Tsaqafah Ibu dan Felix-phobia

Tsaqafah Ibu dan Felix-phobia

Dengan tsaqafah, Ibu membuat pola bagi tumbuh kembang generasi. Ibu adalah propaganda putih yang mengonstruksi teori menjadi realita, dia mengejawantahkan rasa dan logika menjadi sebuah persepsi tentang cara hidup. Sangat strategis, dia berperan penting untuk peradaban manusia. Pantaslah Islam begitu memuliakan perannya.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Sepuluh tahun yang lalu, saya menidurkan Farhan kecil dalam ayunan sambil membacakan buku bersampul kuning itu, yang hari ini dipersekusi sebagai ‘buku radikal’. Buku itu mengantarnya tidur, dibacakan seperti orang yang sedang berorasi. Saya ingat sekali, bocah itu tumbuh dengan kisah heroik Muhammad Al Fatih.

Buku kuning Muhammad Al Fatih 1453 itu juga yang menginspirasi saya untuk mendidik anak-anak yang Allah titipkan lahir dari rahim ini, membentuk visi dalam mendidik dan melakukan framing terhadap generasi untuk mempunyai visi besar demi agama. Senantiasa menjaga diri dalam ketaatan kepada Allah, dekat dengan ulama, mencintai ilmu agama, sejarah, geografi, dan bahasa.

Buku Muhammad Al-Fatih1453 ditulis oleh Felix Y. Siauw (Cetakan lama bersampul kuning)

Dari buku itu juga saya kenal tokoh yang tak pernah didengar pun namanya sebelumnya, memahami bahwa Islam punya Super Hero yang nyata. Dialah Muhammad Al Fatih penakluk Konstantinopel.

Namun agaknya hari ini kita ‘terhalang’ untuk mengenalkan Sang Super Hero tersebab virus islamofobia akut melanda negeri ini. Jadi jangan dengarkan seseorang karena dia dipersepsi buruk, dilabel radikal, maka segala darinya adalah ‘bom’ yang merupakan ancaman dan berbahaya. Padahal itu semua adalah fitnah keji yang lahir dari kedengkian.

Felix-phobia, ini yang seolah menjadi noise penghambat informasi emas tentang Muhammad Al Fatih kepada generasi. Padahal buku itu adalah buku emas, berharga dan sungguh mampu membentuk karakter takwa. Namun apa daya jika stigma ‘segala yang dari Felix Siauw itu radikal’ tersebab apa yang diperjuangkannya.

Sebagai Ibu, kita patut punya nalar kritis, tak boleh lekang dari akal kita bahwa segala yang terjadi hari ini membentuk pola yang khas dan sama yaitu tentang keberpihakan. Allah sedang mengajari kita untuk mengenalli siapa yang berada di pihak kita dalam mendidik generasi penjemput bisyarah (kabar gembira) dari Allah dan Rasul-Nya, pembebasan yang belum digenapkan oleh Al Fatih yaitu penaklukan kota Roma. Kabar gembira ini tersabda melalui lisan Nabiyullah Muhammad Saw, ini janji yang pasti akan ditepati Allah.

Mendidik itu Perlu Tsaqafah

Pasti tak ada yang berani protes saat dikatakan bahwa mendidik tanpa ilmu itu fatal. Apalagi di tengah momen belajar daring seperti sekarang, saat generasi dipulangkan ke pangkuan ibu untuk dididik dengan tangan mulianya. Kali ini kita benar-benar tak bisa mendelegasikan kepada siapapun, kitalah pemegang kunci.

Jika bukan karena kekuatan dari Allah, maka menjalani tugas sebagai Ibu itu bukanlah perkara mudah. Menjadi Ibu adalah proses panjang menuju kesempurnaan, salah-benarnya dijawab fakta, meski adakalanya kita bersalah, namun trial-error menyisakan hikmah. Inilah kita perlu tsaqafah.

Ibu adalah sekolah tentang kehidupan, bagaimana membentuk manusia, dan melestarikan kebaikan di dunia. Ibu mendidik dengan tsaqafah yang dimilikinya, dia memupuk kebaikan atau keburukan, lalu dibawa generasi sepanjang hayat.

Ibu harus punya tsaqafah Islam yang mumpuni untuk cita-cita generasi hebat di masa depan. Ibu tak boleh kosong dari pemahaman dan keilmuwan Islam, karena dengan itulah dia memimpin generasinya. Dari tsaqafah itu, Ibu akan memupuk mentalitas pantang menyerah, bersabar meski terjatuh berkali-kali, bervisi dalam mendidik, pun tak lekang darinya sifat fitrahnya yang menyayangi. Sehingga merupakan keharusan bagi ibu untuk menjadi literat dan mengarahkan generasinya dengan informasi-informasi islami seperti di buku-buku yang memuat tsaqafah.

Dengan tsaqafah, Ibu membuat pola bagi tumbuh kembang generasi. Ibu adalah propaganda putih yang mengonstruksi teori menjadi realita, dia mengejawantahkan rasa dan logika menjadi sebuah persepsi tentang cara hidup. Sangat strategis, dia berperan penting untuk peradaban manusia. Pantaslah Islam begitu memuliakan perannya.

Ibu Pegang Peranan

Di dalam Islam, kaum Ibu dijamin kehormatan dan kemuliaannya. Telah bersiaga seperangkat sistem yang menjadi imunitas bagi para Ibu dari segala yang mengancamnya saat ini. Pelecehan, terluka batinnya, pemberdayaan ekonomi yang melelahkan, pemikiran feminisme yang sesat menyesatkan, pun ancaman fisik kekerasan dalam dunia kerja maupun di dalam rumah, semua itu adalah ekses dari penerapan sistem kapitalisme sekuler.

Sistem ini tak hanya merobek-robek kemuliaan kaum Ibu, tapi juga menghancurkan generasi. Kapitalisme sekulerlah yang menjadi tersangka utama krisis identitas yang dialami generasi. Generasi dikondisikan untuk jauh dari identitas keislamannya, membebek peradaban asing yang hina. Dan semua itu diamini oleh negara yang selayaknya menjadi benteng penjaga terkuat.

Alhasil kita memahami apa yang menjadi tantangan berat kaum Ibu hari ini. Sistem, ini problem sistemik. Kita saat ini sedang berhadap-hadapan dengan sistem yang kontras bertentangan dengan visi pendidikan Islam yang kita pupuk bagi generasi.

Namun justru di sinilah titik strategisnya, Ibu harus berperan aktif sebagai “senjata” pendobrak peradaban Kufur, dengan anak-anak hasil didikannya sebagai selongsong pembersih umat dari segala yang menghinakannya. Ibu, melalui aktivitas dakwahnya kepada generasinya dan umat ini, melakukan rekonstruksi identitas terhadap generasi. Mengembalikannya kepada tempat duduk mulianya yang khas bercorak Islam.

Kalau buku itu ‘terlarang’ oleh Sang Durhaka yang enggan membentuk pola hamba bertakwa dalam diri generasi, ingatlah bahwa kuncinya ada pada kita. Kitalah yang punya peran itu. Ambil buku kuning itu, bacakan, Bu![]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *