Yasir termasuk dalam keluarga pejuang Islam. Kisah mereka bukanlah romantika masa lalu yang terkubur bersama runtuhnya peradaban emas itu 95 tahun lalu. Profil keluarga tangguh adalah warisan yang sangat berharga bagi kita untuk meletakkan asa, mengumpulkan keberanian dan memetakan langkah, menjadi penjemput kembalinya peradaban agung yang dijanjikan Allah.

Maka syarat utama agar terbebas dari lingkaran kerapuhan keluarga adalah membina keluarga dengan landasan takwa. Setiap anggota keluarga menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh Allah, semata-mata untuk mengharap keridhaan Allah. Halal haram menjadi tolak ukur perbuatan, bukan syahwat dan hawa nafsu. Perintah Allah disegerakan pelaksanaannya dan larangan-Nya ditinggalkan sepenuhnya.

Amar Ma`ruf senatiasa digalakkan sehingga kontrol masyarakat hidup dan berjalan. Kesadaran untuk memahami Islam ditumbuh suburkan agar timbul kesadaran kolektif untuk menjadikan Islam sebagai rujukan berbagai permasalahan termasuk permasalahan politik dan pemerintahan. Masyarakat akan memiliki pemahaman yang utuh tentang bahaya peradaban Barat dan konspirasinya terhadap Islam. Sehingga meraka mampu mengantisipasi bahaya nilai-nilai tersebut terhadap keluarga muslim seperti feminisme, liberalisme berikut seluruh ide turunannya.

Secara sistem, karena kehancuran keluarga, termasuk faktor pemicu timbulnya KDRT adalah masalah sistemik akibat penerapan kapitalisme, maka membendungnya haruslah melalui sistem pula. Yaitu mengganti sistem rusak ini dengan menerapkan Islam Kaffah. Sistem ekonomi Islam dengan mekanisme revolusioner akan menghapus sengkerut problematika ekonomi yang membelit keluarga muslim, menciptakan lapangan kerja bagi laki-laki dan memberikan pelayanan publik yang menjadi hak rakyat. Negara akan memenuhi kebutuhan dasar rakyat berupa kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan dan keamanan.

Melalui sistem pergaulan sosial, Islam mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan dengan rinci. Rambu-rambu pergaulan dihidupkan. Negara akan mewajibkan setiap orang menutup auratnya, menundukkan pandangan, melarang khalwat dan ikhtilath, melarang safar bagi wanita tanpa mahram. Interaksi laki-laki dan perempuan dijalankan dengan konsep keimanan.

Jikapun terjadi pelanggaran, maka sistem sanksi diberlakukan. Sistem ini akan menjadi penebus dosa dan pemberi efek jera. Dengan sistem inilah ketahanan keluarga muslim terjaga dan kehormatan kaum muslimin terselamatkan. Hingga lahirlah keluarga-keluarga tangguh yang akan menyusun kembali peradaban gemilang.

Ya Allah, tumbuhkanlah kasih sayang diantara kami. Tingkatkanlah keharmonisan keluarga kami, panggillah kami kelak di akhirat dengan panggilan : “Masuklah kalian dan istri kalian kedalam Syurga ! Disana kalian digembirakan.”[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *