Tikus Berdasi, Sang Pengkhianat Bumi Pertiwi

Pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) yang merupakan asas dari sistem kapitalisme telah berhasil menanggalkan jiwa seorang pemimpin sejati, dan justru menjadikan pemimpin sebagai tikus berdasi.


Oleh: Afnida Selvia Gultom S.Si

POJOKOPINI.COM — Sungguh malang nian nasibmu bumi pertiwi, Indonesia tercinta. Konon katanya, ini adalah negeri yang kaya akan sumber daya alamnya. Bagaimana tidak, sebab negeri ini punya gunung emas walau kini telah menjadi lembah, negeri ini juga kaya akan hasil lautnya, bahkan tanahnya juga sangat subur, cocok untuk bertani dan berkebun. Bila kita melihat dan merenungi kondisi alam yang indah permai ini, tentu kita beranggapan: harusnya negeri ini “Baik-baik saja”, namun apa nyatanya? Justru jauh dari harapan. Lihat saja berbagai segmen, semisal pendidikan, keamanan, lingkungan, dan ekonominya menunjukkan keadaan yang sedang “tidak baik-baik saja”. Benar bukan?

Terlebih lagi, dengan kondisi saat ini, pandemi menyerang bumi tak mengenal etnis tertentu, sebab siapapun dapat menjadi sarang termasuk bumi pertiwi. Kondisi ini semakin membingungkan rakyatnya, sebab adanya pembatasan sosial berdampak pada menurunnya pendapatan para pedagang, minimnya daya beli, terjadi PHK besar-besaran, dan lain sebagainya, menjadikan masyarakat semakin terpuruk.

Besar harapan dari masyarakat akan tindakan yang tulus dari para pemimpinnya untuk mengatasi masalah ini secara baik, mengobati luka, menghapus air mata, meredakan rintihan yang memilukan penghuni negeri dari kota metropolitan hingga pedesaan. Namun apa? Bumi pertiwi justru dikhianati oleh para tikus berdasi.

Para memimpin yang harusnya berperan sebagai pelayan rakyat, mewujudkan kesejahteraan, kini justru menampakkan wajah sebagai koruptor. Penderitaan belum usai, bahkan semakin mendalam, saat dana Bansos juga menjadi sasaran empuk para tikus berdasi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar dugaan korupsi dalam bantuan sosial (Bansos) Covid-19 di Kementerian Sosial (Kemensos). Menteri Sosial Juliari Peter Batubara bahkan turut ditetapkan sebagai tersangka. Dia diduga menerima fee dengan total Rp17 miliar dari potongan Rp10 ribu per paket sembako (Merdeka.com, 11/12/2020).

Inilah potret yang nyata dalam sistem kapitalisme yang tengah mencengkram bumi pertiwi. Pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) yang merupakan asas dari sistem kapitalisme telah berhasil menanggalkan jiwa seorang pemimpin sejati, dan justru menjadikan pemimpin sebagai tikus berdasi. Ketiadaan Iman yang sempurna menjadikan manusia haus akan kesenangan dunia, sehingga rela melakukan apapun walaupun menghianati rakyatnya sendiri.

Apakah pemimpin ada, untuk mengkhianati rakyatnya? Bila demikian, untuk apa para pemimpin yang memiliki kekuasaan tersebut berada di kursi empuknya? Keberadaannya justru membuat rakyat semakin sengsara. Bukankah harusnya para pemimpin sebagai orang yang terdepan dalam mengurusi rakyatnya.

Maka, sudah saatnya kita berbenah, mencari akar masalah yang sesungguhnya. Sudah berkali-kali terjadi pergantian pemimpin, namun tak ada perubahan dalam tatanan kehidupan. Maka, persoalan utama tentu bukan bergantung siapa pemimpinnya, melainkan sistem apa yang tengah diterapkan. Demokrasi kapitalis sudah menunjukkan ketidakmampuannya lagi membendung masalah, bahkan menjadi akar masalah yang sesungguhnya.

Semoga dengan silih bergantinya masalah yang menimpa bumi pertiwi, mampu menyadarkan masyarakat bahwa kita harus kembali pada pengaturan yang sesuai dengan aturan dari Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Hanya Allah yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk ciptaanNya. Maka Allah mengutus Nabi Muhammad Saw sebagai suri tauladan, agar umat manusia tidak tersesat dalam menjalani hidup sebagai seorang hamba yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir.

Teruntuk bumi pertiwi nan dicintai, pasti segera membaik jika kembali pada aturan Sang Ilahi. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *