Tiga Krisis, tak hanya Ekonomi dan Kesehatan

Tiga Krisis, tak hanya Ekonomi dan Kesehatan

Dia dipersepsikan hebat oleh media. Dicitra positif memunculkan kekaguman dan kepercayaan. Padahal dia tak merujuk Islam sebagai sistem aturan sehingga mampu menjadikannya adil dan menyejahterakan manusia. Dia bodoh karena hal itu, dia dungu karena mencampakkan Islam.


Oleh: Cut Putri Cory

POJOKOPINI.COM — Tak boleh keluar rumah, berdiri di jendela pun harus curi-curi, dilarang membuka pintu dan menyambut tamu, segala yang terkait pintu dan barang-barang atau orang yang melewatinya harus melewati sensor suamiku. Semua dia yang melakukan. Mulai menjemur kain, angkat kain, kebutuhan perut dan rumah, semua aktivitas di luar rumah diborongnya tanpa bersisa untuk kami.

Di awal memang berat menjalaninya, terutama bagi anak-anak yang memang hari-harinya adalah bermain di luar rumah. Mereka sekarang tak lagi bisa bermain di luar. Tak salat di mesjid, dan tak bisa berlari mengantri untuk mencium tangan Habib Baghir.

Tak cuma mereka, saya pun begitu. Pasar sekarang jadi terasa sangat jauh, tak terjangkau. Aktivitas kajian tatap muka diganti dengan online bertemu di dunia maya. Sempat terbesit dalam benak betapa nikmat duduk melingkar di depan ustazah, melahap ilmu dan membawa pulang untuk diskusi dengan anak-anak. Tapi apa daya, saat ini kami sedang di-lockdown oleh penguasa rumah ini, suamiku.

Ini ikhtiar kita, kita berlindung kepada Allah.” Begitulah dia, “Kita harus ketat, ini masa krisis.” Dia meyakinkan seisi rumah bahwa saat ini dunia tidak dalam kondisi baik-baik saja, dunia sedang didera krisis kesehatan karena pandemi Covid-19, dan krisis ekonomi yang melibas semua sektor seolah tak memberi ampun. Dia membuat kami paham bahwa saat ini kita harus lebih mengirit makanan dan pemakaian listrik. Sering berpuasa sejak Syakban dan tak ada lampu yang menyala saat masuk waktu tidur, selesai tarawih. Meskipun hanya lampu teras, mati.

Dari apa yang terjadi, saya menalar tentang satu krisis lain yang hari ini mendera dunia. Krisis ini menyebabkan manusia begitu banyak terpapar virus Corona, pun krisis ini juga tak tertolak mematikan mata pencarian banyak manusia. Memiskinkan. Krisis yang satu ini fatal akibatnya. Krisis yang inilah yang menjadi sebab terjadinya krisis yang dua, yaitu kesehatan dan ekonomi. Ini krisis kepemimpinan.

Saya merekonstruksi apa yang dilakukan suami saya adalah upaya dia sebagai pemimpin untuk menjaga kami rakyatnya dari bahaya. Dia memahamkan tentang dalil Syara’ yang menjelaskan karantina atau phisical distance. Dia membatasi pergerakan kami, manusia di bawah kepemimpinannya. Di sisi lain, dia tak membiarkan kami kelaparan.

Jika sejak kemunculan wabah ini di Wuhan, negara-negara di dunia melakukan pembatasan pergerakan manusia dari dan ke tempat wabah, sebagaimana dicontohkan Nabi dan para Khalifah setelahnya, pasti wabah ini takkan sekuat sekarang. Namun apa daya, yang terjadi justru peremehan dan membuka pintu rumah lebar-lebar kepada siapapun.

Saat sudah menjadi pandemi dan menggerogoti manusia di bawah kepemimpinannya, barulah dia panik karena tak ada persiapan. Bingung. Kalut. Panik. Dari situ muncul kebijakan absurd yang justru menambah masalah baru. Misalnya, membuat pernyataan menyakitkan dengan meremehkan jumlah korban yang saat itu dianggapnya baru sedikit, menambah utang riba dan menggelontorkan ratusan triliun untuk penyelamatan ekonomi di tengah banyaknya tenaga kesehatan yang kekurangan alat pengaman diri.

Ada juga imbauan kepada masyarakat untuk tidak keluar. Kalau level penguasa cuma mengimbau, apalagi di sisi lain rakyat terdesak kelaparan, mana mungkin imbauan itu didengarkan. Tapi di sisi lain wajar saja cuma mengimbau, toh dia tak mau menanggung biaya hidup rakyatnya, anjuran saja cukup, yang kuat secara ekonomi, di rumah saja. Hal ini berbeda dengan mereka para buruh yang digaji harian, pas-pasan buat makan hari itu. Alhasil imbauan pun masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Aktivitas manusia sangat susah untuk dibendung karena yang terjadi adalah krisis kepemimpinan.

Ada lagi momen lempar handuk. Perhatikan bagaimana Trump buang badan menyalahkan WHO, bahkan mengancam dengan penghentian pendanaan terhadap organisasi kesehatan dunia itu. Dia menuding WHO main mata dengan Cina, kurang transparan dan banyak disinformasi sehingga AS kini terlihat ‘mabuk’ menghadapi serangan wabah.

Padahal apa yang dilakukan Trump justru menampakkan kapabilitas kepemimpinannya yang memprihatinkan, jauh di bawah standar. Tak layak AS mengaku sebagai polisi dunia. Kepemimpinannya yang ceroboh lagi arogan sedang dipertontonkan kepada warga dunia.

Krisis kepemimpinan melanda dunia. Tak ada satupun pemimpin di dunia yang hari ini dengan sistem kapitalisme demokrasinya mampu menyembuhkan planet bumi. Kepemimpinan yang ada saat ini sangat lemah, bahkan menimbulkan masalah baru.

Pemimpin buruk lahir dari sistem rusak. Kapitalisme demokrasi yang hari ini dipaksakan sebagai pengatur urusan manusia semakin menampakkan kecacatannya. Sudahlah dia tak punya konsep dan mekanisme yang kuat dalam menyelesaikan wabah, dia diperparah dengan kapabilitas kepemimpinan pelaksana sistem yang inkompeten.

Inilah bencana yang lebih besar, hilangnya kepemimpinan. Krisis kepemimpinan. Orang bodoh dielu-elukan, diberi kekuasaan untuk memimpin dengan hawa nafsu. Perhatikan sabda Baginda Nabi, “Aku mengkhawatirkan atas diri kalian enam perkara yaitu (salah satunya, red.): kepemimpinan orang-orang bodoh/dungu…” (HR Ahmad dan ath-Thabarani).

Dia dipersepsikan hebat oleh media. Dicitra positif memunculkan kekaguman dan kepercayaan. Padahal dia tak merujuk Islam sebagai sistem aturan sehingga mampu menjadikannya adil dan menyejahterakan manusia. Dia bodoh karena hal itu, dia dungu karena mencampakkan Islam.

Alhasil, jika setiap individu melakukan lockdown mandiri kepada keluarganya sendiri, namun negara justru melakukan sebaliknya, maka sampai kapan keluarga-keluarga ini bisa bertahan? Hari ini semua manusia harus bangkit mewujudkan kepemimpinan Islam yang kuat, Islam adalah sistem, dan kepemimpinan di dalam Islam tak hanya diatur untuk menyelamatkan orang Islam saja.

Islam adalah sistem sempurna dan menyeluruh, menyentuh semua aspek hidup termasuk mengatasi wabah, juga menciptakan kepemimpinan adil dan punya kapasitas dalam memimpin. Mekanisme Islam mengeluarkan manusia dari wabah hanya bisa diterapkan oleh kepemimpinan Syar’i itu, menjamin perut manusia dan memberinya rasa aman. Kepemimpinan itu disebut Khilafah. Itulah solusi untuk manusia hari ini, solusi untuk planet bumi.

Khalifah yang akan memimpin Khilafah, melindungi semua manusia yang berada di dalam naungannya dengan syariat Islam. Menjaganya dari ancaman, dan melindunginya dari bahaya yang nampak maupun yang tidak. Islam akan hidup sebagai problem solver jika kepemimpinan Islam terwujud. Semua manusia akan merasakan berkah kepemimpinannya. Hal itu mustahil terwujud dalam sistem kapitalisme yang sudah secara diametral bertentangan dengan Islam. Khilafah adalah kepemimpinan Islam untuk manusia. Jadi, kita mau berjuang bersama, kan?[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *