Tsunami Krisis di Tengah Pandemi

Tsunami Krisis di Tengah Pandemi

Semua krisis ini tak akan terjadi jika saja pengelolaan negara mengikuti aturan Illahi, seperti yang telah dicontohkan Nabi saw dan para khalifah setelah beliau. Bukan aturan rusak yang bersandarkan kepada akal manusia. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus akui. Tsunami krisis terbesar yang dialami negeri saat ini adalah krisis kepemimpinan.


Oleh: Irma Sari Rahayu, S. Pi

POJOKOPINI.COM — Sebulan sudah pandemi Covid- 19 menghantam negeri. Hingga hari Jumat, 10 April 2020, jumlah positif Covid-19 mencapai 3512 orang dan sebanyak 326 orang meninggal dunia (CNBCnews.com). Anjuran physical distancing dan penggunaan masker masih tetap terus diserukan pemerintah untuk mencegah bertambahnya korban. Sementara kebijakan demi kebijakan dikeluarkan untuk menanggulangi Covid-19, yang terbaru adalah diadakannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Tak ada yang dapat mengetahui secara pasti kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Para ahli dari UI, UGM, ITB dan UNS memprediksi, wabah ini akan berakhir di akhir Mei atau awal bulan Juni 2020 (sehatq.com/6/4/2020). Namun yang pasti, kondisi ini tak lepas dari Qadha (ketetapan) Allah SWT yang harus diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

Waspadai Tsunami Krisis

Pandemi Covid-19 tak dapat dipandang remeh. Terbukti dari terus bertambahnya jumlah korban yang berjatuhan. Menyisakan kengerian dan kecemasan masyarakat. Namun, di tengah kewaspadaan akan serangan Covid-19, harus diwaspadai tsunami krisis yang muncul dan tak kalah mengerikan.

Tak dapat disangkal, dampak dari pandemi Covid-19 adalah krisis ekonomi yang menimpa negara. Tak hanya di Indonesia, di negara-negara lain yang terdampak pun mengalaminya. IMF sendiri menyatakan pandemi Corona telah berubah menjadi krisis ekonomi global.

Seperti dikutip dari detik.com (28/3/2020), Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Lesetja Kganyago dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva mengatakan:

Kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana pandemi kesehatan global telah berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan. Dengan penghentian mendadak dalam kegiatan ekonomi, output global akan berkontraksi pada tahun 2020.

Tak berbeda jauh dengan apa yang dialami di tanah air. Adanya himbauan social dan physical distancing dengan gerakan #StayAtHome membuat gerak perekonomian melambat. Di Jawa Barat, 40.433 orang dirumahkan dan 3.030 lainnya dirumahkan akibat perlambatan bisnis di tengah pandemi Covid-19. Menurut Kepala Disnakertrans Jabar, Ade Ariandi, perusahaan terdampak mengaku terjadi penurunan produktivitas karena kesulitan bahan baku, penurunan dan pembatalan order, kesulitan pendistribusian, kesulitan spare part mesin produksi hingga penurunan omzet (CNNIndonesia.com/4/4/2020).

Nasib tragis juga dialami oleh supir Ojol, angkot, taxi online maupun transportasi umum lainnya. Adanya kebijakan work from home untuk para pekerja dan school from home untuk pelajar dan mahasiswa, membuat pendapatan mereka terhempas. Karena mayoritas pengguna Ojol, angkutan umum maupun taxi adalah pekerja dan pelajar.

Krisis lain yang muncul di saat pandemi adalah krisis psikis. Kondisi ini terjadi karena ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi pandemi. “Panic buying” adalah realita krisis psikis yang terjadi. Aksi borong masker, hand sanitizer hingga sembako sempat terjadi di awal pandemi.

Masyarakat pun mulai dihinggapi rasa depresi. Kondisi stres dialami oleh ibu dan anak-anak saat harus menghadapi program home learning. Tugas yang menumpuk dari sekolah tak ayal membuat kaum ibu frustasi. Rasa bosan akibat berdiam diri di rumah untuk waktu yang lama mulai menghinggapi warga. Belum lagi rasa depresi akibat berkurangnya keuangan keluarga. Karena tak dapat membayar cicilan kendaraan yang digunakan untuk taksi online, seorang kepala rumah tangga memilih bunuh diri (CNNIndonesia.com/20/3/2020).

Sikap dalam Menghadapi Wabah

Apa yang terjadi saat ini adalah sebuah musibah yang dapat dihindari oleh manusia. Tidaklah patut kita mengutuk dan mencaci apa yang sudah terjadi. Sebaik-baik mukmin dalam menghadapi musibah adalah ikhlas, bersabar dan bertawakal kepada-Nya. Rasulullah saw bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR: Muslim).

Selain bersabar, ikhtiar terbaik tentu harus dilakukan baik skala individu maupun negara. Physical distancing masih dapat dilakukan oleh individu masyarakat untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Namun negara juga harus melakukan upaya terbaik. Menyediakan vaksin, melakukan tes massal untuk mendeteksi apakah seseorang positif Covid-19 atau tidak, mengisolasi dan memberikan tindakan medis terbaik bagi yang sakit dan mengkarantina wilayah yang sehat, tentu dengan tetap menjamin semua kebutuhan hidupnya.

Semua krisis ini tak akan terjadi jika saja pengelolaan negara mengikuti aturan Illahi, seperti yang telah dicontohkan Nabi saw dan para khalifah setelah beliau. Bukan aturan rusak yang bersandarkan kepada akal manusia. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus akui. Tsunami krisis terbesar yang dialami negeri saat ini adalah krisis kepemimpinan.

Andai saja, pemimpin bertindak sigap dan cepat dalam penanganan pandemi, niscaya tsunami krisis yang terjadi dapat segera teratasi.[]

Picture source: Investing.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *