Tokoh ‘Terpapar Radiasi Radikal’ : Pancasila Itu Gak Ada

Tokoh ‘Terpapar Radiasi Radikal’ : Pancasila Itu Gak Ada

“Pertanyaan saya sekarang, Pancasila itu ada nggak sih? Bagi saya sekarang, Pancasila itu nggak ada

Oleh : Maulana Jati

WWW.POJOKOPINI.COM — “Pertanyaan saya sekarang, Pancasila itu ada nggak sih? Bagi saya sekarang, Pancasila itu nggak ada. Bagi saya nggak ada, jujur. Yang ada itu gambar burung garuda pancasila dan teks Pancasila Siapa yang mau anti sama sesuatu yang nggak ada?”

inilah kutipan yang sedang viral di media. Kicauan dari seorang Sujiwo Tejo terkait Pancasila, sungguh mengkritik keberadaan pancasila yang hanya ada dalam tulisan dan simbol garudanya. Saya sangat tidak bisa membayangkan jika yang menyatakan hal tersebut adalah anggota ormas Islam. Wah… Pasti disemua saluran TV dan Media nasional akan tayang sinetron radikal radikul dengan plot utamanya cerita terkait makar, radikal, teroris, kehancuran bangsa dan mungkin cerita kudeta.

Sehingga dalam pernyataan Tejo tersebut sebenarnya tidak ada yang namannya ormas anti pancasila, pemikiran bertentangan dengan Pancasila, karena memang Pancasila itu tidak ada realitasnya. Ini kayaknya presiden jancukers ini terpapar radiasi radikal bebas ya.

Kritik Tejo sebelumnya juga terlihat ketika muncul Puisi yang berjudul ‘Mari Kita tak hafal Pancasila’ pada tahun 2016. Kemudian puisi ini ramai kembali pada tanggal 1 Juni tahun 2017, ketika Jokowi menetapkan hari tersebut sebagai hari libur nasional untuk memperingati hari lahirnya Pancasila.

Peringatannya bukan hanya sehari, tapi dibuat sepekan, sebagai Pekan Pancasila. Bahkan pada saat itu, Presiden Jokowi pun mencanangkan sebuah gerakan dan membuat Perpres khusus sebagai dasar terbentuknya Unit Kerja Pembinaan Ideologi Pancasila, dibarengi beredarnya video dan hestek #SayaIndonesia #SayaPancasila.

Puisi yang viral kembali pada tahun 2017 tersebut memukul telak dan menyentak kesadaran anak negeri yang selama ini kerap mengklaim diri paling Pancasilais dan paling NKRI seolah telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila tersebut.

Dan betul saja banyak tokoh-tokoh yang menyatakan Saya Pancasila, Saya Indonesia dan paling NKRI itu terjerat korupsi dan masuk penjara, kemudian viral lah quotes Saya Pancasila Saya Indonesia Saya Koruptor.

Dan gilanya mereka ini terus menuduh para pejuang Islam dengan narasi Radikalisme, dan seolah-olah kaum muslimin akan terjebak dengan istilah ini lalu tidak bisa bergerak dan beropini. Justru narasi ini semakin dimainkan semakin menjadi sebuah lelucon. Kita sekarang mengenal istilah radikal radikul, radikal bebas, radiasi radikal, terpapar radikal, diboncengi HTI dll untuk dijadikan lelucon.

Ingat lo.. Pancasila itu pemikiran yang terbuka dan bisa berubah karena zaman. Dulu ketika zaman Sukarno, Pancasila agak condong ke kiri dan pada zaman Suharto sampai sekarang agak condong ke kapitalisme liberal. Dan kedepan boleh lah Pancasila ini kedepan condong kepada Islam.

Bukan kah di dalam perumusan pancasila awal atau di dalam piagam jakarta pada sila satunya adalah ‘Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja.’ Islam Itu sudah bagian dari sejarah bangsa ini, Islam juga lah yang memerdekakan negeri ini dengan Jihadnya. Masa sudah merdeka Islamnya dibuang dan dituduh-tuduh radikal. Tahu malu kah… Padahal daripada hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *